Published On: Thu, Apr 27th, 2017

Palu Godam Kaum Buruh Itu Bernama Neoliberalisme

(Tulisan Menyambut Hari Buruh Internasional (May Day) Tahun 2017)

M. Ikbal Ibrahim

Oleh: Muh Ikbal A. Ibrahim

PERJUANGAN kaum buruh menuntut hak hidup layak bukan hal baru. Abad 19 Sejak berdirinya sistem kapitalisme, sejak itu pula penghisapan terhadap buruh dimulai sampai saat ini. Revolusi borjuis di Perancis dan Revolusi Industri di Inggris menjadi basis bagi dunia baru yang berkembang melalui sistem kerja upahan.

Aspek Historis May Day

Hari buruh internasional (may day) lahir dari perjuangan panjang buruh menuntut pengurangan jam kerja. Sebab, dalam fase awal kapitalisme rata-rata buruh bekerja 18-20 jam dalam sehari. Pada tahun 1806 pemogokan pertama dilakukan oleh buruh Kanada. Pada tanggal 5 September 1882, parade Hari Buruh pertama diadakan di kota New York dengan peserta 20.000 orang yang membawa spanduk bertulisan 8 jam kerja, 8 jam istirahat, 8 jam rekreasi. Maguire dan McGuire memainkan peran penting dalam menyelenggarakan parade ini. Pada tahun 1886 Federation Of Organized Trades and Labour Unions mengadakan kongres dan menetapkan 1 Mei sebagai hari perjuangan buruh sedunia dan tuntutan 8 jam kerja menjadi tuntutan utama pada kongres ini.

Kondisi pekerjaan dan kehidupan buruh diperiode ini memang sangat memprihatinkan. Selain dihisap dari jam kerja yang pendek, mereka juga dihisap dengan upah yang sangat murah, serta lingkungan kerja yang tidak layak dan kumuh. Belum lagi penghisapan terhadap buruh anak-anak. Semua perisitiwa ini menggambarkan kelamnya dasar bagi revolusi industri di Inggris.

Karl Marx dalam Capital Jilid 1 memaparkan kondisi buruh anak-anak di Inggris “anak-anak berumur 9 atau 10 tahun diseret dari tempat tidur mereka pada jam 2,3,4 pagi dan dipaksa bekerja sampai 10,11,12 malam demi mempertahankan hidup mereka. Sementara anggota badan mereka merana, wajah mereka memucat, tubuh mereka mengecil”.

Kondisi-kondisi diatas menjadi pemantik bagi perjuangan buruh menuntut upah dan kondisi kerja yang layak. May Day lahir dari penindasan yang tak mengenal kemanusiaan kaum borjuis terhadap buruh atas dasar laba. Babak sejarah baru dimulai, antara perjuangan pekerja upahan yang menuntut hak hidup layak disatu sisi dan kaum borjuis yang membangun istana megah modalnya melalui penghisapan yang tak kenal ampun terhadap buruh.

Neoliberalisme dengan  Wajah Baru Ekploitasi Buruh

Neoliberalisme, sebagai mazhab ekonomi baru yang mengemuka di dekade 70-an. Lewat dua pelopor praktiknya Margareth Teacher di Inggris dan Ronald Reagan di Amerika. Ditambah dengan upaya Tiongkok mereformasi ekonominya dari awalnya tertutup menjadi semi liberal. Neoliberalisme menjadi wajah baru kapitalisme yang lahir atas kritik model ekonomi Keynesian “Welfare State” atau negara kesejahteraan.

Indonesia sendiri mulai mengadopsi resep neoliberalisme dimulai pasca krisis moneter tahun 1998. Kehancuran ekonomi nasional pasca krisis, menjadi pintu masuk Neoliberalisme menguasai Indonesia. Berbagai bantuan semu dilakukan melalui pinjaman hutang dengan syarat Indonesia menerima Whasington Consesus seperti privatisasi, deregulasi, penghapusan subsidi, politik upah murah, dan lain-lain.

Sebagai sistem ekonomi dengan wajah baru Neoliberalisme juga menyasar kaum buruh Indonesia. Problem yang menyelimuti kaum buruh Indonesia seputar upah murah, komersialisasi jaminan sosial, minimnya pengawasan, regulasi yang diskrimintif, sistem kerja kontrak dan out sourching, dan akhir-akhir ini perihal tenaga kerja asing.

Aspek upah, Indonesia merupakan negara dengan upah yang masih terbilang rendah dibanding Singapura dan Malaysia. Kita terbilang rendah 2-3 kali lipat dibanding dua negara tersebut. Politik upah murah ini memang sengaja di ciptakan untuk merangsang investasi asing masuk ke Indonesia. Politik upah murah linear dengan liberalisasi ekonomi.

Kasus-kasu pelanggaran hak-hak buruh juga terus terjadi. Tingkat jaminan keselamatan kerja buruh sangat minim. Buruh bekerja dibawah bayang-bayang kecelakaan kerja, cacat, dan bahaya lainya. Jika kita melihat angka kecelakaan kerja dalam rentang dua tahun terakhir yakni : angka meninggal (7120 kasus) ,angka cacat fungsi (12.030 kasus), angka cacat sebagian (8100 kasus), dan angka cacat total tetap (115 kasus).

Problem kedaulatan Indonesia dimata bangsa lain juga kian tergerus. Berbagai kasus kriminalisasi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri seakan tak ada habisnya. Berdasarkan pengadvokasian buruh Migran, Migrant Care, menyebut jumlah kasus kekerasan terhadap TKI mencapai 5.413 kasus. Tindakan kekerasan itu paling banyak terjadi di Timur Tengah dan Malaysia.

Regulasi yang lahir di era neoliberalisme juga hanya menjadi pelayan bagi kepentingan investasi. Misalnya PP 78 Tahun 2015 tentang pengupahan, mendasari penentuan upah setiap tahun pada angka inflasi dan pertumbuhan eknomi nasional. Artinya jika inflasi turun dan pertumbuhan ekonomi baik maka upah buruh juga baik, namun sebaliknya jika inflasi tinggi dan pertumbuhan ekonomi menurun maka upah buruh akan sangat rendah. Hal yang miris adalah buruh menjadi penanggung beban kesalahan pemerintah dalam mengatur rumah tangga perekonomian.

Olehnya, perjuangan di Hari Buruh Internasional (May Day) kali ini adalah menempatkan musuh pokok buruh yakni sistem neoliberalisme. Akar masalah dan kemiskinan buruh adalah akar sistemik yang integral dengan sistem ekonomi yang dianut negara. Neoliberalisme sebagai bentuk baru liberalisasi ekonomi menempatkan buruh sebagai kelompok utama yang termarjinalkan dalam upaya akumulasi modal.

Selain itu, perjuangan anti neoliberalisme mesti menawarkan proposal anti neoliberalisme. Sejauh ini, pikiran-pikiran para pendiri bangsa (founthing father) masih relevan untuk dijadikan pedoman. Dalam sistem ekonomi bangsa Indonesia, pasal 33 UUD 1945 mesti menjadi pijakan pembangunan ekonomi nasional. Sebab logika negara dan rakyat mesti diatas logika investasi dan lembaga keuangan internasional. Olehnya perlawanan terhadap neoliberalisme adalah upaya untuk kembali melaksanakan pasal 33 UUD 1945.

Selamat Hari Buruh Internasional (May Day) Kaum Buruh Indonesia.

*) Penulis adalah ketua Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI) Sulawesi Tengah.

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

%d bloggers like this: