Pemantauan Hama dan Penyakit Ikan di Kabupaten Donggala

0
246
Fardi Kallang, SH

Oleh :Fardi Kallang

TAK ada yang menduga bahwa di tengah ribuan hektar perkebunan sawit terdapat potensi budidaya ikan air tawar dengan komoditas Nila, Koi dan ikan lele. Yah begitulah kondisi kecamatan di daereah Riopakava daerah yang terletak sekitar 150 km dari kota kabupaten Donggala.

Dengan melihat potensi yang ada utamanya persediaan sumber air tawar yang sangat memadai masyarakat desa Topiora Kec. Riopakava dan sekitarnya memanfaatkan pekarangan sawit untuk melakukan budidaya ikan air tawar.

Dalam pemantauan hama dan penyakit ikan tahun 2017 riopakava menjadi salah satu titik pengambilan sampel hal ini dilakukan karena di kecamatan riopakava Kabupaten Donggalapada dua tahun silam ditemukan hama dan penyakit ikan karantina dari golongan bakteri yakni Aeromonas Salmonicida.

Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui dan menginventarisir jenis Hama dan Penyakit Ikan Karantina (HPIK), inang serta daerah penyebarannya dan untuk mendapatkan data penyebaran HPIK sebagai bahan penyusunan peta daerah sebar HPIK, dan dalam rangka menetapkan kebijakan operasional tindakan karantina ikan khususnya di Kab. Donggala.

Salah satu wilayah yang memiliki potensi kelautan dan perikanan yang besar adalah Selat Makassar yang masuk ke dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 713 bersama dengan Teluk Bone, Laut Flores, dan Laut Bali. Penetapan WPP ini berdasarkan pada Peraturan Menteri Perikanan dan Kelautan nomor 18 tahun 2014.

Kabupaten Donggala merupakan salah satu wilayah di Provinsi Sulawesi Tengah yang memiliki wilayah pesisir pantai di sekitar Selat Makassar. Berdasarkan data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Donggala, panjang pesisir pantai Kabupaten Donggala adalah 414 km dengan 15 pulau kecil yang berada di sekitarnya. Data yang dihimpun dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) Kabupaten Donggala 2014-2019, menunjukkan bahwa potensi perikanan tangkap yang dapat dicapai adalah sekitar 99.100,8 ton/tahun.

Subsektor perikanan, yang termasuk ke dalam sektor pertanian, telah memberikan kontribusi yang masih kecil dan belum dimaksimalkan dari tahun ke tahun bagi Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Kabupaten Donggala. Pada tahun 2008, subsektor perikanan memberikan kontribusi sebesar 174.547 juta rupiah atau 6,24% dari keseluruhan PDRB Donggala.

Jumlah ini meningkat pada tahun 2012 yang mencapai 336.882 juta rupiah atau 6,43% dari keseluruhan PDRB Donggala (BPS Kabupaten Donggala, 2013). Meskipun Donggala memiliki potensi lestari perikanan yang besar, produksi perikanan di Kabupaten Donggala hanya sebesar 18.889,9 ton pada tahun 2012.[1] Jumlah ini menurun secara drastis karena pada 2011 jumlah produksi perikanan di Donggala mencapai 37.865,7 ton (BPS Kabupaten Donggala, 2013). Jika dikalkulasikan, produktivitas dari sektor kelautan di Donggala hanya terserap sekitar 19,06% pada 2012.

Pemantauan Hama dan Penyakit Ikan Karantina adalah suatu rangkaian pemeriksaan yang sistematik terhadap suatu populasi ikan, untuk mendeteksi adanya hama dan penyakit ikan karantina, dan memerlukan adanya pengujian terhadap sampel yang berasal dari populasi tertentu.

Target Target utama pemantauan adalah Hama dan Penyakit Ikan Karantina yang tercantum dalam Keputusan Menteri Nomor KEP.26/MEN/2013 tentang Penetapan Jenis-Jenis Hama dan Penyakit Ikan Karantina, Golongan, Media Pembawa dan Sebarannya yang terdapat pada Kawasan Minapolitan; Sentra-sentra usaha perikanan; Pasar-pasar ikan hidup dan/atau farm; Area perairan umum (perairan air tawar, air payau dan laut).

Pelaksana Pemantauan HPIK adalah Petugas Karantina Ikan /Petugas Hama Penyakit Ikan (PHPI) Ahli atau Terampil yang memiliki kompetensi dan ditunjuk oleh Kepala Stasiun KIPM Kelas I Palu dan didampingi oleh petugas teknis/penyuluh dari dinas kota/kabupaten setempat.

Pemantauan hama dan penyakit ikan adalah merupakan kegiatan yang rutin dilaksanakan oleh Stasiun KIPM Kelas I palu dalam setiap tahunnya yakni pada musim hujan dan musim kemarau untuk di kabupaten Donggala sendiri komoditas yang dipilih adalah Ikan air tawardanIkan air payaudiantaranyaadalahikanlele, untukkomoditastawardanudang vannameipadakomoditaspayau dengan target pemeriksaan HPIK WSSV, IMNV dan AHPND/EMS mengigat bahwa komoditas udang adalah salah satu media pembawa (MP) yang bernilai ekonomis penting, potensial dan dominan dilalulintaskan yang merupakan inang atau carrier dari hama penyakit ikan karantina.

Selain melakukan observasi dan wawancara dengan petani tambak juga dilakukan pengambilan sampel ikan/udang untuk kemudian dilakukan pemeriksaan secara klinis dan laboratoris jumlah sample dalam setiap area budidaya berdasarkan kaidah-kaidah ilmiah terutama dalam hal metode dan jumlah.

Di  tahun 2016 lalu Berdasarkan hasil pemeriksaan di laboratorium Stasiun KIPM Kelas I Palu serta hasil uji konfirmasi dari laboratorium rujukan, Negatif HPIK White spot syndrome virus(WSSV), Infectious Myonecrosis virus (IMNV)dan Acute hepatopancreatic necrosis disease/Early Mortality Syndrome(AHPND/EMS) di kabupaten Donggala;

Berbagai permasalahan dari petani tambak yang ditemui di lapangan diantaranya adalah pasokan bibitikan yang secara kualitas dan kuantitas kurang memadai, kematian udang pada umur 30 s.d 45 hari pasca penebaran, udang kerdil atau pertumbuhan yang tidak baik dan tidak seragam, bahkan terdapat cerita dari pembudidaya ikan mengatakan udang yang dipelihara hilang sebelum masa panen bahkan bangkainya pun dilokasi tambak tidak ditemukan yang kemudian dianggap sebagai hal yang mistik.

Harapan pembudidaya ikan dihampir setiap tempat yang dilakukan titik pemantauan dan pemgambilan sempel adalah adanya perhatian dan bantuan pemerintah dalam hal pembinaan dan perkembangan budidaya ikan/udang seperti pasokan bibit dan aspek pemasaran yang bisa difasilitasi atau di motori pemerintah, adanya bantuan teknologi dalam persiapan budidaya dan perbaikan tambak (Bantuan alat berat), Penanggulangan terhadap adanya wabah atau serangan penyakit, serta adanya penyuluhan terkait cara budidaya ikan yang baik secara berkelanjutan.

Akhirnya semoga perjalanan panjang ini membawa hujan rahmat bagi perkembangan kegiatanbudidaya air tawardanpayau utamanya dalam upaya mencegah masuk dan tersebarnya hama dan penyakit ikan karantina di Kabupaten Donggala.

*) Penulis adalah Fungsional PHPI Pada Kantor Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Palu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here