Juli, Sekolah Lima Hari Mulai Diberlakukan  

0
160
Ilustrasi

JAKARTA, beritapalu.NET | Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy ternyata telah menandatangani Peraturan Menteri yang mengatur soal ketentuan sekolah 5 hari sepekan.

Hal ini disampaikan Muhadjir di kompleks Istana Negara, Senin (12/6). Namun pihaknya tidak menyebut nomor Permendikbud-nya. “Sudah terbit tanggal sembilan (9 Juni),” ucap Muhajir dilansir jpnn.com.

Muhadjir, juga menegaskan sekolah 5 hari sepekan berlaku mulai tahun ajaran baru 2017/2018 pada Juli mendatang. Selain itu, juga diterbitkan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19/2017 tentang Beban Tugas Guru.

PP ini mengalihkan beban mengajar tatap muka minimal 24 jam dalam sepekan menjadi 37,5 jam. Beban tersebut mengacu pada standar kerja Aparatur Sipil Negara (ASN).

“Jadi komplit dengan istirahatnya sekitar 40 jam per minggu. Itulah yang dipakai dasar untuk guru lima hari masuk kerja, sama dengan ASN yang lain kan,” jelas mantan rektor UMM itu.

Kaitannya dengan siswa menurut Muhadjir, dalam rangka penguatan karakter. Karena peserta didik akan lebih lama berada di sekolah untuk kegiatan ekstrakurikuler.

Sementara itu, ada  kekhawatiran sekolah lima hari mematikan sistem pendidikan lainnya. Misalnya, diniyah dan taman pendidikan Alquran (TPA/TPQ). Namun, Muhadjir mengatakan, peraturan terkait sekolah lima hari itu segera diterbitkan. Sebab, semuanya sudah siap. ’’Setelah itu kita sosialisasikan,’’ katanya di Jakarta kemarin (12/6).

Dia menegaskan, sekolah lima hari merupakan bagian dari program penguatan pendidikan karakter. Menurut Muhadjir, nantinya durasi siswa dalam sekolah lima hari saat berada di sekolah bertambah menjadi delapan jam. Itu berarti sekolah yang selama ini menerapkan enam hari belajar, muridnya nanti harus lebih lama di sekolah. Tidak lagi pulang pada 14.45.

’’Tetapi perlu dicatat, bukan berarti siswa selama delapan jam ada di kelas terus,’’ tuturnya. Dia mengatakan, siswa juga bisa diajak belajar di musala, masjid, surau, dan sejenisnya. Bahkan, untuk siswa non Islam juga bisa diajak belajar keagamaan di tempat ibadah masing-masing.

Lebih lanjut dia menjelaskan, untuk jenjang SD sederajat proporsi pendidikan karakternya sebanyak 70 persen. Sisanya, atau 30 persen, adalah porsi untuk pengetahuan. Dengan proporsi itu, maka kegiatan guru berceramah di kelas bisa dikurangi.

Sebagai gantinya anak-anak bisa diajak belajar di lembaga lain, termasuk diintegrasikan dengan madrasah diniyah bagi siswa muslim. ’’Antara sekolah dengan lembaga diniyah bisa berkoordinasi. Siswa tetap diawasi guru,’’ jelasnya.

Ketentuan penerapan sekolah lima hari itu bakal dituangkan dalam Permendikbud. Rencananya, Permendikbud bakal diterbitkan pekan ini. Sejumlah kalangan keberatan dan meminta Kemendikbud untuk mengkaji ulang rencana penerapan sekolah lima hari. Namun sampai saat ini keinginan Kemendikbud menerapkan sekolah lima hari secara nasional belum tergoyahkan. (jpnn.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here