Waspada Depresi

0
240
dr Rais Reskiawan

Oleh: dr Rais Reskiawan

TANGGAL 7 April ditetapkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) sebagai Hari Kesehatan Sedunia. Tahun ini WHO mengambil tema depresi dan di saat bersamaan, Sulawesi Tengah ditetapkan sebagai provinsi dengan angka gangguan mental emosional tertinggi di Indonesia (Riskesdas 2013).

Secara global, lebihdari 350 juta orang sedang mengalami depresi. Selain itu, depresi juga merupakan factor utama penyebab disabilitas dan merupakan beban besar dalam pembiayaan kesehatan suatu Negara (WHO, 2017). Sementara itu, di Indonesia, hasil Riskesdas 2013 menunjukkan terdapat 14 juta orang yang mengalami gangguan mental emosional dengan gejala utama depresi dan kecemasan.

Mengenal Depresi

Depresi adalah salah satu gangguan kesehatan mental yang terjadi sedikitnya selama dua minggu atau lebih yang memengaruhi pola pikir, perasaan, suasana hati (mood) dan cara menghadapi aktivitas sehari-hari. Masalah-masalah tersebut dapat berkembang menjadi kronis sehingga pada umumnya membuat penderintanya menjadi tidak produktif. Bahkan dalam tahap yang lebih parah, depresi dapat mendorong tindakan bunuh diri.

Di tahun 2012, setiap satu menit terjadi minimal dua kasus bunuh diri di seluruh dunia. (WHO, 2012).

Depresi juga merupakan factor pencetus berbagai penyakit seperti HIV, penyakit kardiovaskular dan diabetes mellitus. Hal ini membuat depresi menjadi lebih kompleks. Penderita depresi yang menunda berobat lebih dari 11 bulan akan mengalami keterlambatan dalam proses pemulihannya.

PendekatanHolistik

Depresi disebabkan oleh beberapa factor seperti factor sosial, psikologis dan biologis. Karena disebabkan oleh multi faktor, penanganan depresi harus menggunakan pedekatan yang holistik. Penanganan yang berfokus pada upaya kuratif (pengobatan) tidak akan mungkin berjalan efektif. Upaya kuratif menelan biaya yang sangat besar dan memerlukan keterlibatan banyak sumber daya manusia, seperti Dokter Jiwa, Psikiater, perawat jiwa dan tenaga kesehatan lainnya.

Terdapat dua jalan dalam implementasi pendekatan holistik, yaitu kebijakan secara makro dan mikro. Pendekatan secara makro melihat pada variable-variabel yang lebih besar yang berpengaruh terhadap kesehatan jiwa. Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa nutrisi, kondisi ekonomi termasuk peneyediaan lapangan pekerjaan dan tingkat pendidikan menjadi factor penentu kesehatan mental. Sebuah sistemik review menunjukkan peningkatan kualitas perumahan dan ekonomi pada sebuah populasi menunjukkan peningkatan kualitas kesehatan mental yang menjanjikan. Sebaliknya, kualitas pendidikan yang rendah akan membatasi akses pada peningkatan kualitas hidup. Nutrisi, khususnya peningkatan akses konsumsi yodium memiliki korelasi positif terhadap kualitas kesehatan mental individu.

Pada pendekatan mikro, penguatan layanan primer dan ketersediaan dokter jiwa memegang peranan yang sangat penting. Rendahnya jumlah pelayanan kejiwaan di Indonesia, yaitu hanya 2% Rumah Sakit Umum dan 10% puskesmas yang memiliki pelayanan kejiwaan (Kemenkes, 2011) tentu saja membuat akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan jiwa menjadi terbatas.

Persoalan lainnya terletak pada rendahnya jumlah dan distribusi tenaga kesehatan seperti dokter jiwa, perawat jiwa dan psikolog. Sebagai perbandingan, rasio Dokter jiwa dan penduduk di Jepang adalah1 : 1000 sementara di Indonesia 1 : 500.000.

Pemerintah sebenarnya bisa “mengakali” masalah tersebut dengan mengimplementasikan UU nomor 18 tahun 2014 tentang kesehatan jiwa dengan menyelenggarakan pelayanan kesehatan jiwa terintegrasi di puskesmas dan klinik pratama. Untuk itu, peningkatan kapasitas dokter dan perawat di puskesmas dan klinik harus digalakkan secara massif.

Peranan Orang Tua

Usia muda termasuk remaja adalah salah satu kelompok usia yang berisiko mengalami depresi. Depresi pada usia muda pada umumnya lebih sulit diatasi karena mereka cenderung lebih tertutup. Akibatnya, depresi pada usia muda baru dapat terdeteksi ketika telah terjadi penurunan produktivitas secara signifikan atau ketika mereka telah melukai diri bahkan melakukan tindakan bunuh diri.

Studi terkini menunjukkan korelasi positif antara depresi dan sosial media. Ketidakmatangan anak muda dalam menghadapi kemarahan, tindakan intoleransi dan berbagai komentar di sosial media dapat memicu terjadinya depresi. Penggunaan sosial media yang berlebihan juga dapat menyebabkan hal yang sama.

Oleh karena itu, keterlibatan orang tua menjadi sangat esensial dalam penanggulangan depresi. Orang tua perlu mendidik anaknya untuk mampu berpikir positif dan bijaksana dalam menghadapi persoalan. Hubungan orang tua dan anak juga harus dibangun dengan baik, sehingga orang tua dapat dijadikan tempat berdiskusi yang nyaman bagi anak. ***

*) Penulis adalah Dokter Internsip RS Madani Kota Palu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here