Mama-Mama Papua Belajar Mengelola Sekolah Perempuan di Poso

0
110
Mama-mama Papua berpose di Intitut Sintuwu, Tentena Poso, Kamis (3/5/2018). (Foto: Institut Sintuwu)

POSO, beritapalu | Cerita tentang sekolah perempuan Mosintuwu terdengar sampai di Papua.  Sebanyak 23 orang mama dari Papua dan 4 orang bapak berkunjung ke kabupaten Poso, tepatnya ke Institut Mosintuwu di Tentena. Kedatangan mereka untuk melakukan studi banding melihat sekolah perempuan yang ada di daerah ini. Sebelumnya pada 16 Desember 2017, pemerintah kabupaten Waropen, Papua bekerjasama dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan telah meresmikan pembukaan sekolah perempuan disana.

Selama 5 hari mama-mama Waropen ini akan melakukan kunjungan lapangan sekaligus menggelar training bagi fasilitator sekolah perempuan di Waropen. Training difasilitasi oleh Lian Gogali dari Institut Mosintuwu. Ini merupakan kali kedua Lian Gogali menjadi fasilitator bagi mama-mama Waropen, sebelumnya pada 17 sampai 20 Desember 2017 lalu, juga telah memfasilitasi Workshop penyusunan Kurikulum sekolah perempuan Waropen di Waropen.

Pada hari pertama, sejak mendarat di bandara Kasiguncu, 30 April lalu, para peserta studi banding ini langsung diajak mengunjungi objek wisata air terjun Saluopa dan pantai Siuri. Kunjungan ini untuk mempromosikan pariwisata kabupaten Poso yang ada di pinggiran danau. Diantara rombongan peserta studi banding ini, terdapat kepala dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Waropen. Setelah melihat objek wisata Saluopa, dia mengungkapkan rasa kagum akan kepedulian masyarakat sekitar objek wisata yang turut memelihara hutan sehingga air terjun Saluopa masih bisa mengalir.

Selain kepala Dinas Pariwisata, turut dalam rombongan adalah kepala Badan Pemberdayaan Perempuan dan Anak, istri wakil Bupati Waropen ibu Sance Wanggai dan sejumlah kepala bidang di Bapelitbangda dan dinas Kesehatan Waropen.

Pada hari kedua, dilakukan pembukaan training yang berisi alur dan kesepakatan serta mempelajari Modul yang akan digunakan selama training dan menjadi panduan saat memfasilitasi sekolah perempuan nantinya. Selama 1 hari penuh berada didalam kelas, pada hari ketiga, dilakukan kunjungan lapangan ke 4 desa lokasi sekolah perempuan, yakni desa Salukaia, Bancea, Tokorondo dan Kilo.

Berangkat dari Dodoha Rabu dinihari 2 Mei, rombongan dibagi menjadi dua. Masing-masing kelompok berjumlah 13 orang. Kelompok pertama mengunjungi sekolah perempuan di desa Tokorondo, kecamatan Poso Pesisir dan desa Kilo, kecamatan Poso Pesisir Utara. Kelompok kedua, berangkat untuk bertemu ibu-ibu sekolah perempuan di desa Salukaia, kecamatan Pamona Barat dan Bancea, Pamona Selatan.

Di Desa Salukaia ini juga, mama-mama Papua belajar bagaimana proses membangun pasar organik yang pertama kali ada di Kabupaten Poso dan diorganisir oleh perempuan. Di Desa Bancea, mama-mama papua akan belajar bersama tentang pengorganisasian dan kepemimpinan perempuan mengelola desa, terlibat dalam pemerintahan. termasuk mereka akan belajar bersama tentang bagaimana sejarah dan inisiatif membangun usaha desa khususnya kopi kojo. Di Desa Tokorondo, mama-mama Papua akan bertemu dengan perempuan desa yang mengelola bank Sampah. Selain belajar bersama tentang bentuk dan manajemen bank sampah, mereka juga akan belajar tentang proses sekolah perempuan Mosintuwu yang berhasil mengajak perempuan lainnya di desa untuk aktif dalam pembangunan desa.

