Anarkis, Polisi Tembak Pengunjuk Rasa di Depan Polda Sulteng

0
574
Pengunjuk rasa terkapar setelah terkena peluru karet pada Simulasi Pengamanan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 di depan Kantor Polda Sulawesi Tengah di Palu, Kamis (20/9/2018). Polda Sulteng melaksanakan simulasi pengamanan itu untuk meningkatkan kemampuan dan kesiapan kepolisian dalam menjaga serta mengamankan jalannya Pilpres 2019 mendatang. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

PALU, beritapalu | Sejumlah pengunjuk rasa yang anarkis terkapar di tengah jalan setelah terkena peluru dari moncong senjata pasukan Anti Huru-Hara Brimob Polda Sulteng, Kamis (20/9/2018).

Tindakan tegas itu diambil polisi karena usaha untuk membubarkan pengunjuk rasa yang bertindak anarkis tidak membuahkan hasil. Bahkan massa kian beringas dan melempari aparat keamanan yang bertugas dengan benda-benda yang ada di sekitarnya.

Sebelumnya, sejumlah polisi wanita berusaha menghalau ratusan pengunjuk rasa yang memaksa masuk ke Kantor KPU itu, namun tidak berhasil. Massa terus mendesak hingga kemudian barisan tameng polisi mengambil alih.

Sejumlah Polisi memasang barikade untuk menghalau pengunjuk rasa yang memaksa masuk ke Kantor KPU pada Simulasi Pengamanan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 di depan Kantor Polda Sulawesi Tengah di Palu, Kamis (20/9/2018). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Langkah itu pun tak membuahkan hasil, massa terus meringsek dan bahkan merebut beberapa tongkat dan tameng milik polisi walau tembakan gas air mata dan semprotan dari kendaraan water canon telah disemburkan ke arah massa.

Unit Anti Huru-Hara Brimob Polda Sulteng diturunkan untuk menghalau massa yang terus bertambah banyak jumlahnya. Sekali lagi, massa yang yang cukup banyak jumlahnya membuat barikade yang dipasang nyaris jebol.

Tak ayal lagi, satuan itu mengambil langkah tegas dengan mengeluarkan tembakan peringatan ke atas. Namun massa tidak keder, malah semakin mendekati aparat keamanan yang berdiri di belakang barikade.

“Dor, dor, dor,” polisi terpaksa mengarahkan senjatanya ke massa dan sejumlah pengunjuk rasa tampak terkapar di tengah jalan terkena peluru. Tak ingin menjadi korban, massa pun kocar-kacir dan berusaha mencari perlindungan.

Pengunjuk rasa yang terkapar di tegah jalan kemudian dievakuasi dan ditandu untuk mendapat penanganan medis.

Demikian antara lain skenario pelaksanaan simulasi pengamanan Pemilihan Presiden (Pilpres) yang dilakukan Polda Sulteng. Simulasi itu digelar untuk menguji kemampuan dan kesiapsiagaan aparat dalam pengamanan Pilpres yang dijadwalkan pada 2019 mendatang.

Satuan Gegana Unit Jibon Brimob meledakkan bom yang dipasang oleh para pengacau pada Simulasi Pengamanan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 di depan Kantor Polda Sulawesi Tengah di Palu, Kamis (20/9/2018). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Wakapolda Sulteng Kombes Pol Seto Boedi Moempoeni Harso mengatakan, simulasi seperti itu penting dilakukan, tidak hanya sekadar mengasah kemampuan dan kesiapsiagaan personelnya, tetapi juga untuk memberi gambaran tentang situasi yang mungkin saja terjadi pada pelaksanaan Pilpres mendatang.

“Kitapunya mekanisme, ada protap yang harus dilalui sebelum mengambil tindakan. Nah, simulasi ini menjadi sarana untuk melihat sejauhmana atau pada kondisi seperti apa prosedur dan mekanisme itu dijalankan dengan baik,” jelasnya.

Ia menilai, simulasi yang dilakukan pada kesempatan itu sudah cukup baik. Kemampuan anggota semakin meningkat. Aparat yang ditugaskan sudah memenuhi apa yang seharusnya dilakukan pada tanggung jawab yang diberikan.

Sementara itu pada simulasi lanjutan, unit khusus anti teror Brimob Polda Sulteng berusaha membebaskan calon presiden yang disandera oleh pengacau. Dengan sigap, unit anti teror berhasil mengendap dan melumpuhkan pengacau dan membawa capres yang tersandera.

Bom yang dipasang oleh pengacau di tempat sandera berhasil dijinakkan dan diledakkan oleh Tim Gegana Unit Jibon Brimobda Sulteng. (afd)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here