Menelusuri Keberadaan Warisan Budaya Dunia (Lukisan) di Bumi Nusantara

Yusak Jore Pamei

Oleh Ir. Yusak Jore Pamei, MA

PERCAYAKAH Anda bahwa  lukisan  para maestro dunia seperti  Vincent Van Gogh, Pablo Picasso, Claude Monet, Marc Chagall, Paul Gauguin dan Henri Matisse sekarang ada  di kota Palu, Sulawesi Tengah?

Anda penasaran dan ingin tahu  bagaimana warisan budaya dan peradaban dunia ini bisa sampai  ke  Indonesia dan ditemukan  di seluruh pelosok Nusantara?

Artikel ini merupakan  hasil reportase investigatif  penulis terhadap   keberadaan benda-benda seni warisan Kolonial Belanda di Bumi Nusantara. Penelusuran dilakukan penulis baik ketika menjadi wartawan Ibukota maupun ketika menjadi art dealer  di Jakarta dan Bali  dalam kurun 15 tahun (2000-2015).

 Kaya Warisan Sejarah dan Budaya Dunia

Selain dikenal karena keindahan alam serta  keanekaragaman  hayatinya, Indonesia  juga ternyata  kaya akan warisan budaya dan peradaban dunia. Banyaknya temuan benda-benda keramik/porselen  asal Cina dan Jepang, juga kain-kain tenun India berumur ratusan tahun di  pelosok Nusantara selama ini, misalnya, membuktikan hal itu. Namun, tahukah Anda bahwa ternyata di  Indonesia juga sering   ditemukan  benda benda seni karya para seniman terkenal dunia, seperti  Van Gogh, Picasso, Monet, Renoir dll, peninggalan Belanda di Indonesia.

Anda skeptis, tidak percaya? Anda mau bukti? Sebelum Anda  melihat secara fisik benda-benda seni kelas dunia itu, baiklah kita  menyimak fakta historis berikut:

Sejak Zaman VOC

Claude Monet (1840-1926), found in Jakarta, 2008 (Oil on canvas, 50 by 60 cm)

Buku Verlaat Rapport Indie(Laporan Terlambat dari Hindia Belanda/1968) mengungkap bahwa  bahkan sejak jaman VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie/1602-1800), orang-orang Eropa (khususnya Belanda) sudah membawa  koleksi-koleksi barang seni mereka ke Bumi Nusantara. Sementarasaat itu, jual beli benda seni dan lelang lukisan sudah berlangsung rutin di Batavia,(sekarang Jakarta).   Diantara karya-karya seni  yang dilelang di Bataviasche Kunstkring pada tahun 1930 s.d1938 adalah karya-karya  Van Gogh, Picasso, Matisse, Monet, Manet, Renoir, Modigliani, Marc Chagall, Paul Gauguin, Edgar Degas dll, para seniman yang mempengaruhi sejarah kebudayaan dan peradaban dunia.

Beberapa diantara  lukisan yang ditemukan penulis, dilengkapi dengan sertifikat keaslian (certificate of authenticity) dan riwayat kepemilikan (provenance), bahkan ada juga yang disertai surat pribadi sang artis (Raoul Dufy) kepada sahabatnya di Batavia, tahun 1949.

Masih menurut buku karya J De Loos- Haaxman itu, bahwa  lelang benda seni yang dilakukan secara rutin setiap tahun itu diprakarsai oleh  Mr Regnault, art dealer berkebangsaan Prancis yang bermarkas di Paris.Memang, sejarah seni rupa dunia mencatat bahwa  sebagian besar pelukis dunia pernah hidup dan meniti karir profesionalnya di Paris,  ibukota Prancis, yang merupakan Ibukota seni dunia waktu itu. Sebagai contoh, Vincent van Gogh (1853-1890) asal Belanda,  Diego Rivera (1886-1957) asal Meksiko,  bahkan  Raden Saleh (1807-1880) pelukis legendaris Indonesia, pernah tinggal dan berkarir  di Paris,  yang tersohor karena keberadaan Louvre,   museum tertua dan terbesar di dunia itu.

Mungkin Anda semua bertanya, bagaimana karya-karya seni bernilai jutaan dollar itubisa sampai  ada di Kota Palu, SulawesI Tengah?

Jawaban terhadap pertanyaan itu cukup panjang dan pribadi sifatnya, maka ada baiknya bila hal itu diuraikan pada kesempatan lain.

Ditemukan di Kota-kota Tua

Kembali ke kisah penelusuran keberadaan warisan budaya dunia tadi.

