RPPA Mosintuwu : Poso Darurat Kekerasan Seksual

0
142

Orangtua Wajib Paham Pendidikan Tubuh Anak

POSO, beritapalu | Rumah Perlindungan Perempuan dan Anak (RPPA Mosintuwu)  mengecam perkosaan terhadap seorang  anak berumur 13 tahun oleh empat pelaku. Tindakan keji itu menambah daftar panjang kekerasan seksual yang menimpa anak-anak di Poso.

Ilustrasi

“Hal ini menunjukan masih rendahnya perlindungan masyarakat terhadap anak disebabkan ketidakpahaman akan ancaman kekerasan yang menyasar tubuh anak,” kata Koordinator RPPA Mosintuwu Evi Tampakatu dalam rilisnya, Rabu (4/4/2018).

Ia mengatakan, masyarakat perlu mengetahui apa saja bentuk ancamanan terhadap tubuh anak. Masyarakat juga perlu mengampanyekan gerakan anti kekerasan seksual dan memberikan perlindungan kepada anak.

“Hal ini bisa dimulai dengan memberikan pendidikan kepada anak-anak mereka tentang bagian tubuh yang rentan menjadi sasaran pelaku kekerasan,” imbuhnya.

Menurutnya, diperlukan upaya yang lebih luas dan terus menerus untuk melakukan sosialisasi dan pentingnya pemahaman tubuh anak kepada orang tua dan juga kepada anak agar kita mengetahui bagaimana melakukan langkah pencegahan dengan mengenali gejalanya.

Evi menambahkan, para orang tua juga harus membekali anaknya untuk berani melawan siapapun yang menyentuh bagian “terlarang untuk disentuh” dari tubuh anak. Selain itu anak juga diberi pengetahuan tentang cara meminta tolong atau bantuan kepada orang yang lebih dewasa ketika mengalami kekerasan.

“Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk meminimalkan terjadinya kasus kekerasan seksual terhadap anak selain sosialisasi kepada anak-anak juga peningkatan pengawasan mulai dari rumah hingga di lingkungan sekitar,” tambahnya.

RPPA Mosintuwu, kata Evi melakukan pencegahan terjadinya kasus kekerassan seksual dengan  melakukan sosialisasi pencegahan ke rumah ibadah, sekolah hingga komunitas. Langkah tersebut sangat penting untuk memberikan pengetahuan kepada orang tua dan anak-anak tentang tanda atau gejala bagaimana tindak kekerasan biasanya dimulai.

“Sosialisasi sudah kami lakukan ke beberapa desa di pinggiran danau Poso hingga ke kecamatan Lage. Saat ini diperlukan upaya yang lebih luas dan terus menerus untuk melakukan sosialisasi dan pentingnya pendidikan seksual terhadap orang tua dan anak agar kita mengetahui bagaimana melakukan langkah pencegahan dengan mengenal gejalanya,” kata Evi.

Seperti diketahui, seorang anak berumur 13 tahun diperkosa hingga hamil oleh empat orang pelaku. Tiga orang diantaranya masih anak-anak dan satu orang dewasa. Inisial ke empat pelaku adalah A,D,A dan F diantara ke empat pelaku ini, D yang disebut paling sering memperkosa korban, D juga adalah pelaku yang usianya sudah dewasa yakni 18 tahun.

Kapolres Poso AKBP Bogiek Sugiarto mengatakan, kasus ini sedang ditangani oleh unit PPA Polres Poso. Laporan yang diterima Polisi pada 26 Maret lalu, disebutkan oleh Kapolres bahwa proses hukumnya akan menggunakan undang-undang perlindungan anak yakni Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Kasus ini menunjukkan bahwa di wilayah Poso Pesisir, kasus kekerasan seksual terhadap anak termasuk tinggi. Tahun 2016 lalu, seorang anak dibawah umur juga diperkosa oleh 3 orang yang masih anak-anak dan satu orang dewasa. Kasus itu kemudian sampai di persidangan dimana ke empat pelakunya dihukum, 3 pelaku yang masih anak-anak dikembalikan kepada orang tuanya sementara pelaku yang dewasa dijatuhi hukuman 6 tahun penjara.

Pada 2018, 11 orang anak panti asuhan Ummu Rabiah juga mengalami perkosaan oleh pengasuh mereka sendiri. Kasus yang proses hukumnya sementara bergulir di Polres Poso itu ternyata berlangsung dalam waktu satu tahun. Artinya 11 anak-anak itu mengalami kekerasan seksual berkali-kali selama rentang waktu itu. (afd/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here