OPINI | Kabut Gelap Bangsa

0
198
Amiruddin Lewa

Oleh : Amirudin Lewa

Bagi Bung Karno jika saja sejarah dibentangkan sebagai sebuah pelajaran sehingga terlihat dengan jelas nasib tragis yang menimpa penguasa bangsa yang zalim, niscaya manusia dan seluruh bangsa di dunia ini akan memperlakukan yang lainnya dengan adil dan manusiawi.

Di Era Reformasi dan zaman Milenial seperti sekarang ini manusia dituntut untuk kraetif agar dapat bersaing dengan yang lain, kita diajarkan berkompetisi dengan yang lainnya walaupun realitasnya kita tak mampu.

Hal ini bagaikan memakan buah si malakama, karena keadaan yang memaksa oleh sistem ketidakadilan. Bangsa Indonesia sudah merdeka dan terlepas dari Kolonialisme Belanda selam kurang lebih 72 Tahun, tetapi kemerdekaan itu tak layaknya seperti aroma parfum saja, hanya yang memakai dan yang berada didekatnya yang merasakan kemerdekaan.

Masih banyak masyarakat menjerit kelaparan ditengah bangsa yang subur serta kaya akan sumber alamnya. Banyak masyarakat yang tidak mampu mengenyam pendidikan tinggi karena mahalnya biaya pendidikan, buruh yang tidak dapat hidup sejahterah karena upah yang tidak memenuhi standar hidup yang layak serta petani yang kehilangan harapan mereka disebabkan semua subsidi dari pemerintah yang dicabut.

Liberalisasi dari segi regulasi, pasar, sumber daya dilakukan hanya untuk kepentingan penguasa dan pengusaha. Bung Karno berkata bahwa perjalanan kita akan lebih sulit karena melawan bangsa sendiri, hal ini dapat dilihat dari penjajahan model baru oleh Negara Imperium dengan sistem Imperialisnya dengan menggunakan penguasa dan birokrasi yang ada sebagai perpanjangan tangan kaum Imperialis.

Bangsa indonesia saat ini mengalami kemunduran, dimana angka kemiskinan yang semakin tinggi serta lautan pengangguran yang semakin banyak. Hal lain kemunduran bangsa saat ini yaitu banyaknya sekat antargolongan, ras, suku, agama, adat, serta warna kulit yang satu dengan yang lainnya.

Semua ini adalah takdir Tuhan yang harus kita terima yang merupakan bawaan internal dari dalam diri manusia. Tetapi, keberagaman sudah menjadi ancaman yang tidak berpegang teguh lagi pada ke Bhinekaan.

Kita tidak lagi menjunjung tinggi nasionalisme, nilai – nilai nasionalisme sudah tergerus oleh budaya asing yang menggorogoti jiwa kita serta bangsa ini sendiri.  dengan mudahnya kita di goyahkan serta terpecah belah oleh isu yang tidak subtantional agar kita lupa akan problem pokok bangsa saat ini.

Perdebatan yang terjadi saat ini masih perdebatan yang sifatnya teoritis, tidak menjadikan perdebatan yang melahirkan sebuah solusi dari ketimpangan yang ada. Bisa dikatakan bahwa negara lain telah sampai ke bulan, sudah berbicara tentang antariksawan, kita masih berada di bumi.

Bangsa Indonesia bisa setara bahkan lebih maju dari negara – negara Eropa jika kita berpegang teguh terhadap apa yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Kita sudah mempunyai dasar yang cukup kuat, jangan jadikan landasan negara hanya sebagai selogan semata.

Tetapi mari kita jadikan Pancasila sebagai teori dan praktik yang seiring sejalan bagaikan dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Memenangkan Pancasila saat ini sebagai jalan keluar dari problem yang ada dan solusi untuk menuju masyarakat adil makmur atau sosialisme Indonesia yang dikatakan Bung Karno.

Merdeka ..!! Merdeka ..!! Merdeka.. !!

72 Tahun Bangsa Indonesia Merdeka, Dirgahayu Bangsaku.

*) Penulis adalah Sekwil FNPBI Sulteng dan kader Partai Rakyat Demokratik

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here