Sampah Plastik di Perairan Tanjung Karang Memprihatinkan

0
217

DONGGALA, beritapalu | Divers Clean Action (DCA) – sebuah lembaga pecinta selam bersih yang bermarkas di Jakarta melakukan aksi bersih-bersih sampahplastik di pantai wisata Tanjung Karang, Sabtu (22/9/2018).

Aktivis Divers Clean Action memilah sampah plastik di Pantai Tanjung Karang, Donggala, Sulawesi Tengah, Sabtu (22/9/2018). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Tak hanya melakukan pembersihan, DCA juga melakukan pemilahan dan mengidentifikasi jenis-jenis sampah di pantai tersebut, terutama sampah plastik, baik sampah makro maupun mikro plastik (berukuran kurang dari 5mmx5mm).

Mereka membuat pengukur untuk menakar tingkat pencemaran sampah plastik di kawasan pantai tersebut, yaitu mebuat garis 50 meter sepanjang pantai dengan lebar 10 meter dari garis pantai.

Seluruh sampah plastik baik makro seperti botol plastik air mineral, bungkus mi instan, tutup  botol, kantong kresek, maupun mikro plastic seperti pecahan plastik dikumpulkan.

Berbagai jenis sampah ditemukan dengan berbagai klasifikasinya termasuk dalam katagori limbah berbahaya (B3) dan juga sampah yang tidak bisa didaur ulang seperti filter rokok.

Menurut Founder DCA Swetenia Puspa Lestari, dibanding sampah makro plastik, sampah mikro plastik jauh lebih berbahaya karena ada yang kasat mata dan dapat mengontaminasi tubuh manusia baik secara langsung maupun tidak langsung.

“Hampir sama di seluruh perairan di Indonesia, di pulau-pulau yang tak berpenghuni pun ditemukan sampah plastik, apalagi yang berpenghuni. Di Tanjung Karang ini demikian pula, sampah plastik ini cukup memperihatinkan,” sebutnya.

Dia merilis, jumlah sampah plastik di dunia mencapai 1,3 juta setiap tahun dan Indonesia disebut sebagai negara penghasil sampah plastic terbesar kedua di dunia.

“Rata-rata sampah plastic di perairan Indonesia mencapai 17 kilogram per 100 meter pantai, sangat memprihatinkan,” ungkapnya.

Karena itu, pihaknya terus mengampanyekan pencegahan sampah plastic di laut melalui berbagai program, baik yang bersifat edukasi, action, hingga program pengembangan SDM di berbagai daerah.

Ia mengaku, 2017 lalu DCA merekrut sejumlah pemuda dari berbagai provnsi di Indonesia dalam sebuah perhelatan yang disebutnya Indonesian Youth Marine Debris Summit (IYMDS), termasuk pemuda dari Sulteng.

Pemuda dari Sulteng yang kemudian membentuk komunitas yang diberi nama Seangle dinilai cukup baik progressnya dalam pelaksnaan program pencegahan sampah laut, dan karenanya difasilitasi untuk membuat Pusat Daur Ulang sampah plastic.

Ia berharap, dengan berbagai kegiatan yang dilakukan, akan tumbuh kesadaran masyarakat, terutama yang bermukim disekitar pesisir agar tidak lagimembuang sampahnya, terutama sampah plastic di laut. (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here