Pilkada Donggala; Petahana, Figur Gagal, dan pendatang Baru

Oleh : Arman Seli *)

PERTARUNGAN politik 2018 kembali dilakukan di kabupaten donggala, siapapun berpeluang menjadi pemenang karena politik adalah pertarungan gerbong dan figur. Jika di presentasekan antara gerbong atau paling sederhana penulis menggunakan istilah tim sukses (timses) dan figur maka masing-masing saling berkaitan, 50% tim sukses dan 50% figur.

Dalam konteks ini penulis berpandangan bahwa petahana (Kasman-Vera)  beberapa saat yang lalu sempat berseru akan membuka peluang pendatang baru dalam pesta demokrasi yang dihelat pada 2018 mendatang.

Berbicara peluang, penulis melihat ada 3 (tiga ) hal yang akan menjadi bentuk koalisi yaitu  : (1)  koalisi antara kasman  dengan pendatang baru ataupun figur gagal begitupun dengan vera . (2)  koalisi pendatang baru dengan figur yang gagal di pertarungan sebelumnya (3)  koalisi pendatang baru dengan pendatang baru (4) figur gagal dengan figur gagal (5) Tidak menutup kemungkinan Koalisi antara Kasman-Vera kembali digaungkan..

Menarik untuk ditelisik lebih jauh walaupun  Kasman-Vera akan pecah koalisi dalam artian mereka akan bertarung pada pilkada 2018 di kabupaten donggala hal demikian akan menjadi keputusan mereka. Pemetaan politik kabupaten donggala akan menjadi acuan para kandida untuk memenangkan pilkada 2018 olehnya itu penulis mengajak pembaca sekiranya  Belajar dari pilkada 2012 dikabupaten donggala yang di ikuti oleh delapan (8) kandidat masing-masing :

Irham T. Maskura-Alfred Kabo

Burhanuddin Lamadjido-Ta’rifin Masuara

Burhanuddin Yado-H. Idham Pagaluma

Kasman Lassa-Ver Elena Laruni

Asgar Ali Djuhaepa-Moh. Fajar Panggagau

Akris Fattah Yunus-H. Maulidin Labalo

Kasmuddin H. –Abubakar Aljufrie,dan

Dr. Anita Noerdin-H. Abd. Chair A. Mahmud

Secara geografis kabupaten  donggala terbagi atas  pantai barat,  banawa dan sekitarnya  yang dipisahkan oleh teluk palu. Hal demikian yang akan menjadi pertarungan sengit, betapa tidak masyarakat pantai barat akan menginginkan figur dari daerah mereka begitupun banawa dan sekitarnya akan menginginkan figur dari daerah mereka.

Menjadi keuntungan alamiah bagi figur yang kedua orang tuanya atau leluhur mereka dari dua daerah tersebut.  Terlepas dari hal itu adalah kemampuan figur dalam bersosialisasi sehingga elektabilitas dan kapabilitas dapat menjadi tolok ukur pemilih di kota antik tersebut. Nama diatas yang pernah bertarung pada pemilihan kepala daerah (PILKADA) 2012 diperkirakan akan kembali maju di ajang lima tahunan itu.

Dalam hal ini penulis tidak menggunakan sebuah analisis ataupun metodologi yang ketat  dalam tulisan ini tetapi paling tidak menjadi sumber bacaan bagi masyarakat donggala pada khususnya dan  sulawesi tengah pada umumya.  Beberapa kelompok tokoh , seperti : Petahana, figur gagal dan pendatang baru akan bekerja keras menawarkan program berupa visi-misi. Petahana akan berbicara data tentang capaiannya selama satu(1) periode, figur gagal akan menawarkan program begitupun pendatang baru. Olehnya itu lebih detailnya penulis akan membuat sebuah analisis sebagai berikut :

Petahana

Sebelelumya penulis sudah memberikan gambaran petahana kabupaatn donggala saat ini dengan adanya seteru antara kasman-vera besar kemungkinan kedua (2) figur tersebut akan pecah koalisi. Ketika berbicara data hasil capaian akan tumpang tindih karena masing-masing akan menglaim kerja-kerja mereka, itu tidak salah selama itu benar adanya, akan menjadi masalah kalau program atau janji di kampanye sebelumnya tidak terealisasi. Dibutuhkan analisis  petahana untuk menentukan pasangan pada pilkada 2018 di kabupaten donggala, apakah berpasangan dengan figur gagal atau pendatang baru. Penulis tidak memberikan masukkan kepada petahana, siapa yang harus menjadi pasangan tetapi itu merupakan hak preoregatif dari petahana sendiri baik kasman maupun vera yang masing-masing mencari pasangan.

