Rencana Penangkaran Buaya Resahkan Warga Bolano

0
113
Penolakan warga Bolano atas penangkaran buaya di wilayahnya disampaikan ke DPRD Sulteng, Selasa (15/5/2018). (Foto: Istimewa)

PALU, beritapalu | Warga Desa Bolano, Kecamatan Bolano, Kabupaten Parigi Moutong menolak penangkaran buaya di wilayah laut kecil yang kini dijadikan sebagai kawasan Suaka Marga Satwa Tanjung Santigi. Penolakan warga ini disampaikan saat aksi di kantor DPRD Sulteng (15/5/2018).

Pasalnya, Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Suaka Marga Satwa Tanjung Santigi berencana menjadikan kawasan Tanjung Santigi sebagai tempat penangkaran buaya. Tidak main-main, sebanyak 5.000 ekor buaya akan dilepas dalam kawasan Tanjung Santigi.

“Yang pasti ini akan meresahkan kami. Bagaimana mungkin wilayah yang selama ini menjadi tempat nelayan memancing dan mencari ikan akan dijadikan penangkaran buaya,” ujar Ahmar.

Menurut Ahmar, rencana Kepala BKSDA itu disampaikan beberapa waktu lalu ke publik melalui media.

“Ini program tidak masuk akal,” ujarnya.

Mewakili Kepala BKSDA, Mulyadi  menyampaikan bahwa program itu belum sepenuhnya diupdate.  Dan hingga kini juga belum berjalan. Ia memohon untuk diberi kesempatan meneruskan aspirasi yang disampaikan warga tersebut.

Sementara itu, anggota DPRD Sulteng Ibrahim A Hafid menyampaikan penolakan yang sama terkait rencana program penangkaran buaya tersebut.

Menurutnya, jika BKSDA tetap memaksakan program ini sama halnya mematikan sumber penghidupan warga masyarakat Bolano.

Ratusan warga yang tergabung dalam Front Perjuangan Rakyat Bolano (FPRB) bersama Aliansi Gerakan Reforna Agraria (AGRA) melakukan aksi unjuk rasa di kantor DPRD Sulteng terkait perampasan tanah warga oleh pihak BKSDA.

Aksi FPRB ini diterima oleh anggota DPRD Sulteng, Ibrahim A Hafid, Muh. Masykur dan Nasution Camang di ruang pertemuan  Baruga DPRD. (afd/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here