Karsa Institute Gelar Peduli Day di Lembah Pipikoro

0
289

SIGI, beritapalu | Karsa Institute, sebuah lembaga nirlaba yang berbasis di Palu, Sulawesi Tengah dan bekerja untuk kegiatan sosial menggelar kegiatan bertajuk Peduli Day di lembah Pipikoro, tepatnya di Desa Banasu, Kecamatan Pipikoro, Kabupaten Sigi.

Supporting Peduli Day

Kegiatan Peduli Day itu disupport langsung Kementerian Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK), Kementerian Pembangunan Desa Tertinggal dan Transmigrasi (PDTT) dan lembaga Kemitraan dan berlangsung sejak 17 Agustus lalu hingga puncaknya pada Senin (10/9/2018) dan ditutup oleh Bupati Sigi Mohammad Irwan Lapata.

Kegiatan yang melibatkan seluruh desa di  Kecamatan Pipikoro itu mengusung tema utama Inklusi Sosial, yakni upaya menempatkan martabat dan kemandirian individu sebagai modal utama untuk mencapai kualitas hidup yang ideal. Melalui inklusi sosial, seluruh elemen masyarakat mendapat perlakuan yang setara dan memperoleh kesempatan yang sama sebagai warga negara, terlepas dari perbedaan apapun.

Direktur Karsa Institute, Rachmat Saleh. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Direktur Karsa Intitute Rachmat Saleh mengemukakan, Peduli Day adalah program nasional dan kali ini terbilang istimewa karena dari dua kali Peduli Day sebelumnya, ketiga kalinya dilaksanakan di desa terpencil yang hampir terisolasi sama sekali dari dunia luar.

“Anda tau sendiri kan bagaimana sulitnya menjangkau daerah di Pipikoro ini. Ini sangat berbeda dengan Peduli Day sebelumnya yang digelar di ibu kota negara, Jakarta,” terang Rachmat Saleh yang akrab disapa Oyong ini.

Ia menjelaskan, selain karena basis program Karsa Institute berada di wilayah Pipikoro, penetapan Peduli Day di wilayah itu juga didasari oleh target utama kampanye inklusi sosial, sekaligus menunjukkan kepada pihak luar bahwa dalam banyak keterbatasannya, warga Pipikoro tetap penuh semangat menjalani kehidupannya.

Penyerahan hadiah kepada pemenang lomba calistung. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Menurutnya, warga yang berada di wilayah yang terisolir kerap kali mendapati perlakuan diskriminatif, baik  karena fisik, maupun karena lingkungan sosialnya yang berbeda dengan kebanyakannya.

“Kita ingin berkata kepada mereka yang berada di Pipikoro ini, bahwa Anda itu adalah bagian dari rakyat Indonesia yang juga punya hak seperti warga lainnya. Hak dasar Anda pun harus dipenuhi, hak pendidikan, hak kesehatan dan banyak lagi hak-hak mendasar lainnya,” terangnya.

Dalam Peduli Day yang dirangkai dengan Peringatan Hari besar Nasional (PHBN) yang juga rutin digelar setiap tahun secara bergilir di  tiap desa di kecamatan Pipikoro tersebut, aneka perlombaan permainan tradisional digelar seperti gasing, tale, hanta, engrang, music bambu, tamborin, vocal grup, sepak bola, sepak takraw, bola volle, menyajikan kopi Toratima hingga lomba sumpit.

Seorang warga suku Kulawi sub etnis Uma membidik sasaran pada lomba sumpit tradisional di lembah Pipikoro, Desa Banasu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Minggu (9/9). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Tak kalah menariknya, dalam kegiatan itu juga diisi dengan lomba Perencanaan Desa yang barupertama kali digelar dan menjadi pilot project bagi efektivitas penyusunan perencanaan desa dan workshop dan seminar revolusi mental.

“Khusus lomba perencanaan desa, ini adalah inisiatif kami di Karsa Institute untuk melombakannya. Kita ingin mengetahui sejauh mana setiap desa memahami dan menerapkan prinsip-prinsip dalam perencanaan desa, termasuk indicator-indikator pemanfaatan anggaran desa,” jelas Oyong.

Ia mengatakan, lomba perencanaan desa itu mendapat respon yang sangat positif, baik dari pemerintah setempat, baik di tingkat desa, kecamatan, hingga kabupaten. Bahkan Kementerian Desa dan PDTT dan Kementerian PMK memuji inisiatif tersebut.

Remaja putri berpose di depan stand desa pada lomba menyeduh kopi Toratima. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Sementara itu, pemusatan pelaksanaan Peduli Day di Desa Banasu itu membuat “gegap gempita” warga desa tersebut. Bagaimana tidak, desa seluas 87.700 hektare yang sebagian besarnya adalah hutan belantara dan hanya dihuni 67 Kepala Keluarga atau sekitar 230 jiwa itu menjadi  riuh.

Hampir seluruh warga desa terlihat aktif dalam setiap kegiatan. Kompetisi antarwarga terjadi ketika warga desa lainnya yang juga berbondong-bondong ke desa itu memberikan dukungan kepada desanya yang bertanding dalam kegiatan perlombaan.

“Ini adalah keramaian terbesar yang pernah terjadi di sini,” aku Kepala Desa Banasu Alexander.

Keramaian itu makin menjadi-jadi karena selain warga desa lainnya berdatangan, sejumlah undangan dari luar juga berdatangan seperti rombongan dari Kemendes PDTT, Kementerian PMK, Kemitraan, dan juga perwakilan 10 provinsi lainnya di Indonesia.

Belum lagi pada kesempatan itu Bupati bersama rombongannya yang lebih dari 100 orang juga berkesempatan hadir dalam rangkaian ekspedisi menembus jalan darat dari Gimpu ke Kalamanta.

Oyong menegaskan, setelah 73 tahun merdeka, baru kali ini warga Pipikoro benar-benar merasakan yang namanya merdeka, meskipun dengan fasilitas publik yang masih terbatas. Ia berharap dengan digenjotnya infrastruktur jalan di wilayah itu akan membuka sekat-sekat keterbatasan dan menjadikan hak-hak warga setempat dapat terpenuhi. (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here