Aktor Politik Lokal dan Media Sosial

0
227
Sisril Nardi

Oleh: Sisril Nardi

MEDIA Sosial kini telah mendapat perhatian penting dalam kehidupan politik kita belakangan ini. Ia tidak lagi dipahami sebagai media interaksi semata, melainkan Ia juga berfungsi untuk menaikkan citra sekaligus sebagai media perebutan kuasa oleh para aktor politik kita saat ini, terutama pasca Pemilu 2014 yang lalu. Namun, pemanfaatan media sosial ini hanya berlaku ketika kita membicarakan aktor-aktor politik yang berada di pusat pemerintahan (Jakarta) atau di kota-kota besar lainnya, tidak bagi mereka yang berada jauh di pelosok daerah.

Tulisan sederhana ini hanya ingin mengajak untuk memikirkan kembali potensi dari pemanfaatan media sosial oleh aktor politik lokal. dengan harapan agar relasi dengan masyarakat bisa tercipta, tanpa dipisahkan lagi oleh jarak dan waktu serta biaya tinggi seperti yang selama ini kerap terjadi.

Ruang Publik: Masyarakat dan Media Sosial

Berbicara tentang media sosial, tentu kita juga akan menyinggung ruang publik yang dimana dua orang atau lebih bertemu untuk membicarakan sebuah topik. Jurgen Habermas salah seorang filsuf dari Jerman mengatakan, bahwa ruang publik adalah media bagi warga-masyarakat untuk secara leluasa mendiskusikan hal-hal yang menurut mereka penting dibicarakan tanpa ada larangan dari siapapun. Menurutnya lagi, tempat pertemuannya pun bisa terjadi dimana saja selama itu baik bagi mereka. Kalaulah Habermas mencontohkan warung kopi dan lainnya sebagai tempat pertemuan populer saat itu, kini dengan hadirnya media sosial interaksi antar masyarakat bisa menjadi lebih mudah.

Indonesia sendiri adalah negara dengan tingkat penggunaan internet yang cukup tinggi. Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menyebutkan, bahwa pada tahun 2012 tingkat penetrasi pengguna internet di Indonesia sebesar 24,23%, kemudian meningkat di tahun 2014 menjadi 34,9%. dan pada tahun 2016 meningkat secara signifikan yakni sebesar 51,5%. Artinya, ditahun 2016 ada 132 Juta orang dari 256 Juta penduduk Indonesia telah digolongkan sebagai pengguna internet. dan lebih dari 60% nya merupakan pengakses media sosial. Potensi inilah yang kemudian menurut saya harus dimanfaatkan oleh aktor politik lokal kita.

Memang disadari, bahwa umumnya pengguna internet paling dominan bertempat tinggal didaerah perkotaan, sementara mereka yang tinggal dipelosok masih minim. Namun hal ini bukan menjadi penghalangnya, jika si aktor politik mempunyai keinginan kuat untuk memperkenalkan dirinya kepada khalayak, serta ingin memberikan gambaran akan kemampuan sumber daya manusia yang dimilikinya.

Di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung misalnya, penggunaan media sosial untuk menarik dukungan dari masyarakat oleh aktor politiknya dinilai cukup berhasil sampai saat ini. yang paling dekat untuk kita amati adalah gerilya aktor politik didalam kontestasi Pilkada DKI Jakarta. Sementara untuk di Bandung, strategi komunikasi politik lewat media sosial yang dilakukan oleh Ridwan Kamil merupakan contoh yang menurut saya baik untuk di ikuti.

Selama ini, aktor politik terutama yang berada di daerah-daerah masih saja terus-menerus menggunakan cara-cara konvensional untuk menciptakan relasi dengan masyarakat, yakni dengan hadir langsung ditengah-tengah mereka. ini tentu tidak saya salahkan, tapi jika kita mengacu pada jarak tempuh dari satu tempat ke tempat lainnya dan juga memikirkan waktu, maka tingkat takaran yang kita inginkan dalam satu pertemuan tidak bisa terpenuhi, apalagi bagi mereka yang tidak memiliki sumber dana yang besar, tentunya harus memikirkan kembali cara-cara agar komunikasi dan kampanye politiknya bisa lebih efektif. maka jawabannya saat ini adalah dengan memanfaatkan media sosial tersebut.

Epilog

Ada beberapa manfaat jika media sosial digunakan sebagai media komunikasi dan kampanye politik oleh aktor politik lokal. Pertama, dapat menciptakan kampanye kreatif. dengan fasilitasnya, media sosial dapat memungkinkan orang untuk menciptakan konten-konten menarik seperti video, meme, sampai yang berbentuk tulisan, sehingga membuat pengguna media sosial tertarik untuk melihat maupun membacanya. Seperti yang terjadi didalam pertarungan dua pasang calon pada momentum Pilpres 2014 yang lalu.

Kedua, meminimalisir dana kampanye. di daerah kita sering mendengar, bahwa seorang aktor politik lokal wajib memiliki kekuatan financial yang besar, agar komunikasi maupun kampanye politiknya bisa berjalan dengan baik. Namun pertanyannya, bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki itu atau sumber dananya kurang, maka bisa dikatakan peluang mereka relatif lebih kecil. Oleh sebab itu, pemanfaatan media sosial penting dalam hal ini. Ia akan menghadirkan nuansa persaingan yang lebih menarik, tanpa lagi memandang kekuatan ekonomi yang dimiliki oleh si aktor politik.

dan Ketiga, melawan oligarki kekuasaan. Fenomena yang demikian ini sering kita lihat didalam kontestasi politik didaerah-daerah. di mana kekuasaan daerah hanya dikuasai oleh sekelompok orang saja, mulai dari berdasarkan garis keturunan, identitas etnis, agama, dan partai politik yang sama.  maka dengan hadirnya media sosial dapat menjadi penyeimbang bagi aktor politik yang berada diluar hal-hal tersebut untuk tidak lagi pesimis. ***

*) Penulis adalah Mahasiswa S2 Departemen Politik dan Pemerintahan Universitas Gadjah Mada

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here