Derita Tanpa WC di Pengungsian Desa Baluase-Sigi Teratasi

0
73

SIGI, beritapalu | Senyum Rani terus mengembang, menebar senyum hampir kepada setiap orang yang lewat di depannya. Kebagahagiaan tidak bisa disembunyikannya sesaat setelah tahu jika fasilitas jamban yang letaknya tidak jauh dari tendanya mengungsi telah selesai dibangun.

Warga memasuki WC yang baru dibangun Greenpeace Indonesia di pengungsian Desa Baluase, Dolo Selatan, Sigi, Sulawesi Tengah. (Foto: bmzIMAGES)

“Yah pasti senanglah,” tukas Rani ketika ditanya soal jamban yang baru saja selesai dibangun oleh #GreenpeaceIndonesia.

Bagaimana tidak kata Rani. Hal yang cukup menyiksa jika berada di tenda-tenda pengungsian adalah membuang hajat besar, apalagi jika hujan turun.

“Siksanya mungkin setara dengan gempa. Kita makan terus, tidak mungkin tidak beol toh,” kelakar perempuan yang memilih bertenda di penampungan sementara di Dusun II, Desa Baluase, Dolo Selatan, Kabupaten Sigi ini.

Selama ini ungkap Rani, jika hasrat buang hajat itu muncul di siang hari, terpaksa ditahan atau Rani mengistilahkannya “dipendam”. Kalaupun tidak bisa di tahan, terpaksa harus pamit ke rumah-rumah warga sekitarnya yang fasilitas kamar kecilnya tidak rusak.

“Tapi masak tiap hari masuk WC-nya orang, kan malu juga rasanya,” sebutnya.

Atau jika sudah sangat terpaksa, tak jarang kembali ke rumah yang sudah porak-poranda, berjalan di antara reruntuhan dinding dan berjongkok di WC rumah.

Selama hampir dua bulan ini,Rani selalu berharap agar hasrat buang hajat itu selalu datang malam.

“Kalau malam lebih enteng, karena banyak tempat untuk buang air besar, lagi pula gelap, jadi tidak dilihat orang,” ujarnya sambil menutup mukanya dan terkekeh-kekeh.

Ungkapan Rani adalah cerminan perasaan yang banyak juga dialami oleh warga lainnya yang mengungsi ke tempat itu sejak bencana gempa 7,4 SR pada 28 September 2018 lalu.

Beruntunglah karena #GreenpeaceIndonesia yang melebur dalam Koalisi Masyarakat Sipil #SultengBergerak datang membantu dan bahkan memfasilitasi tempat jamban tersebut, sehingga Rani bersama warga lainnya tidak lagi harus “memendam” hasrat buang air besarnya baik siang maupun malam.

Tak hanya di Desa Baluase itu #GreenpeaceIndonesia membuat jamban, di Desa Loru, Kabupaten Donggala juga dibuat hal serupa.

Sebelumnya di Desa Rogo, tidak jauh dari Desa Baluase, dan juga di Desa Loru, Kabupaten Donggala,  #GreenpeaceIndonesia juga memfasilitasi penyediaan air bersih dengan memanfaatkan pompa yang digerakkan dengan tenaga matahari atau solar cell.

“Alhamduillah, kami tidak tahu harus bagaimana berterima kasih atas bantuan ini. Yang pasti, WC ini tentu sangat membantu dan bermanfaat bagi warga kami, dan kami berharap ini dapat digunakan dalam jangka waktu lama,” ujar Kepala Desa Baluase, Ridwan kepada Country Director Greenpeace Indonesia, Leonard Simanjuntak, Jumat (23/11/2018).

Country Director Greenpeace Indonesia, Leonard Simanjuntak mengungkapkan, pemanfaatan tenaga surya pada penanganan bencana belum banyak dilakukan. #GreenpeaceIndonesia memilihnya karena selain mudah dipasang, cepat, teknologinya tersedia, relatif lebih murah, juga edukasi kepada masyarakat tentang energi terbarukan.

“Negara kita ini negara tropis, apalagi di Palu yang kata orang mataharinya lebih dari satu. Potensi tenaga surya ini sangat melimpah dan pemanfaatannya bisa sangat luas. Tinggal kita, apakah kita terus ingin menggunakan energi dari fosil yang mahal dan ‘merusak dan kotor’ atau kita pakai energi yang terbarukan seperti matahari ini,” ujar Leonard.

Leo – demikian Leonard Simanjuntak disapa, meskipun tidak dalam katagori lembaga humanitarian, namun tidak kali ini saja #GreenpeaceIndonesia turun ke lokasi bencana. Sejumlah wilayah yang diterpa bencana seperti Aceh, Padang, Lombok, #GreenpeaceIndonesia juga turun membawa solar cell.

#GreenpeaceIndonesia terus mendorong agar solar cell atau panel surya dapat menjadi standar dalam penanganan bencana. Tapi untuk ini, menurut Leo harus ada kemauan besar dari semua pihak, harus banyak yang melihat bahwa operasi kemanusiaan butuh energi yang ‘bersih’ untuk menyelamatkan orang.

“Pemerintah perlu mempertimbangkan secara serius, upaya pemulihan atau rekonstruksi suplai energi di Palu pascabencana agar menggunakan panel surya ini ketimbang memulihkan PLTU Panau yang biayanya pasti besar. Palu ini bisa menjadi  contoh, ya tentu harus didahului dengan komitmen,” tandasnya. (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here