KOLOM | Bercermin dari Polisi Amerika Serikat, Tegas tapi Tak Bermuka Seram

0
154

Oleh: Yardin Hasan

Yardin Hasan

DUA hari menjadi trending topic, tetiba teringat pengalaman Azrul Ananda.  Ia adalah mantan Dirut Jawa Pos Grup. Bapaknya  mantan Menteri Negara BUMN, Dahlan Iskan.

Asrul yang menghabiskan masa remajanya di Amerika menulis pengalamannya di rubrik Happy Wenesday yang terbit Jawa Pos cetak dan JP Online. Di situ, Asrul bercerita tentang pengalamannya ditilang  polisi di sana.

Asik berkendara dengan mobil bagus di jalan mulus,  membuat Asrul keasyikan  memacu kendaraannya. Keasyikan yang membuatnya lupa, aturan kecepatan memacu mobil di tiap negara bagian di AS berbeda beda.

Belum sekilo meninggalkan perbatasan negara bagian tertentu, masih dengan  kecepatan yang sama, ia melihat di belakangnya ada mobil polisi yang  membuntutinya. Merasa tak punya masalah ia terus memacu kendaraan dengan  kecepatan konstan.

Tak sampai lima menit, patroli polisi semakin mendekat.  Ia mulai sadar ada yang tak beres dengan mobilnya. Atau paling tidak  dengan dirinya.

Sesaat petugas memberi aba-aba. Asrul menghentikan  kendaraannya. Saat yang sama seorang polisi berbadan tegap, dengan gestur  santai dan tetap berwibawa menyapanya.

Anda darimana? tanya petugas.

Asrul mengeluarkan SIM internasionalnya. Sesaat setelah mengamati,  petugas paham orang di depannya berasal dari Indonesia.

Kesalahan Anda,  adalah memacu kendaraan melebihi ketentuan di negara bagian ini.

Sesaat  Asrul sadar, bahwa kecepatan kendaraan di setiap negara bagian di AS  memang berbeda.

”Sekarang Anda saya hukum” kata petugas itu.

”Anda  harus menjadi menjalani wajib militer di Indonesia,” sambungnya.

Keduanya sama-sama terkekeh. Suasana cair, akrab di tengah situasi yang  kalau di Indonesia, pasti terjadi presure mental akibat suara yang  ditinggikan atau setidaknya dibuat berwibawa untuk membuat si tersalah  merasa terus terpojok.

Sesaat kemudian, petugas memberitahukan sanksi  yang harus dijalani. Petugas itu menemani Asrul ke mesin ATM membayar  denda. Usai dari ATM petugas ini lalu mengawal Asrul (berada di depan)  menemaninya hingga di perbatasan negara bagian berikutnya – yang jaraknya  cukup jauh.

Di kolom itu, Asrul menulis kesannya. Petugas ini bersikap  sangat tegas tak kenal kompromi, tapi tidak kehilangan sisi humor yang  menghibur. Membuat pihak tersalah tak merasa harus terpojok di sudut  gelap. Dan tentunya tidak sampai pakai gertak apa lagi tarik kerah baju  dan cekik leher. Atau sumpah serapah ”kamu wartawan kemarin sore”.

Bahkan petugas ini masih berbincang akrab malah mengantarkannya hingga ke  perbatasan. Sampai di perbatasan, petugas ini lalu melambaikan tangannya  kepada Asrul. Aksi yang benar-benar simpatik.

Apa pesan yang bisa dipetik dari pengalaman Asrul ini?. Kita tentu tak  mungkin menyamakan pelayanan aparat atau birokrasi di luar sana dengan  kita di sini.  Mental aparatnya – mental masyarakatnya beda. Lagi pula  tak mudah menerapkan itu – walau tak sebenarnya bukan hal mustahil.

Setidaknya pada satu hal ada yang bisa dicontoh. Menegakkan hukum bagi pengguna jalan  tak mesti pakai muka seram, bentakan apa lagi cekik leher dan umpatan yang menyakitkan.

Sebagai aparat yang dipercaya negara menjadi pelayan masyarakat – sudilah kiranya mengubah mentalitas itu. Tempatkanlah mereka sebagai warga yang pantas dihormati. Karena Anda tak lebih terhormat dari mereka. Apa lagi jika disadari bahwa gaji Anda dari kantong kantong rakyat kecil yang Anda perlakukan tidak wajar itu. Tak perlulah meniru mental seperti aparat di AS itu. Paling tidak,  bersikaplah dengan sedikit wajar dan sedikit manusiawi. kenapa sih…!!!  ***

*) Penulis adalah Sekretaris Aliansi Jurnalis Indepenen (AJI) Palu dan wartawan harian Palu Ekspres.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here