Gerakan Mahasiwa Era 2000-an

Oleh : Arman Seli*)

Ilustrasi

MAHASISWA merupakan agen perubahan (agent of change) dalam beberapa erature yang menyebutkan bahwa mahasiswa banyak berperan dalam perubahan banga Indonesia, seperti : Aksi tritura, gerakan 98 dan sebgainya. Saat ini di Indonesia seakan mati karena tidak ada aksi nyata dari kalangan mahasiswa.

Penulis yang juga merupakan salahsatu mahasiswa disalahsatu perguruan tinggi di koa palu melihat terjadinya dekadensi dalam gerakan mahasiswa era 2000-an, Dalam kacamata penulis menganggap tidak solidnya kelompok mahasiswa saat ini dan adanya intervensi dari beberapa kalangan.

Pergerakan mahasiswa di tingkat local bahkan nasional saat ini tidak ubahnya nyanyian tanpa di iringi musik yang tepat, Logika sederhana dari pernyataan tersebut adalah “ sering menyuarakan anti korupsi, tolak buruh asing tetapi tidak disambut baik oleh pemerintah”. Demikian itu terjadi karena saat ini banyak mahasiswa yang bertopeng idealis tetapi pada kenyataannya berbanding terbalik.

Penulis banyak mengkritisi hal ini karena sadar dengan pergerakan mahasiswa saat ini sangat lemah jika dibandingkan dengan gerakan mahasiswa dimasa orde baru dan orde lama. Konteks pergerakan mahasiswa lebih cenderung pada tingkat lobi-lobi secara person daripada aksi masa, itu semua disebabkan ada doktrin yang menganggap bahwa aksi adalah solusi terburuk.

Padahal sebagai Negara demokrasi siapapun dijamin oleh Negara untuk menyampaikan pendapat di depan umum dalam hal ini sesua dengan UUD 1945 Tentang hak asasi manusia (HAM) ayat 3 dan UU No. 9 Tahun 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat dimuka .

Mahasiswa 2000an lebih berorientasi pada akademik dari pada masukbergabung di organisasi mahasiswa,akademik penting bagi mahasiswa  tetapi bukan berarti organisasi tidak penting. Proses perkuliahan mahasiswa diajarkan ilmu pengetahuan sesuai disiplin ilmu, organisasi yang akan menjadi disiplin ilmu mahasiswa kelak ia selesai kuliah.

Mahasiswa yang cenderung mengejar indeks prestasi kumulatif (IPK) karena tanpa keterampilan (soft skill) yang baik itu juga sia-sia berjalan seimbang antara kuliah dan organisasi itu lebih baik karena nilai 4,0 dikampus akan  berbanding terbalik menjadi 0,4 diluar kampus . Hal ini juga seakan menjadi satu cara yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang lebih menkgutamakan akademik daripada organisasi dan tentunya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara gerakan mahasiswa sering berujung anti-pemerintah padahal itu salah presepsi.

Menjadi beban moral  bagi siapapun yang  menjadi mahasiswa 2000-an karena sering kali diperhadapkan dengan kondisi bangsa yang carut-marut dalam situasi politiknya, tetapi bukan menjadi alasan berhenti untuk menyuarakan kebenaran.

Melihat siklus pergerakan mahasiswa dari masa-kemasa bahwa di era saat inilah gerakan mahasiswa paling lemah dan tidak berkutik oleh rezim yang ada. Bukan bermaksud memprovokasi tetapi itu memang benar adanya.

Penulis mencatat pada pasca era reformasi 1998 pada tahun di 2000-an terhitung 2 (dua) kali issu reformasi digaungkan tetapi gagal,  karena mahasiswa sama-sama bergerak tetapi tidak bergerak sama-sama.  Dalam artikel ini penulis tidak mengajak kelompok mahasiswa lainnya untuk melakukan maker tetapi dengan kondisi bangsa saat ini akan mengarahkan hal itu pada reformasi dengan tujuan untuk memperbaiki bangsa ini.

Walaupun  ada yang mengatakan reformasi satu-satunya cara untuk memperbaiki tetapi itu juga salah satu cara untuk memperbaiki.

Seperti yang dilansir oleh penulis di Manorba.Wordpress.com Dalam rentetan sejarah pergerakan mahasiswa sejak pra kemerdekaan  atau sebelum 17 agustus 1945 ada beberapa angkatan mahasiswa dalam pergerakan di Indonesia,  Pada  20 Mei 1908 berdiri organisasi Budi Utomo. Organisasi ini didirikan di Jakarta oleh mahasiswa-mahasiswa STOVIA.

