Poboya Digerojok Penambang Ilegal Lagi, Jatam Sulteng Desak Penyelamatan Tahura Palu

Aktivis Jatam Sulteng berunjuk rasa mendesak penyelamatan Taman Hutan Raya Palu di depan Kantor Polda Sulteng, Selasa (31/1/2017). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

PALU, beritapalu.NET | Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) mendesak pihak terkait untuk segera mengambil langkah-langkah untuk menyelamatkan Taman Hutan Raya (Tahura) Palu yang sebagian kawasannya dimasuki oleh para penambang emas illegal di Poboya.

Desakan itu disampaikan Jatam saat menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Polda Sulawesi Tengah di Palu, Selasa (31/1/2017).

Koordinator aksi, Alkiyat dalam orasinya mengungkapkan, memang ada Perda yang mengatur tentang Tahura. Namun menurutnya, fakta lapangan berbicara lain. Jatam dalam penelusurannya memnemukan adanya aktivitas pengerukan dengan menggunakan alat berat dan mobil truk dam untuk mengangkut material yang mengandung emas ke lokasi pemurnian.

Ironisnya kata Alkiyat, karena aktivitas semua itu berada dalam kawasan Tahura Poboya. “Ini sangat jelas melanggar pasal 59 ayat (1) dan ayat (2) Perda Nomor 2 tahun 2015,” sebut Alkiyat.

Menurutnya, tindakan itu sudah masuk dalam ranah pidana pengrusakan kawasan Tahura yang dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan dan kerusakan konservasi.

Namun aneh saja lanjutnya, karena meskipun tindakan dan perusakan itu sangat nyata di depan mata, namun tidak ada langkah-langkah pihak terkait, termasuk pihak kepolisian untuk menghentikannya. Ia menyesalkan “pembiaran” itu.

Atas fakta itu, Jatam dalam aksi itu menyerukan penyelamatan Tahura dari aktivitas tambang illegal. Ia juga meminta pihak Kepolisian agar mengusut pelanggaran yang sudah terindikasi pidana itu.

“Kami mendesak Polda Sulteng untuk menghentikan aktivitas perusahaan pertambangan yang beroperasi di Poboya dan masuk dalam wliayah Tahura itu,” tandas Alkiyat lagi.

Seperti dalam beberapa pemberitaan sebelumnya, Poboya adalah salah satu wilayah pertambangan emas illegal yang ditertibkan pada 2016 lalu. Lokasi lainnya adalah Dongi-Dongi di Poso.

Dalam perjalannya, penertiban yang dilakukan oleh pihak terkait lebih ke Dongi-Dongi saja, sedangkan Poboya nyaris tidak terdengar usaha penetiibannya.

Kini, setelah Dongi-Dongi dinyatakan “tutup”, sebagian pelaku tambangnya kembali beralih ke Poboya. Bahkan di Poboya, eksplorasi oleh penambang illegal makin deras dan disinyalir diorganisir oleh perusahaan tertentu dengan mengerahkan alat berat, tentu secara illegal pula. (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here