Figur Gagal

Dari delapan (8)  pasangan pilkada donggala tahun 2012 diantaranya ada tujuh (7) figur gagal.  Dalam hal ini dibutuhkan analisis yang baik bagi para figur gagal dalam strategi pemenangan karena konstelasi politik  pada pemilihan sebelumnya akan berubah seiring berjalannya waktu maka masyarakat akan belajar secara alamiah dalam hal politik.  Kemampuan figur gagal mencermati kondisi donggala beberap tahun terakhir pasca pemilihan 2012 sangat dibutuhkan, tidak jarang figur gagal juga akan mennjadi pemenang salah satu contoh walikota palu Drs. Hidayat,M.Si Merupakan kali kedua dalam bursa pencalonan walikota palu alhasil menjadi pemenang pada pilkada 2015 silam di kota palu.

Pendatang Baru

Setiap kandidat mempunyai peluang menang yang sama, dibutuhkan kemampuan figur yang menjadi kandidat.  Sebelum menentukan Strategi pemenangan yang harus dilakukan oleh kandidat pendatang baru adalah mencari pasangan yang mampu sejalan sehingga pada proses pemenangan tidak begitu sulit terlebih lagi ketika terpilih menjadi bupati donggala.

Seperti penjelasan sebelumnya tentang figur gagal yang memenangkan pilkada begitupun dengan kandidat pendatang baru mempunyai peluang yang sama dalam memenangkan pesta demokrasi salah satu contoh adalah jokowi-ahok pada pilkada DKI Jakarta, walaupun kedua figur tersebut pernah menjabat walikota solo (jokowi) dan bupati bangka belitung (Ahok) dalam konstelasi politik di ibukota negara tersebut mereka adalah pendatang baru yang mampu memenangkan pertarungan sehingga pada kesimpulannya adalah petahana, figur gagal dan pendatang baru masing-masing mempunyai kesempatan dan peluang yang sama dalam memenangkan untuk menjadi bupati dan wakil bupati kabupaten donggala 2018-2023.

Melihat Kontelasi politik donggala saat ini diperkirakan kandidat akan membludak dari pilkada 2012 dengan delapan (8) kandidat akan melebihi dari jumlah sebelumnya, ada hal yang tidak bisa dilupakan yaitu lobi-lobi tingkat partai pengusung dan koalisi tetapi demikian itu juga bukan menjadi syarat mutlak dalam menentukan kemenangan kandidat. Mengingat  kemenangan Kasman-vera pada pilkada sebelumnya yang merupakan kandidat  independent (tanpa partai) ada pembelajaran besar dalam kemenangan ini.

Olehnya itu para kandidat jangan hanya  berharap kerja-kerja partai tetapi juga membentuk tim-tim pemenangan seperti : kelompok tukang ojek, petani, buruh dan sebagainya. Penulis bukanlah bertindak sebagai pengamat politik tetapi dalam hal ini mempunyai beban moral dalam hal majunya donggala kedepannya. Tulisan ini juga tidak menggiring masyarakat donggala sebagai pemilih untuk mengarahkan dukungannya kepada salah satu kandidat tetapi terlepas dari hal itu penulis ingin memberikan sumbangsi pemikiran pada pilkada 2018 kabupaten donggala baik petahana, figur gagal, pendatang baru maupun masyarakat yang menggunakan hak pilihnya.

Semoga artikel ini akan menjadi sumber bacaan yang bermanfaat, harapan besar untuk kabuaten donggala maju terus. Donggala merupakan cikal bakal lahirnya kabupaten/kota di sulawesi tengah karena dari embrio donggala sehingga lahirnya beberapa kabupaten bahkan kota palu sebagai ibukota provinsi di sulawesi tengah tidak terlepas dari donggala, itulah yang menjadi salah satu alasan penulis menerbitkan artikel ini. Donggala bukan hanya milik masyarakat yang mendiami donggala secara administratif tetapi donggala milik kita semua sebagai masyarakat sulawesi tengah.

*) Penulis adalah Ketua Ikatan Mahasiswa Kaili Unde  (IMKU) dan Ketua Bidang (KABID) II  Lingkar Studi Aksi dan Demokrasi Indonesia (LS ADI)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here