Umumnya lukisan itu ditemukan di kota-kota tua  tempat peristirahatan atau daerah  perkebunan  Belanda di masa lalu, seperti kota Bogor (Buitenzorg), Jakarta (Batavia), Sukabumi, Malang dan Denpasar (Bali). Untuk Jakarta, kebanyakan lukisan itu ditemukan di kawasan Menteng- Cikini, Jakarta Pusat, yang merupakan perumahan elit para petinggi dan orang kaya Belanda di masa lalu.

Ada  lukisan yang diperoleh dari keluarga-keluarga terpandang Indonesia yang pada masa sebelum kemerdekaan, sudah malang-melintang di Eropa. Salah satu lukisan Paul Gauguin, misalnya, didapatkan penulis di Bali, dari pedagang yang membelinya dari cucu seorang Ningrat Bali yang pernah menjadi petinggi RI di jaman Presiden Soekarno.

Masih di Pulau Dewata  (pada Juli 2008), di ruang makan salahsatu kolektor terkenal di Denpasar, terpampang lukisan karya Pablo Picasso yang objeknya mirip Guernica yang sangat terkenal itu, tapi dengan ukuran yang jauh lebih kecil. Menurut sang kolektor, lukisan yang dilengkapi dengan  dokumen keaslian dan riwayat kepemilikan (provenance) itu dibelinya dari seorang warga Australia yang beberapa tahun lalu, karena pelanggaran keimigrasian, harus dipulangkan ke negaranya (dipersonanongratakan)  oleh pihak  imigrasi.

Paul Gauguin (1848-1903), found in Bondowoso, East Java, (2010), (Oil on canvas, 40 by 50 cm)

Ada juga lukisan (Francisco Goya) yang didapatkan penulis dari seorang pedagang lukisan yang mengaku membelinya dari seorang koster (penjaga) di salah satu gereja tua yang sedang direnovasi di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur. Lukisan cat minyak di kanvas  ini menggambarkan Tuhan Yesus (Isa Almasih) sedang berdoa di Taman Getsemani beberapa saat sebelum penyalibanNya. Rupa-rupanya lukisan yang sudah lama disimpan di gudang itu sudah ada di gereja Protestan, tempat beribadah orang-orang Belanda di Batavia.

Selain dari perumahan dan gedung tua eks Belanda, ada juga lukisan yang didapatkan penulis di toko antik bahkan  di toko barang bekas (loakan). Salahsatu lukisan Pablo Picasso didapat penulis di salahsatu kios toko antik di Jalan Surabaya, Menteng Jakarta Pusat (Mei 2008). Sementara satu lukisan hitam putih Vincent Van Gogh (petani kentang perempuan) didapatkan dipajang di kios barang bekas (loakan) di kawasan Jembatan Itam, Jatinegara, Jakarta Pusat (2005).  Menurut penuturan  pedagang antik di Jalan Surabaya, lukisan itu didapatnya dari salah satu rumah tua di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, sementara pedagang loak di Jatinegara mengaku membeli lukisan itu dari perumahan di Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Konsultasi dengan Para Pakar

Dalam melacak atau melakukan riset tentang keberadaan lukisan-lukisan warisan budaya dunia di Bumi Nusantara ini, penulis berkonsultasi dengan beberapa ahli atau pakar di bidang sejarah dan senirupa.

Beberapa dari  mereka adalah Prof Dr Toeti Heraty Roosseno (Toeti Aziz), Guru Besar Antropologi Universitas Indonesia, kolektor seni rupa yang juga  pemilik galeri seni dan Museum Cemara, Jakarta dan Dr Werner Kraus, ahli sejarah seni sekaligus kurator senirupa asal Jerman. Pertemuan dengan Prof Toeti Aziz berlangsung di Galeri-Museum Cemara Jakarta, Agustus 2012, sedangkan perjumpaan dan konsultasi saya dengan Dr Werner Kraus, berlangsung pada  saat Pameran Lukisan   danSimposium Internasional tentang Raden Saleh yang dilaksanakan Goethe Institut dan Kedutaan Jerman di Galeri Nasional, Jakarta, Juni 2012.

Prof Toeti Aziz sangat mengapresiasi gagasan dan upaya penulis untuk melakukan penelitian dan membukukan hasilnya agar lebih bermanfaat bagi  publik dan kemanusiaan. “Pak Yusak, saya salut  atas ikhtiar dan usaha  Anda  untuk meneliti keberadaan benda-benda seni warisan kolonial ini. Ini adalah world cultural heritage dan catatan sejarah hubuengan antar bangsa di masa lalu, bukan hanya milik sejarah bangsa Indonesia” kata Prof Toeti saat itu. Sebagai wujud apresiasinya Prof Toeti menghadiahi penulis buku: Hak Cipta Lukisan karya Dr Indah Noerhadi, dengan goresan pesan dan kesan pribadinya di halaman sampul dalam buku itu. Prof Toeti juga mengajak penulis untuk memajang koleksi lukisan itu di Galery Cemara, miliknya, yang kelak pada  2014 bermetamorfosa menjadi Galery-Museum Cemara, di Jalan Cemara, kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Namun dengan berbagai pertimbangan, penulis tidak/belum memenuhi niat baik dan ajakan untuk bekerjasama itu.

