Anak-Anak Dusun Ngata Papu Ini Tercengang Ketika Berada di Museum

0
472
Sejumlah anak-anak dari Dusun Ngata Papu berpose bersama usai mengunjungi Museum Sulawesi Tengah di Palu, Kamis (27/9/2018). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

PALU, beritapalu | Bisa jadi karena baru melihatnya, atau karena pertama kali masuk gedung museum, sejumlah anak-anak dari dusun Ngata Papu tercengang ketika berada di dalamnya. Lebih takjub lagi ketika beberapa benda bernilai sejarah ditunjukkan kepadanya.

Kamis (27/9/2018), lembaga pemerhati pendidikan dan sosial desa terpencil  Banua Pangajari memang mengajak sejumlah anak dari dusun itu untuk berkunjung ke Museum Sulawesi Tengah yang berlokasi di Jalan Kemiri, Palu Barat.

Puluhan anak itu tiba di Museum sekitar pukul 09.00 Wita mengendarai sebuah angkot yang terpaksa dicarter karena tidak memiliki cukup biaya untuk menggunakan bus milik Pemda.

Setibanya di Museum tersebut, anak-anak itu diajak masuk dan berkeliling sembari melihat-melihat benda yang dipajang di dalamnya. Mereka cukup antusias mendengar penjelasan petugas Museum yang mendampinginya.

Anak-anak dari Ngata Papu memerhatikan aneka benda bersejarah yangdipajang di Museum Sulteng, Kamis (27/9/2018). (Foto: bmzIMAGES/BasriMarzuki)

Beberapa di antara anak-anak itu tampak manggut-manggut saja.Mungkin karena tidak paham istilah-istilah yang diujarkan oleh petugas. Petugas pun kerap kali mengulang penjelasannya agar dapat dimengerti oleh anak-anak yang tidak semuanya fasih dalam baca tulis.

Seorang anak tampak tercengang ketika melihat naskah kuno yang disimpan dalam kotak kaca. “Apa ini?” tanyanya dengan rasa ingin tahu yang begitu tinggi.

“Ini namanya Al-qur’an kuno, kalau yang di sebelahnya juga naskah kuno tapi naskah kuno Lontara namanya,” jelas petugas sambil menerangkannya lebih luas.

Anak itu manggut-manggut. Ia tidak membayangkan sebelumnya jika ada benda-benda seperti itu yang harus disimpan di dalam kotak kaca di ruangan khusus pula.  Ia hanya berfikir, naskah-naskah tersebut tak lebih dari buku teks layaknya buku-buku sumbangan yang sering dia lihat di dusunnya.

Di sudut lainnya, seorang anak menunjuk sebuah benda yang menurutnya tidak jauh beda dengan yang ada di kampungnya.

Ia bisa langsung mengenali alat pemukul untuk pembuatan kain kulit kayu itu. Ia mengaku, di kampungnya masih ada orang yang membuat kain dari bahan kulit kayu yang alatnya sama dengan yang dipajang di museum tersebut.

Di sudut lainnya pula, segerombolan anak menjejali sebuah gambar besar yang memenuhi dinding ruangan. Satu per satu anak itu memerhatikan dengan saksama setiap detil gambar tersebut.

Sejumlah anak-anak dari Dusun Ngata Papu memerhatikan gambar di dinding yang mirip dengan suasana kampung halamannya di Museum Sulteng, Kamis (27/9/2018). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

“Banyak begini di kampungku. Ah ini di kampungku. Ini ada tangganya, ada pohon-pohon begini,” ujar seorang anak lainnya sembari menunjuk salah satu sisi obyek dari gambar yangmenampilkan suasana perkampungan khas pelosok desa di pegunungan.

Anak lainnya mengerumuni dan membenarkan kalaugambar itu dijepret di Ngata Palu.

“Eh betul ini, di kampung ini. Ini pohon-pohonnya masih ada,” tunjuknya.

Cukup lama anak-anak itu menjejali sudut ruang tersebut dan sepertinya enggan beranjak sebelum memastikan bahwa gambar tersebut benar-benar di kampungnya.

Setelah berkeliling hampir dua jam, anak-anak polos dengan penampilan khas “anak desa” terpencil itu beristirahat.

Direktur Banua Pangajari Chepi Bintang kemudian bergegas mengambil tas kresek yang didalamnya berisi bungkusan makan siang.

“Kita sudah selsai, semua bagian museum sudah kita kunjungi, sekarang kita istirahatdan makan siang di belakang,” kata Chepi sambil menunjuk baruga yang terletak di bagian belakang museum. Anak-anak itupun berlarian ke belakang untuk makan siang.

Tak hanya makan siang, arena permainan anak yang kebetulan berada tidak jauh dari baruga tersebut, pun menjadi sasaran bermain mereka sebelum akhirnya harus pulang.

“Sebenarnya, kami menjadwalkan  mereka ke museum pada Senin (24/9/2018) lalu. Tapi kami undur ke hari Kamis karena mereka juga ingin melihat-lihat pasar. Di Ngata Papu itu tidak ada pasar. Hasil kebun mereka biasanya dibarter dengan bahan pangan lainnya,” ujar Chepi.

Menurut Chepi, inisiatif untuk membawa anak-anak dusun Ngata Papu ituke museum tidak hanya didasari atas keterpencilan kampungnya, tetapi lebih dari itu adalah memberikan wawasan kepada mereka tentang sejarah dan benda-benda bersejarah.

Di dusun Ngata Papu yang masuk dalam wilayah administratif  Desa Kalukutinggi, Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah memang relatif tidak cukup jauh untuk dijangkau, hanya sekitar sejam berjalan kaki melewati lereng pegunungan Gawalise, terbilang sangat tertinggal dalam banyak hal, ekonomi budaya, pendidikan, dan kesehatan.

“Hak-hak dasar mereka hampir tidak terpenuhi, padahal mereka juga adalah warga negara Indonesia lho…”

Jangankan katanya fasilitas publik semacam museum, sarana kesehatan apalagi pendidikan hampir tidak ada sama sekali. Maka tidak heran jika kondisi hidup rata-rata warga yang jumlahnya lebih dari 100 jiwa di dusun itu cukup membuat miris.

Dalam hal pendidikan yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara bagi warganya, sama sekali tidak tersentuh.

“Kami dan para pemerhati pendidikan dan sosial terpanggil masuk kedusun itu, membimbingnya atau memberi pendidikan dasar agar paling tidak bisa baca tulis agar mereka juga melek tentang dunia luar,” ungkapnya.

Bagaimana dengan peran atau perhatian pemerintah setempat? Sebelum menjawab pertanyaan itu, Chepi hanya tersenyum.

“Beberapa waktu lalu, ada kabar akan dibangun sekolah di tempat itu. Tapimenurutku itu hanya kabar angin, karena hingga saat ini tak kunjung ada realisasinya,” sebutnya.

Beberapa lembaga dan person terketuk dengan kondisi miris yang dialami sebagian anak bangsa yang kurang beruntung di Ngata Papu itu, sehingga tergerak memberi bantuan berupa buku-buku dan alat tulis.

“Kita juga sudah memfasilitasi seorang warga setempat untuk menjadi relawan pengajar bagi anak-anak yang terus mengimpikan kebaikan hidup seperti anak-anak di wilayah lainnya,” tandasnya.

Ohhh…. Ngata Papu….

(bmz)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here