Semangat Pancasila Vs  Pluralitas  Agama Di Indonesia

0
135
Fadli Rahman

Oleh: Fadli Rahman

SEJARAH Pancasila tidak terlahir dengan seketika pada tahun 1945, tetapi membutuhkan proses yang begitu panjang da melelahkan, dengan dilandasi oleh perjuangan Bangsa dan berasal dari gagasan serta kepribadian Bangsa Indonesia sendiri. Pancasila merupakan suatu landasan dasar yang terbentuk dari keberagaman masyarakatnya yang multi etnis,ras,kultur dan juga agama, namun tetap mempunyai satu arah tujuan dalam hidup berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

Dari proses konseptualisasi Pancasila, kita dapat melihat bahwa Pancasila bukanlah Ideologi yang lahir dari individu ataupun satu golongan tertentu melainkan dalam perumusanya turut pula melibatkan berbagai kalangan baik tokoh Nasionalis, tokoh sosialis, Agamais-religius, dan tidak ketinggalan pula para pemuka Agama dari sebuah kompromi yang luhur.

Dewasa ini, Bangsa Indonesia kembali diuji dengan polemik keretakan dan perpecahan masyarakatnya yang meligitimasikan Pluralitas Agama sebagai alat untuk melahirkan destabilisasi Bangsa, sehinggga disintegrasi menjadi jaminan yang harus ditebus dari polemik tersebut. Saling hujat-menghujat satu sama lain, klaim kebenaran mutlak atas kepercayaan dan keyakinan menunjukkan dekadensi moral dan watak yang semakin primitif  dalam menghadapi pluralitas dan keberagaman.

Pertanyaan krusial yang sah dan patut kita ajukan berhadapan dengan persoalan-persoalan yang ada adalah: apa peran agama dalam sebuah masyarakat yang berciri plural? Apakah (perbedaan) agama dan kaum beriman memberi kontribusi untuk terciptanya suatu hidup bersama yang mendukung rajutan pluralisme? Atau (perbedaan) agama justru menjadi penghalang bahkan penyulut konflik? Apakah gugusan kebenaran-kebenaran atau dogma yang diyakini masing-masing agama memantik konflik dan permusuhan dengan agama lain?

Apakah Ada Kontradiksi Antara  Pancasila Dan Pluralitas Agama?

Pluralitas atau kebhinekaan Agama di Indonesia merupakan suatu kenyataan aksiomatis (yang tidak bisa dibantah) dan merupakan keniscayaan sejarah (historial necessary) yang tidak dapat kita tolak keberadaannya. Lantas, bagaimana Pancasila menghadapi Pluralitas Agama di Indonesia? Apakah Pancasila justru melahirkan kontradiksi terhadap Pluralitas Agama tersebut? Untuk menjawab pertanyaan tersebut penulis mencoba mengulasnya dalam perspektif yang kontekstual bukan dalam kerangka tekstual yang justru akan mengaburkan kemurnian Pancasila itu sendiri.

Pertama, Sebagai sebuah Bangsa yang lahir karena perbedaan semestinya kita menyadari bahwa Pancasila sebagai falsafah negara, ideologi negara, landasan dasar dan sebagai pandangan hidup bangsa Indonesia, berarti Pancasila merupakan sumber nilai bagi segala penyelenggaraan negara baik yang bersifat kejasmanian maupun kerohanian (Agama-Konsep Ketuhanan). Hai ini berarti bahwa dalam segala aspek penyelenggaraan atau kehidupan bernegara, baik yang materiil maupun yang spiritual harus sesuai dengan nilai-nilai yang terdapat dalam sila-sila Pancasila secara bulat dan utuh.

Kedua, dalam perspektif penulis, antara Pancasila dan pluralitas Agama memiliki pertalian history yang sangat erat, secara kontekstual kita dapat melihat bahwa pada dasarnya Pancasila sejak awal telah menjiwai pluralitas Agama (Konsep Ketuhanan) secara utuh, hal ini dapat kita lihat dalam sila pertama yaitu “ Ketuhanan yang maha Esa”  mempunyai makna bahwa segala aspek penyelenggaraan hidup bernegara harus sesuai dengan nilai-nilai yang berasal dari Tuhan sesuai dengan keyakinan dan kepercyaannya masng-masing. Karena, sejak awal pembentukan bangsa ini, bahwa negara Indonesia berdasarkan atas Ketuhanan. Maksudnya adalah bahwa masyarakat Indonesia merupakan manusia yang mempunyai iman dan kepercayaan terhadap Tuhan, dan iman kepercayaan inilah yang menjadi dasar dalam hidup berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat.

