Published On: Mon, Mar 20th, 2017

Momentum Elektoral: Urgensi Gerbong Politik dan Perjuangan Ideologis

M. Ikbal Ibrahim

Oleh: Muh. Ikbal A. Ibrahim

PERJUANGAN rakyat tidak hanya memiliki satu bentuk perjuangan, namun perjuangan rakyat mesti dielaborasi demi mewujudkan tujuan perjuangan. Tentu, apapun bentuk dan model perjuangan mesti mengikutsertakan rakyat menjadi actor utama yang aktif ikut serta dalam perjuangan tersebut. Dalam logika sederhana rakyat menjadi bagian penting dari lahirnya masyarakat baru.

Sejauh ini, penulis memahami terdapat dua bentuk perjuangan yakni perjuangan ekstra parlementer dan perjuangan lewat jalur parlemen. Memilih salah satu diantaranya menurut hemat penulis tak menjadi soal, bahkan mengelaborasi keduanya juga bukan hal yang mustahil. Hal yang terpenting adalah prinsip-prinsip utama perjuangan tetap dipegang teguh, yakni percaya pada kekuatan masa rakyat, pewadahan dalam bentuk organisasi perjuangan, ideologisasi, partisipatif dan demokratis dalam aktifitasnya.

Alam Demokrasi Liberal dan Perjuangan Ideologis

Suprastruktur masyarakat baik system politik atau demokrasi merupakan cerminan dari corak produksi atau system ekonomi. Setiap perubahan dalam corak ekonomi akan diikuti oleh perubahan perangkat system politik dan demokrasi. Selain konfigurasi keduanya juga tak kalah pentingnya untuk menunjang perubahan ekonomi dan politik dibutuhkan perangkat ideologis atau konsepsi-konsepsi ilmiah dalam mendukung system tersebut. Perangkat ideologis ini bertujuan mengubah maendseat rakyat, bahwa system ini bukanlah hal mustahil namun alamiah.

Lihat saja pasca perang dunia ke II, konstalasi ekonomi politik global berubah dari model system ekonomi model Keynesian menjadi Neoliberalisme. Bahkan, dibeberapa Negara rezim yang terpilih secara demokratis dijatuhkan dan diganti oleh rezim-rezim kediktatoran. Dalam segi konsepsi ideologis system ekonomi yang baru ini didukung oleh akademisi-akademisi seperti Friederick Von hayek dan Milton Fridmen. Konsepsi mereka dibangun dari asumsi bahwa peran negara dalam ekonomi terlalu besar sehingga membahayakan inisiatif individu dan persaingan pasar.

Sistem ekonomi neoliberalisme ini menciptakan suatu tatanan dunia baru yang sering kita sebut globalisasi. Dalam politik menciptakan model demokrasi yang liberal. Demokrasi yang hanya memakai topeng demokrasi tetapi logikanya mengikuti logika pasar. Lihat saja saat ini, untuk ikut dalam kontestasi politik membutuhkan biaya yang cukup tinggi. Partai politik didominasi oleh pengusaha dan konglomerat. Inisiatif dari rakyat untuk berkuasa dan mewakili aspirasi kelompoknya menjadi mustahil saat ini. Tak pelak lagi, kekuasaan diisi oleh mereka yang mendefinisikan kekuasaan sebagai alat menumpuk kekayaan, sehingga mental pejabat saat ini dibentuk oleh logika-logika oportunis, pragmatis, bahkan mayoritas tersangkut korupsi akibat tingginya konsumsi (baca: kebutuhan) dibanding produksi (baca: penghasilan).

Situasi ini menuntut inisatif dari berbagai komponen masyarakat untuk merubahnya. Logika demokrasi liberal adalah logika kapitalisme, dimana logika pasar yang dimasukan dalam mekanisme politik. Slogan kompetisi, inisiatif individu, politik yang syarat modal, adalah jargon-jargon kapitalisme yang sudah menjadi pijakanya sejak revolusi borjuis di Prancis. Pada akhirnya demokrasi didefinisikan sempit hanya sebatas demokrasi politik saja, tetapi dalam ekonomi terminologi “demokrasi” ibarat mimpi, sebab, kemiskinan masih merajalela, ketimpangan sosial, sulitnya akses pendidikan dan kesehatan, upah murah, dan sebagainya.

Perjuangan melawan demokrasi liberal dan perangkat ideologisnya adalah juga perjuangan ideologi. Perjuangan antara penganjur-penganjur demokrasi liberal dan neoliberalisme disatu sisi, dan perjuangan kelompok-kelompok ideologis anti neoliberalisme dan demokrasi liberal disisi yang lain. Sederhananya perjuangan 99% rakyat melawan 1 % elit dan aparatus pendukungnya.

Pentingnya Gerbong Politik Ideologis dalam Perjuangan Elektoral

Perjuangan atas system ini menuntut suatu perjuangan yang sistematis dan dilakukan oleh suatu kekuatan politik besar dan meluas. Karena perebutan kekuasaan antara kekuatan rakyat dan elit adalah perjuangan ideologis. Maka dasar membangun perjuangan adalah kesamaan ideologi dan cara pandang serta berangkat dari keresahan dan keprihatinan yang sama. Sebab, situasi ini jika hanya dilawan oleh segelintir orang, apalagi individu yang superior tidak akan menemui keberhasilan.

Olehnya, seluruh spektrum politik dan ideologi yang menyatakan keberpihakan pada perjuangan rakyat, mesti menyatukan fikiran, tenaga, dan sumber daya, untuk membangun suatu kekuatan politik yang besar dan meluas. Hanya dengan usaha-usaha seperti ini perjuangan menjadi rasional dan realistis. Tentu tak sebatas membangun gerbong politik, tetapi menyusun kerangka perjuangan, program, agenda kerja, dan menyusun materi-materi ideologisasi.

Perjuangan electoral sekalipun, baik itu Pemilihan Legislatif (Pileg), Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), mesti membutuhkan prasyarat gerbong politik yang ideologis. Sebab, jika momentum Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dan Pemilihan Legislatif (Pileg) kita lewatkan maka kita sama saja membiarkan kekuasaan di isi oleh kelompok oportunis, pragmatis, non-ideologis. Pilihan antara mengintervensi atau tidak secara gerbong sama halnya dengan memilih membangun perjuangan untuk kesejahteraan rakyat atau membiarkan penindasan terus terjadi.

Tanpa inisiatif bersama dalam bentuk wadah yang besar, perjuangan rakyat terlebih dalam momentum electoral yang syarat modal hanya akan sia-sia. Setiap individu dapat percaya diri untuk berkuasa tetapi tanpa perjuangan kolektif maka hanya akan mengulang kesalahan yang sama. Setiap individu gerakan berhak memilih antara perjuangan bersama atau tidak, tetapi hasil juga berhak menentukan menang dan kalah. Karena perjuangan perebutan kekuasaan adalah tentang menang dan kalah, tugas kita memilih apakah pemenangnya adalah kelompok anti penindasan atau pro penindasan. ***

Penulis adalah Ketua Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI) Sulawesi Tengah.

 

Leave a comment

XHTML: You can use these html tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

%d bloggers like this: