“Memanusiakan” Kembali Wartawan Pascabencana

0
74

PALU, beritapalu | Puluhan wartawan dari berbagai media berkumpul di salah satu Guest House di Jalan Emmy Saelan Palu, Rabu (21/11/2018).

Sejumlah wartawan terdampak bencana mengikuti konseling di Palu, Sulawesi Tengah, Rabu (21/11/2018). Konseling yang dilaksanakanan atas kerjasama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu dan Yayasan Pulih itu diikuti 60 wartawan dari berbagai media yang dimaksudkan untuk mengurangi dampak psikis bencana. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Wartawan-wartawan itu adalah mereka yang juga menjadi “korban” dalam bencana gempa bumi, likuifaksi, dan tsunami di Palu pada Jumat (28/9/2018). Mereka datang ke tempat itu untuk mengikuti konseling khusus bagi jurnalis yang terdampak bencana.

Konseling yang diinisiasi Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu bekerja sama dengan Yayasan Pulih digelar untuk  “memanusiakan” kembali wartawan setelah mengalami tekanan psikologis akibat bencana yang menelan korban hingga ribuan jiwa.

Ketua AJI Palu, Mohammad Iqbal mengatakan, pada kondisi dimana terjadi bencana, maka posisi wartawan menjadi sulit, karena di satu sisi harus tetap menjalani profesinya sebagai jurnalis dan mengungkap fakta dari bencana itu, namun di sisi lainnya ia juga harus dapat melakoni perannya di dalam keluarga yang bisa jadi menjadi bagian dari yang terdampak.

“Wartawan adalah juga manusia biasa, punya kejiwaan seperti umumnya manusia lainnya. Di antara mereka tentu ada yang mengalami tekanan-tekanan sehingga tidak bisa atau sulit bertindak seperti sebelumnya ketika terjadi bencana. Karena itu, diharapkan dengan konseling seperti ini dapat membantu memulihkan, terutama aspek psikologis itu,” jelas Iqbal.

Yayasan Pulih memiliki metode sendiri dalam upaya pemulihan kejiwaan yang segmentasinya ke kalangan jurnalis itu. Salah seorang konselornya, Delfian Tri Bandoro, Yayasan Pulih telah melaksanakan hal yang sama di beberapa wilayah yang mengalami bencana seperti di Aceh, Padang, Lombok dan sejumlah daerah lainnya.

“Kita akan menggali secara mendalam apa yang dialami dan dirasakan oleh person tersebut, lalu kita mencoba mensimulasikannya. Lalu kita coba cari stimulan-stimulan yang sekiranya bisa menjadi sumber pemulih,” jelas Delfian yang pada kesempatan itu bersama konselor Lintang Mas Melati.

Ke-60 wartawan yang mengikuti konseling itu dibagi dalam enam kelompok besar yang terdiri dari 10 orang setiap kelompok. Setiap kelompok diwajibkan mengikuti tatap muka dengan durasi 2,5 jam setiap orang.

“Mereka yang terindikasi “parah” akan ditindak lanjuti dengan terapi khusus,” ungkap Delfian.

Tak selesai sampai disitu, dijadwalkan keluarga para wartawan itu akan dikonseling pula. (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here