Organizer Festival Lembah Lore Matangkan Konsep

0
254
Anggota tim officer melintas di depan layar materi pemaparan rencana pelaksanaan Festival Lembah Lore di Palu, Sulawesi Tengah, Kamis (2/8/2108). Festival yang berada dalam kawasan konservasi TNLL dan dijadwalkan berlangsung 8-11 November 2018 itu selain menampilkan aneka budaya dan tradisi khas warga setempat, juga sebagai ajang promosi keunikan flora dan fauna endemik serta keindahan alam salah satu cagar biosfir dunia itu. bmzIMAGES/Basri Marzuki

PALU, beritapalu | Organizer Lore Valley Festival atau Festival Lembah Lore mematangkan konsep acaranya dalam sebuah paparan di  Kantor Balai Besar Taman nasional Lore Lindu (BTNLL), Kamis (2/8/2018).

Hadir pada pemaparan konsep itu Kepala BTNLL Jusman dan sejumlah Kepala Bidang dan Staf beserta stakeholder termasuk kalangan media, baik cetak, elektronik maupun online.

Ketua organizer, Mohammad Subarkah mengatakan, pihaknya sudah menyusun konsep tersebut sedemikian rupa dan dipastikan akan berbeda dalam beberapa bagian dibanding festival yang sudah umum dikenal.

“Hampir seluruh rangkaian kegiatan pada festival ini memanfaatkan partisipasi masyarakat. Esensinya adalah masyarakat harus terdampak dengan kegiatan ini terutama pemberdayaan dan sekaligus komitmen untuk menjaga kelestarian budaya dan alam berdasar kearifan lokal,” sebut Subarkah.

Kepala Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu (BTNLL) Jusman (kiri) bersama ketua tim orgnaizer Mohammad Subarkah memaparkan konsep pelaksanaan Lore Valley Festival di Kantor BTNLL Palu, Kamis (2/8/2018). (Foto: bzmIMAGES/Basri Marzuki)

Subarkah yang akrab disapa Abal ini menguraikan, sejumlah kegiatan sudah dirancang pada festival yang dijadwalkan berlangsung pada 8-11 November 2018 ini, antara lain pameran produk komunitas, diskusi potensi pariwisata dan ekonomi, mozaik tanaman obat tradisional dan pangan Lariang, atraksi  tradisi modulu-dulu, pertunjukan seni tradisi, eksebisi dan lomba foto, dan sejumlah lomba-lomba khas bernuansa tradisi setempat.

Dia menjelaskan, festival dengan tagline Knitting Tradition Preserve Nature (merajut tradisi melestarikan alam) ini juga melibatkan sejumlah Non Government Organisation (NGO), baik yang berkedudukan di Sulawesi Tengah, maupun di luar Sulteng, termasuk menjalin kemitraan dengan sejumlah media untuk publikasi.

“Yang kita harapkan, bukan hanya pengunjung dari sekitar Sualwesi tengah saja yang hadir, tetapijuga diluar Sulteng dan bahkan sampai luar negeri. Makany, sajian-sajian dalam festival kita usahakan seunik mungkin dengan menggali kebiasaan masyarakat lokal,” terangnya.

Sementara itu, Kepala BTNLL Jusman mengatakan, sangat mendukung rencana pelaksanaan festival tersebut. Selain untuk mengenalkan berbagai potensi yang dimiliki kawasan Lembah Lore itu, sekaligus sebagai wahana untuk  menggerakkan masyarakt dalam menjaga kelestarian alam.

“Potensi wisata di Lembah Lore ini sangat luar biasa, bahkan kalau disandingkan dengan Bali sekalipun, kita ini masih sangat luar biasa. Cuma itu tadi, potensi ini harus kita kelolah dengan baik,” ujar Jusman yang juga pernah bertugas di Bali dan sejumlah taman nasional lainnya.

Jusman bahkan berharap, ada view icon sebagai penanda lokasi dari kawasan tersebut selain patung Palindo dan Megalith yang begitu orang melihatnya langsung bisa menebaknya bahwa yang terlihat itu berada di kawasan Lembah Lore.

Menurut Jusman, festival itu sangat sejalan dengan rencana jangka panjang BTNLL yang saat ini sedang menyusun master plan pengembangan wisata Lore Lindu. Jika rencana induk itu sudah selesai, maka di kawasan taman nasional itu sudah dapat dirinci tempat-tempat wisata yang bersesuaian. Semisal dimana lokasi terbaik untuk pengamatan burung.

Ia berharap festival tersebut daapt terlaksana dengan baik dan meminta agar organizer dapat menjalin hubungan dengan berbagai pihak agar target yang ingin dicapaibenar-benar dapat diwujudkan. 9afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here