Ketiga, yang ingin diwujudkan dan dikembangkan sila Ketuhanan Yang Maha Esa dalam Pancasila adalah adanya sikap saling menghormati, menghargai, toleransi, serta terjalinnya kerjasama antara pemeluk-pemeluk agama dan penganut kepercayaan yang berbeda-beda, sehingga dapat tercipta dan selalu terbinanya kerukunan hidup di antara sesama umat beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Untuk mewujudkannya, perlu adanya pemahaman yang utuh dan menyeluruh terhadap Pancasila dan sila-sila yang terkandung di dalamnya.  Dari pandangan tersebut, apakah ada kegaruan untuk mengakui bahwa Pancasila menjiwai segenap Pluralitas Agama di Indonesia? Atau justru kita masih menganggap Pancasila merupakan  indikator  disientegrasi Bangsa dan pemecah-belah  kerukunan ummat  beragama ?  Jika demikian, berarti kita masih memaknai Pancasila dalam kerangka tekstual belaka.

Pancasila Sebagai Ideologi Persatuan

Salah satu peranan Pancasila yang menonjol sejak permulaan penyelenggaraan Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah fungsinya dalam mempersatukan seluruh rakyat Indonesia menjadi Bangsa yang berkepribadian dan percaya pada diri sendiri.

Seperti kita ketahui, kondisi masyarakat sejak permulaan hidup kenegaraan adalah serba majemuk. Masyarakat indonesia bersifat multi etnis, multi religius dan multi ideologis. Kemajemukan tersebut menunjukkan adanya berbagai unsur yang saling berinteraksi. Berbagai unsur dalam bidang-bidang kehidupan masyarakat merupakan benih-benih yang memperkaya khasanah budaya untuk membangun Bangsa yang kuat, namun sebaliknya dapat memperlemah kekuatan Bangsa dengan berbagai percekcokan serta perselisihan bahkan disintegrasi Bangsa.

Dengan melihat situasi Bangsa saat ini, maka masalah pokok yang pertama-tama harus diatasi adalah bagaimana seluruh elemen masyarakat Indonesia menggalang persatuan dan kekuatan Bangsa dan menjadikan Pancasila sebagai pijakan bersama atas segala bentuk perdedaan yang ada. Dengan demikian, Pancasila berfungsi pula sebagai acuan bersama, baik dalam memecahkan perbedaan serta pertentangan diantara golongan.

Semangat Pancasila Dan Pendidikan Sebagai Kunci Atasi Perpecahan Bangsa

Wacana seputar perlunya Bangsa ini mengambil sikap tegas untuk segera membangun SDM lewat penguatan bidang pendidikan merupakan wacana yang sejak lama telah digelorakan. Namun tampaknya Pemerintah menjadikan wacana tersebut sebagai agenda yang terbelakang untuk diprioritaskan sencara konfrehensif.Jika kita telusuri kembali, sebetulnya sejak awal tahun 1980-an yakni ketika kebutuhan hidup masyarakat mulai diperoleh dibandingkan masa kemerdekaan Bangsa Indonesia harusnya berani menyatakan secara tegas untuk mulai membangun pendidikan secara terencana.

Dalam perspektif penulis, tanpa mengesampingkan faktor Ekonomi (Penguasaan Sumber Daya Alam) dan kedaulatan politik. Pendidikan menjadi faktor penting dalam mendesain kembali kerukunan antarkelompok etnis, ras dan agama di Indonesia. Mengutip kalimat Cak Nur (Nurcholish Madjid)“Pendidikan adalah kunci mengatasi perpecahan Bangsa dan membangun sumber daya manusia (SDM) yang mampu berkiprah dikancah Nasional maupun Internasional”.

Tentunya kita tidak menginginkan bangsa ini larut dalam situasi seperti sekarang yang berujung pada disintegrasi Bangsa. Diperlukannya semangat Pancasila dan Pendidikan sebagai solusi dalam mengatasi perpecahan ditengah-tengah masyarakat. Di sisi lain, hal ini menjadi tanggung jawab seluruh lapisan masyarakat dan peranan Pemerintah untuk menjadikan Pancasila sebagai dasar pijakan dalam merumuskan sebuah regulasi yang sifatnya mengarah pada sistem Pendidikan yang berkeadilan dan menyentuh seluruh elemen anak Bangsa.

*) Penulis : Fadli Rahman – Ketua Deputi Pendidikan dan Kebudayaan Ikatan Mahasiswa Perguruan Tinggi Swasta Sulawesi tengah (IMPTS Sul-Teng), Koord.Gerakan Aktivis Palu untuk Rakyat Sulawesi Tengah (GAPURA Sul-Teng) dan Presiden Mahasiswa STIK Indonesia Jaya Palu Per.2016/2017.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here