BNPB Revisi Nilai Kerusakan dan Kerugian Akibat Bencana Palu-Sigi-Donggala

0
472

PALU, beritapalu | Badan Nasional Penanggulangan Bencana(BNPB) merevisi nilai ekonomi kerusakan dan kerugian yang diakibatkan bencana gempa, tsunami, dan likuifaksi di Palu, Sigi, dan Donggala dari Rp13,82 menjadi Rp18,48 triliun per 27 Oktober2018.

Kondisi terkini Masjid Akhram Babul Rahman atau masjid terapung di Kampung Lere yang diterjang tsunami, Rabu (24/10/2018). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Revisi itu dilakukan karena laporan kerusakan terus bertambah dan dimasukkannya Kabupaten Parigi Moutong sebagai wilayah yang juga terdampak. Diperkirakan nilai itu masih akan terus bertambah karena belum semua data kerusakan selesai dilakukan.

Dari Rp18,48 triliun dampak ekonomi akibat bencana tersebut, kerugian mencapai Rp2,89 triliun dan kerusakan mencapai Rp15,58 triliun. Pengertian kerusakan adalah nilai kerusakan stock fisik asset, sedangkan kerugian adalah arus ekonomi yang terganggu akibat bencana, yaitu pendapatan yang hilang dan atau biaya yang bertambah akibat bencana pada lima sektor yaitu permukiman, infrastruktur, ekonomi, sosial dan lintas sektor.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho merinci, kerusakan dan kerugian itu berasal dari sektor permukiman mencapai Rp9,41 triliun, infrastruktur Rp1,05 triliun, ekonomi Rp4,22  triliun, sosial Rp 3,37 triliun, dan lintas sektor mencapai Rp0,44 triliun.

Dampak kerugian dan kerusakan di sektor permukiman adalah paling besar karena luas dan masifnya dampak bencana. Hampir sepanjang pantai di Teluk Palu bangunan rata tanah dan rusak berat. Terjangan tsunami dengan ketinggian antara 2,2 hingga 11,3 meter dengan landaan terjauh mencapai hampir 0,5 km telah menghancurkan permukiman. Begitu juga adanya amblesan dan pengangkatan permukiman di Balaroa dan adanya likuifaksi yang menenggelamkan permukiman di Petobo, Jono Oge dan Sibalaya telah menyebabkan ribuan rumah hilang.

Berdasarkan sebaran wilayah, maka kerugian dan kerusakan di Kota Palu mencapai Rp 8,3 triliun, Kabupaten Sigi Rp 6,9 triliun, Donggala Rp 2,7 triliun dan Parigi Moutong mencapai Rp 640 milyar. Tim Hitung Cepat Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB dan UNDP, terus menghitung dampak dan kebutuhan untuk pemulihan nantinya. Kebutuhan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana diperkirakan lebih dari Rp 10 triliun.

“Tentu ini bukan tugas yang mudah dan ringan, namun Pemerintah dan Pemda akan siap membangun kembali nantinya,” sebutnya.

Sementara itu, data korban hingga 28 Oktober 2018 tercatat 2.086 orang meninggal dunia yaitu di Kota Palu 1.705 orang, Kabupaten Donggala 171 orang, Sigi 188 orang dan Parigi Moutong 15 orang. Sebanyak 1.309 orang hilang. Korban luka-luka tercatat 4.438 orang, dan mengungsi sebanyak 206.524 orang.

Ia mengatakan, secara umum kondisi masyarakat sudah kondusif, perekonomian masyarakat mulai berjalan normal. Sinyal telekomunikasi dan internet telah pulih. Pelayanan listrik PLN sudah mencapai 97 persen.

Begitu pula, empat kecamatan di Kabupaten Sigi meliputi Kecamatan Lindu, Kulawi, Kulawi Selatan dan Titikor masih agak terisolir  karena akses menuju daerah tersebut tertimbun longsor kembali sejak 21 Oktober 2018. Hujan deras menyebabkan longsor dan banjir di wilayah tersebut.

Upaya membuka daerah dengan membersihkan material longsor dengan alat-alat berat masih dilakukan. Akses jalan dilakukan dengan buka tutup. Kendaraan truk berbadan sedang yang mampu mengangkut logistik 3 ton ke atas tidak dapat melalui jalan tersebut. Untuk droping bantuan, heli MI-8 BNPB masih dioperasikan. Sebanyak 18 kali penerbangan dengan membawa logistik sebanyak 32,7 ton sudah didistribusikan.

Pembangunan huntara juga terus dilakukan, baik yang dibangun pemerintah maupun dari berbagai pihak. (afd/*)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here