Vincent van Gogh (1853-1890), found in Jakarta, 2009 (Ink on paper, 52 x 40 cm)

Apresiasi positif dan membesarkan hati juga datang dari Dr Werner Kraus, yang juga mendukung agar hasil riset ini bisa dijadikan bahan studi dan disertasi doktor.  Dr Werner Kraus malah menyatakan kesediaannya untuk menjadi dosen pembimbing bagi penulis bila kelak terbuka jalan untuk melakukan studi lanjut ke Eropa.  “Amazing, You are very lucky as a researcher and  collector,” komentar Werner Kraus saat itu.

ApresiasiSenimandanBudayawanSulteng

Untuk lingkup Sulawesi Tengah, sejumlah perupa ternama dan budayawan daerah ini telah melihat secara fisik beberapa dari lukisan itu. Mereka adalah Endeng Mursalin, Febriandy, Jamrin Abubakar, Drs Zulkifli Radjamuda, M.Ed, Dr Suaib Djafar, Dr Dewi Abdullah dan Drs Hapri Ika Poigi, Msi, Ketua Dewan Kesenian Sulawesi Tengah.

Salvador Dali (1904-1989), found in Bogor 2011 (Oil on Canvas 40 by 50 Cm, with certificate of authenticity)

Zulkifli Radjamuda, pelukis yang juga adalah guru di SMAMadaniPalu, sangat antusias dan meyakini keaslian dari lukisan-lukisan itu. Zulkifli malah mengajak penulis untukmengadakan pameran lukisan saat event Gerhana Matahari Total pada bulan Maret  2016 lalu, dimana ribuan turis asing membanjiri kota Palu dan Sulawesi Tengah. Untuk itu, Zulkifli sampai membuat proposal tertulis pameran itu termasuk rincian personal dan pejabat serta instansi terkait sebagai panitia pelaksananya. Namun, dengan berbagai pertimbangan, termasuk aspek keamanan, penulis dengan berat hati menolak niat baik itu. Namun Zulkifli tidak patah arang. Dia ternyata  seorang perupa dan pendidik yang visioner, memiliki visi yang jauh ke depan.

“Perlu kita bentuk yayasan senirupa dan budaya lalu kita kerjasama dengan Pemerintah Provinsi Sulteng untuk membuat museum lukisan di Palu,” kata Zulkifli, yang meraihmaster pendidikannya di Inggrisitu. Dapat dipahami mengapa Zulkifli yang beberapa tahun sempat tinggal di Eropa itu begitu bersemangat. “Pak Yusak lukisan-lukisan ini hanya bisa kita lihat di museum-museum terkenal di Eropa,” ujarnya saat itu.

Sementaraketikamelihatlukisankarya Pablo Picasso danbeberapalukisanlain, DrSuaibDjafar, mantanKepalaDinasPariwisataSulteng, menyatakanidenyamenggagaspameranlukisan yang dirangkaikandenganhariulangtahunProvinsiSulteng.

“Bagussekalidanmomennya pas kalaukitabikinpameranlukisan yang dirangkaikandengan seminar internasionalpotensi  wisata daerah dalamrangka HUT ProvinsiSultengApril nanti,” kata SuaibDjafar.Perbincangan dengan Suaib, yang kinimenjabatDirekturUtamaPT Pembangunan Sulteng itu berlangsung saatkami bertemu di  peringatanHariLiterasiNasional di Kompleks Kantor GubernurSulteng, 20 Oktober 2016 lalu. Dalam perbincangan itu, hadir pula   Jamrin Abubakar, pemerhati dan penulis buku-buku sejarah Sulteng, yang ikut menyaksikan beberapa karya seni itu.

Perlu Dibukukan dan Dimuseumkan

Harus diakui bahwa dukungan dan apresiasi dari para ahli dan mereka yang kompeten dibidangnya sangat menginspirasi dan dibutuhkan dalam  menggarap suatu karya atau pekerjaan  yangbermanfaat untuk publik dan kemanusiaan. Namun, yang  tidak kalah pentingnya saat ini adalah kepedulian bersama masyarakat dan dukungan konkret Pemerintah dan instansi terkait untuk mendata, melestarikan dan memuseumkan warisanbudaya dunia yang ditemukan di Bumi Nusantara baik untuk kepentingan akademis-ilmiah maupun untuk kepentingan umum dan pembelajaran bagi generasi-generasi penerus bangsa.

