AJI Palu-Yayasan Pulih Konseling Wartawan Pascabencana

0
274

PALU, beritapalu | Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Palu bekerjasama dengan Yayasan Pulih menggelar kegiatan konseling terhadap wartawan yang terdampak bencana di Palu, Sulawesi Tengah mulai Rabu (21/11/2018) hingga Jumat (23/11/2018).

Dua konselor Yayasan Pulih, Delfian Tri Bandoro (kedua dar ikiri) dan Lintang Mas Melati (tengah) pada konseling yang diikuti sejumlah wartawan berbagai media di Palu, Rabu (21/11/2018). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Ketua AJI Palu Mohammad Iqbal mengatakan, kegiatan itu sengaja digelar karena wartawan adalah juga menjadi bagian yang terdampak bencana 28 September 2018 lalu.

Menurut Iqbal, pada kondisi dimana terjadi bencana, posisi wartawan menjadi sulit, karena di satu sisi harus tetap menjalani profesinya sebagai jurnalis, namun di sisi lainnya ia juga harus dapat menjalankan perannya di dalam keluarga yang pun menjadi bagian dari yang terdampak.

“Wartawan adalah juga manusia biasa, punya kejiwaan seperti umumnya manusia lainnya. Di antara mereka tentu ada yang mengalami tekanan-tekanan sehingga tidak bisa atau sulit bertindak seperti sebelumnya ketika terjadi bencana. Karena itu, diharapkan dengan konseling seperti ini dapat membantu memulihkan, terutama aspek psikologis itu,” jelas Iqbal.

Yayasan Pulih memiliki metode sendiri dalam upaya pemulihan kejiwaan yang segmentasinya ke kalangan jurnalis itu. Salah seorang konselornya, Delfian Tri Bandoro, Yayasan Pulih telah melaksanakan hal yang sama di beberapa wilayah yang mengalami bencana seperti di Aceh, Padang, Lombok dan sejumlah daerah lainnya.

“Kita akan menggali secara mendalam apa yang dialami dan dirasakan oleh person tersebut, lalu kita mencoba mensimulasikannya. Lalu kita coba cari stimulan-stimulan yang sekiranya bisa menjadi sumber pemulih,” jelas Delfian yang pada kesempatan itu bersama konselor Lintang Mas Melati.

Ke-60 wartawan yang mengikuti konseling itu dibagi dalam enam kelompok besar yang terdiri dari 10 orang setiap kelompok. Setiap kelompok diwajibkan mengikuti tatap muka dengan durasi 2,5 jam setiap orang.

“Mereka yang terindikasi “parah” akan ditindak lanjuti dengan terapi khusus,” ungkap Delfian.

Tak selesai sampai disitu, dijadwalkan keluarga para wartawan itu akan dikonseling pula. (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here