“Kami sangat senang menerima kunjungan ibu-ibu dari Waropen. Ini bisa memacu semangat perempuan di desa Salukaia ini karena kami sudah bisa dijadikan contoh untuk pemberdayaan perempuan dan bagaimana kami memanfaatkan kekayaan alam”kata ibu Marta.

Setelah lebih dari 1 jam di desa Salukaia, rombongan melanjutkan perjalanan ke desa Bancea. Disini, satu kampung, mulai dari masyarakat, sampai pemerintah desa menyambut kedatangan rombongan mama Waropen dengan acara adat di balai desa.

“Yang luar biasa kami temukan dari kunjungan ini adalah ibu-ibu berproses panjang sampai akhirnya yang hanya lulus TK bisa berbicara didepan umum dengan sangat baik”kata kepala dinas Pariwisata Waropen yang turut dalam rombongan. Ditambahkannya, salah satu yang dipelajari dari kunjungan ini adalah bagaimana pemerintah desa dan kelompok perempuan  mengolah potensi desa mereka menjadi produk unggulan untuk pemberdayaan.

Ibu Marce, peserta sekolah perempuan desa Bancea, mengatakan, kunjungan perempuan Waropen membuat mereka bangga, karena menurut dia, kunjungan mama-mama Papua ke desanya adalah pengakuan bahwa mereka punya hal yang bisa dicontoh daerah lain.

Desa Bancea, Rabu kemarin memang semarak. Keramaian terpusat disekitar balai desa. anak-anak dan perempuan dewasa memakai baju adat menyambut kedatangan rombongan dengan tari penyambutan.

Antusias yang sama juga terlihat saat kunjungan ke sekolah perempuan Tokorondo yang mengelola bank sampah. Dibawah rindang pohon, mama-mama Waropen mendapatkan penjelasan bagaimana awal mula perempuan desa Tokorondo membangun komunitas sekolah perempuan. Seperti diceritakan Handra, koordinator bank sampah, tantangan paling berat datang dari dalam keluarga, yakni suaminya yang tidak mengijinkan dia mengikuti sekolah perempuan.

“Tapi saya tetap ikut dan meyakinkan bahwa ikut ini sekolah banyak gunanya. Meskipun lama, tapi pelan-pelan suami saya bisa mengerti. Dulu dia takut kalau saya bisa jadi lebih pintar daripada dia”kata Hadra sambil tertawa.

Bila di Tokorondo, yang dilihat adalah pengelolaan sampah menjadi kerajinan bernilai ekonomis, maka saat rombongan tiba di desa Kilo, yang mereka dengarkan hampir sama, yakni tantangan perempuan menghadapi tekanan keluarga ketika memulai proses sekolah perempuan. Selain kultur budaya, ada pula tekanan psikologis karena di desa ini menjadi lokasi operasi keamanan. Nengah, salah seorang peserta sekolah perempuan, bahkan pernah disandera kelompok yang disebut berafiliasi ke kelompok Santoso.

Di Desa Kilo ini juga, mama-mama Papua banyak bertanya tentang bagaimana kepemimpinan perempuan di dalam desa dari ibu Margaretha, salah satu peserta sekolah perempuan yang menjadi kepala dusun pertama dalam sejarah desa Kilo. Selain itu akan bertemu anggota sekolah perempuan dari Patiwunga yang berhasil mengadvokasi hak-hak layanan masyarakat setelah mengikuti kelas sekolah perempuan. Selain itu mama-mama papua akan belajar bersama bagaimana perempuan Poso di desa Kilo berhasil mengurai hubungan antar komunitas muslim, kristen dan hindu dalam kegiatan bersama di desa melalui usaha desa produk minyak kelapa murni. (afd/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here