Mengingat penting dan strategisnya nilai-nilai warisan sejarah budaya itu baik dari  aspek sejarah, ekonomi, pendidikan, antropologi, sosiologi maupun dari kacamata hubungan antar bangsa, maka kegiatan   pendataan, pendokumentasian dan pelestarian warisan budaya dunia di Bumi Nusantara ini sangat penting dan mendesak untuk dilakukan.

Sumbangsih Penting bagi Peradaban dan Kemanusiaan

Pendataan dan pendokumentasian mendesak dan perlu segera dilakukan untuk menyelamatkan  keberadaan benda-benda cagar budaya itu agar dapat bermanfaat bagi orang banyak serta kemanusiaan dan agar tidak “terbang” ke luar negeri  sebelum sempat di data dan didokumentasikan oleh pemerintah. Sudah menjadi rahasia umum bahwa  barang-barang seni dan antik  ini merupakan buruan para kolektor, pecinta seni  dan orang-orang berduit di seluruh dunia, terutama di negara-negara maju  dan makmur.

Pablo Picasso (1881-1973) found in Jakarta, 2010 (Mix media on paper, 41 by 32 Cm, with
certificate of authenticity)

Lagipula dari kacamata akademis-ilmiah, coba kita bayangkan! berapa judul buku, berapa judul skripsi sarjana, tesis master  dan disertasi doktoral bisa dihasilkan dari kajian di bidang sejarah seni rupa dan budaya ini. Berapa judul film  pula  yang dapat digarap atau mendapat inspirasi dari keberadaan dan riwayatnya? Dan bila Pemerintah memuseumkan karya-karya seniman yang mempengaruhi sejarah dan peradaban dunia ini, bukankah bangsa-bangsa di seluruh dunia akan mengacungkan jempol dan salut serta memandang  Indonesia sebagai bangsa beradab dan berbudaya tinggi yang menghargai karya-karya adiluhung buah peradaban bangsa manusia? Bukankah karya-karya para maestro seni dunia  seperti ini yang selama ini menjadi daya tarik museum-museum terkemuka di Eropa dan Amerika? Masih ingat lukisanMonalisa, karya Leonardo da Vinci yang menjadi maskot Museum Louvre, di Paris? Atau dengan Starry Night, karya Vincent Van Gogh yang menjadi magnet bagi para pengunjung Metropolitan Museum Of Art New York?

Terimakasih

Selain  kepada Prof Toeti Aziz dan Dr Werner Kraus, saya juga berterimakasih kepada  Dr Ir Muhd Nur Sangadji, DEA,  doktor lulusan Prancis, pengampu mata kuliah Ilmu Budaya Dasar di Universitas Tadulako Palu yang   memberi kesempatan kepada saya menjadi dosen tamudi Almamaternyapada 2 Desember 2014. Di depan kelas perkuliahan yang diikuti puluhan mahasiswa itulah Dr Nur Sangadji menerjemahkan surat  berbahasa Perancis yang ditulis oleh seniman terkenal Perancis, Raoul Dufy yang waktu itu menetap di Paris kepada sahabatnya Mr Perre  yang tinggal di Batavia.  Surat pribadi bertanggal 31 Desember 1949 itu menyertai lukisan yang dihadiahkan sang pelukis kepada sahabat masa kecilnya di Paris itu.

Menarik memang menelusuri dan menyimak sejarah, apalagi yang melibatkan manusia-manusia, para tokoh yang telah berjasa membentuk sejarah dan peradaban  dunia. ***

*) Penulis adalah pecinta sejarah dan pemerhati seni rupa, pengajar MK Sejarah Gereja dan Metode Penelitian  di Sekolah Tinggi Teologi Bala Keselamatan Palu, Ketua Bidang Litbang di Karsa Institute Palu. Alumni IPB Bogor, Sekolah Tinggi Teologi Bandung, Institut Pengembangan Manajemen Indonesia, Jakarta danLembagaPersDrSoetomo, Jakarta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Kasi Penertiban dan Pengawasan Bangunan Kota Palu Dipolisikan

Thu Feb 16 , 2017
Dinilai Tidak Santun Melayani Masyarakat PALU, beritapalu.NET | Dinilai tidak santun dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, Kepala Seksi Penertiban dan Pengawasan Bangunan Kota Palu M. Irpan Parampasi dilaporkan ke Polda Sulawesi Tengah, Selasa (14/2/2017). Pelapor atas hal tersebut dilakukan oleh Moh. Yusuf yang tak lain adalah salah seorang anggota kepolisian […]

lsdmlsd sdklmglsdg sdglddmgl msbbm;dsmb dlmb;dflmb zdfmbdzlfmb