Meski di Tenda Darurat, Anak-Anak Balaroa Ini Tetap Semangat Bersekolah

0
514

PALU, beritapalu | Meski tak lagi sekolah berdinding tembok, anak-anak Perumnas Balaroa yang selamat dari likuifaksi yang meluluhlantakkan rumah, sekolah, dan mengubur keluarga tercinta serta teman-temannya, namun  mereka tetap bersemangat untuk bersekolah.

Seorang siswa berjalan memasuki tenda sekolah darurat SD Inpres Perumnas Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (22/10/2018). Sekolah darurat itu dibuat untuk menampung siswa korban likuifaksi yang kehilangan sekolah. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Buktinya, di tenda sekolah darurat SD Inpres Balaroa yang didirikan tidak jauh dari lokasi bencana itu, riuh khas anak-anak tetap terdengar. Anak-anak itu bahkan kian saling bertenggarasa dengan rekan sesamanya korban likuifaksi.

Di tenda sekolah darurat bantuan Kementerian Pendidikan Kebudayaan itu, tak ada bangku layaknya sekolah pada umumnya. Para siswa duduk lesehan di atas terpal plastik yang sudah dihampar memenuhi tenda.

Bagi siswa yang beruntung, mereka masih mengenakan seragam putih merah, namun sebagian besarnya hanya mengenakan pakaian sehari-hari  karena seragam yang biasanya dipakai sudah tertelan dahsyatnya likuifaksi.

“Kemarin itu kan ada gempa sampai ta’lipat-lipat itu tanah. Rumahku hancur,sekolahku juga hancur, jadi sekolah di tenda. Nanti kan pemerintah akan bikin sekolah yang bagus lagi,” ujar seorang anak ketika ditanya soal sekolah di tenda itu.

Jadi, lanjut anak itu, sambil menunggu sekolah dibuatkan lagi, harus belajar di tenda dulu agar pelajaran tidak tertinggal.

Sejumlah siswa mengikuti kegiatan belajar di tenda sekolah darurat SD Inpres Perumnas Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (22/10/2018). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Sedikit pun ketakutan tidak tergambar di anak yang ditanyai itu. Hanya saja, kerinduan untuk bertemu rekan-rekan sekolahnya tak dapat disembunyikannya. Kepada rekan lainnya, ia kerap kali bertanya soal si A, B, C dan yang lainnya.

Guru-guru berdiri di depan mereka, mengingatkan pelajaran-pelajaran yang sudah didapatkan sebelum malapetaka itu datang. Siswa itu dibuat berkelompok sesuai tingkatan kelas yang didudukinya. Tak ada sekat pemisah antarkelas, kecuali kelompok-kelompok yang menegaskan kelas tersebut.

Pelajaran berlangsung mulai pukul 08.00 hingga 11.00. Selama pelajaran berlangsung, guru-guru menyelipkan materi trauma healing dan permainan-permainan kepada anak-anak tersebut. Pemulihan kejiwaan dimaksudkan agar siswa tak menjadi takut karena mengingat bencana memilukan itu.

Sejumlah siswa mengikuti kegiatan belajar di tenda sekolah darurat SD Inpres Perumnas Balaroa, Palu, Sulawesi Tengah, Senin (22/10/2018). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Selama anak-anak itu belajar dalam tenda, sejumlah orang tua tampak tetap berada di luar menunggui anaknya selesai sekolah.

“Saya harus selalu berada di sisinya. Tinggal anak saya ini yang tersisa. Dia satu-satunya harapan saya. Ibu dan kakaknya menjadi korban dalam bencana itu. Saya harus selalu ada untuknya,” ujar seorang ayah lirih di depan tenda sekolah darurat itu.

Sementara itu, Dinas Pendidikan setempat mengeluarkan imbauan kepada setiap sekolah agar tidak menggunakan ruang kelas untuk kegiatan belajar mengajar sebelum ada rekomendasi dari pihak terkait soal kelayakan bangunan sekolah untuk ditempati.

Selagi rekomendasi itu belum ada, maka sekolah diperkenankan membuat tenda darurat di halaman sekolah ataudi tempat terbuka lainnya. (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here