Culture Project akan Tampil dalam Indie Music Festival di Jakarta

Personel Culture Project, dari kiri ke kanan; Zulfikar Usman (vocal), Hidayat Makaranu (drum), Moh. Ayub Lapangandong (bass, vocal), Umariyadi Tangkilisan (guitar, vocal), Riyan Fauzi Ashari (guitar, vocal). (Foto: Culture Project)

PALU, beritapalu | Kebanggan buat warga Palu dan Sulawesi Tengah, karena salah satu grup music lokal berlabel Culture Project akan tampil dalam International Indie Music Festival dipekan Raya Indonesia, BSD yang digelar apda 27 September hingga 7 Oktober mendatang.

Pada penampilan langka itu, Culture project yang digawangi sejumlah musisi piawai masing-masing Umariyadi Tangkilisan (guitar, vocal), Zhul Usman (vocal), Moh. Ayub Langandong (bass, vocal), Riyan Fauzi Ashari (guitar, vocal, percussion), Hidayat Makaranu (drum), Mohamad Rachmad Ibrahim (management), Shaiful Bahri (photo, video), dan Halid Ilham (sound engineer) akan mengenalkan single terbarunya bertajuk ”Matahari”.

Dalam rilisnya, Umariyadi Tangkilisan menyebutkan, Matahari adalah lagu yang diciptakannya pada 1997 lalu, atau 17 tahun lalu dan telah direkam pada 2001 oleh band Plisit di Yogyakarta.

Namun, ia mengaransemen kembali lagu itu dengan perspektif yang lebih dalam. Matahari menurutnya harus dilihat sebagai sumber energi, terutama listrik yang di Palu ini masih sering padam dan bahkan ada wiayah yang sama sekali belum dialiri listrik.

Bukan Matahari saja yang ditinjau ulangdalam perspektif yang lebih dalam, Sejumlah lagu lainnya seperti Nakuya, Porelea, Acniwsm, Palu DImana, Harmoni, Doa, dan Bumi Pade Ihina yangs emua diciptakannya juga  mengalami pendalaman makna.

Menurutnya, Culture Project tidak sekadar menghadirkan lagu sekenanya, melainkan melalui proses riset kebudayaan, diskusi bersama tokoh adat Kaili dan seniman.

“Tugas utama Culture Project adalah menyampaikan pesan tradisi Kaili ke ruan popular, menginterpretasi pesan kearifan sukuKailikke dalam peralatan music analog dan digital,” tandasnya.

Culture Project sendiri adalah gagasan yang bermula dari seorang seniman arsitektural, Zulkifly Pagessa. Kelompok musikal yang dibuat khusus untuk happening art di event teater dan pertunjukan kebudayaan.

Awalnya hanya berfungsi untuk menghidupkan kembali karya-karya almarhum Hasan Bahasyuan, seorang seniman dan budayawan Kaili yang sangat produktif di masa silam. Lalu Culture Project perlahan menjadi suguhan musikal yang bernyawakan tradisi lokal. (bmz)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Fraksi Nasdem Desak Gubernur Sulteng Jalankan Inpres No. 8/2018

Wed Sep 26 , 2018
PALU, beritapalu | Ketua Fraksi NasDem DPRD Sulawesi Tengah, Muh. Masykur meminta Gubernur Sulawesi Tengah segera melaksanakan  Instruksi Presiden No. 8 Tahun 2018 tentang Penundaan dan Evaluasi Perizinan Kelapa Sawit serta Peningkatan Produktivitas Perkebunan Kelapa Sawit. “Ada tiga tugas mendesak yang patut disegerakan sebagai jabaran konkrit pelaksanaan Inpres No. 8/2018 […]

Recent Post

RSS
Follow by Email
Facebook
Facebook
Twitter
Visit Us