Diupah Rp25 Ribu Per Hari, Perawat Honor Minta Perbaikan Kesejahteraan

0
114
Sejumlah perawat membawa pamflet saat melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor DPRD Sulawesi Tengah di Palu, Jumat (7/7/2017). Aksi yang diikuti seribuan perawat yang berstatus honorer di sejumlah rumah sakit dan lembaga kesehatan dari seluruh kabupaten se Sulawesi Tengah itu menuntut perbaikan kesejahteraan yang rata-rata mereka hanya diupah Rp25 ribu per hari tanpa jaminan kesehatan dan tunjangan hidup lainnya. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki/17)

PALU, beritapalu.NET | Sekitar seribuan tenaga perawat yang berstatus honorer melakukan aksi unjuk rasa di depan Kantor DPRD Sulawesi Tengah, Jumat (7/7/2017) pagi.

Perawat honor yang bertugas di sejumlah rumah sakit, puskesmas, pos yandu dan lembaga kesehatan lainnya berasal dari seluruh kabupaten se Sualwesi Tengah itu menuntu agar kesejahteraannya diperbaiki.

“Kami hang hadir di sini sudah ada yang mengabdi 5 tahun, 10 tahun, 15 tahun bahkan 20 tahun, tapi kesejahteraan kami tidak kunjung meningkat,” ujar salahs eorang perwakilan perawat yang beroasi pada aksi unjuk rasa tersebut.

Ia mengaku, rata-rata mereka yang berstatus sebagai perawat honorer itu diupah sebesar Rp25 ribu per hari.

“Untuk menjadi perawat, kami harus biaya kuliah keperawatan antara Rp2 juta sampai Rp3 juta per semester. Begitu kami mengabdi, honor yang kami dapatkan hanya sebesar Rp25 ribu per hari. Ini artinya lebih mahal ongkos kuliahnya dari pada honor yang kami dapat,” sebutnya lagi.

Padahal katanya dalam orasinya, profesi perawat berhadapan dengan risiko yang terbilang cukup tinggi.

“Ribuan bahkan jutaan kuman yang kami hadapi ketika berhadapan dengan pasien. Tapi kompensasi yang kami dapat begitu rendah dan bahkan tak layak apalagi jika disandingkan dengan Upah Minimum Regional (UMR) yang berlaku sekarang,” teriaknya lagi yang disambut aplaus rekan-rekan perawat lainnya.

Mereka menilai, berlarut-larutnya problem rendahnya kesejahteraan para perawat menjadi indikasi bahwa profesi perawat olehpemerintah hanya dipandang sebelah mata.

“Bayangkan, setiap hari kita bergelut dengan orang sakit, tapi ketika perawat itusendiri yang sakit, taka ada sama sekali tunjangan kesehatan buatnya. Miris kan..!” teriaknya lagi.

Kondisi itu menurutnya tidak hanya berlaku bagi perawat yang berada di kota Palu dan sekitarnya, tetapi bahkan juga hampir merata di seluruh daerah di Sulteng.

“Kami hanya ingin menggugah anggota DPRD dan Pemerintah, tolonglah kami, kami terlunta-lunta dalam tugas kemanusiaan yang mulia ini, muliakan pula kesejahteraan kami, karena kami juga manusia,” ucapnya lirih dari atas kendaraan sound pada aksi tersebut.

Dalam catatan beritapalu.Net, jumlah tenaga perawat yang berstatus tenaga honorer dan bertugas di sejumlah lembaga kesehatan di SulawesiTengah mencapai sekitar 2.500 orang, 600 oarng diantaranya berstatus tenaga sukarela. (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here