BudiUtomo lahir dengan watak yang mulai berani melawan kekuasaan Kolonialisme pada waktu itu. Hari kelahiran Budi Utomo dikemudian hari diperingati sebagai hari Kebangkitan Nasional. Tak Cuma mahasiswa Indonesia yang berkuliah didalam negeri saja, bahkan Mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang ada diluar negeri pun mulai terbuka fikirannya.

Di Belanda, Mohammad Hatta dkk mendirikan organisasi Indische Vereeninging yang kemudian berubah nam menjadi Indonesische Vereeninging pada tahun 1922. Organisasi ini awal merupakan suatu wadah kelompok diskusi mahasiswa yang kemudian orientasi pergerakannya lebih jelas dalam hal politik. Indische Vereniging berganti nama menjadi Perhimpunan Indonesia untuk mengakomodasi semua orang Hindia (Indonesia) tanpa diskriminasi.

Soetomo pada tanggal 19 oktober 1924 mendirikan Kelompok Studi Indonesia (Indonesische Studie-club). Tujuan utamanya adalah menyebarluaskan prinsip- prinsip persatuan dan solidaritas Indonesia. Indonesische Studiedub mempunyai misi untuk mendorong kaum terpelajar di kalangan orang-orang pribumi supaya memupuk kesadaran hidup bermasyarakat, pengetahuan politik, mendiskusikan masalah-masalah nasional dan sosial, serta bekerja sama untuk membangun Indonesia. Tentunya masih banyak pergerakan mahasiswa yang tidak bias disebutkan satu persatu.

Sistem pemerintahan yang tidak berkeadilan rakyat patutlah untuk dilengserkan, sekali lagi penulis bukan mengajak mahasiswa lainnya untuk makar tetapi dengan kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat patut reformasi menjadi muara perjuangan mahasiswa. Bukti pemerintah tidak berpihak kepada rakyat adalah dengan diterbitkannya PP.  No. 60 Tahun 2016 Tentang Penerimaan Negara bukan pajak (PNBK) regulasi ini secara garis besar disimpulkan bahwa adanya kenaikan pengurusan admistrasi bukan pajak, sementara itu pemerintah juga menerbitkan PP. No. 59 tahun 2016 Tentang Organiasi yang didirikan oleh warga Negara asing.

Berangkat dari 2 (dua) regulasi ini alasan penulis untuk reformasi dan masing banyak masalah lainnya yang dialami oleh bangsa indonesia. Dewasa ini berat rasanya ketika berbicara reformasi tetapi dengan bersatunya mahasiswa secara nasional dengan niat tulus, reformasi tidak bisa dipisahkan dengan jatuhnya korban  olehnya itu mari berkorban demi bangsa Indonesia.

Kebijakan pemerintah dalam regulasi diatas akan berdampak buruk ekonomi dan pembangunann karena PP. No 59 Tahun 2016, akan melegalkan orang asing mendirikan organisasi kemasyarakat (ORMAS) di Indonesia, hal ini akan menjadi pintu masuk Negara-negara luar untuk masuk ke Indonesia berdalih Ormas. Kemudia dalam regulasi lain dalam PP. 60 Tahun 2016, akan memberatkan masyarakat arus bawah di tambah lagi dengan adanya rencana konvensi premium ke pertalite secara otomatis akan berpengaruh pada kondisi perekonomian.  Mahasiswa menjadi muara perjuaangan rakyat Indonesia karena perubahan hanya bisa diwujudkan dari kesadaran tertindas, mahasiswa kelompok yag sadar akan hal itu.

Berulang kali penulis sebutkan dalam tulisan ini bahwa  bukan provokasi tetapi mengajak mahasiswa Indonesia untuk bertindak tegas melawan ketidakadilan.  Penulis memberanikan diri menulis artikel ini karena sadar akan perlindungan Negara kepada warga negaranya untuk berpendapat. Walaupun kedepannya penulis dituntut karena dianggap provokasi atau hal lainnya maka penulis siap lahir dan bathin mempertanggunjawabkannya.”Mati tertindas atau bangkit Melawan karena diam adalah bentuk penghianatan”. Demikianlah kalimat akhir dari tulisan ini.

*) Penulis adalah Ketua Ikatan Mahasiswa Kaili Unde (IMKU) dan Ketua Bidang (KABID) II Lingkar Studi Aksi dan Demokrasi Indonesia (LS ADI).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here