Nasi Jaha, Kuliner Khas Wajib Saat Merayakan Natal di Palu

0
219
Beras ketan dimasukkan ke dalam bambu. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

PALU, beritapalu.NET | Setiap menjelang Natal dan Tahun Baru, ratusan warga dari Desa Petimbe, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah berbondong-bondong ke Palu. Tujuannya untuk menjajakan berbagai keperluan pembuatan nasi jaha atau nasi bambu.

Mereka ke Palu tak hanya membawa bahan dagangan seperti bambu, daun pisang, dan juga aneka bahan pembuatan bumbu pelengkap yang kesemuanya di peroleh dari hutan di desanya, tetapi juga membawa serta anggota keluarganya.

Di tempat mereka berdagang di Palu, mereka saling bahu membahu. Suami memotong ruas-ruas bambu, isteri melayani pembeli yang menawar bahan sayur mayur dan anak-anak pun membantu konsumen menggotong belanjaannya.

Nasi jaha sebelum dibakar. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Tidak diketahui secara pasti sejak kapan pedagang dadakan dari Petimbe itu mentradisikan ke Palu berdagang bahan pembuatan nasi jaha setiap menjelang Natal dan Tahun Baru. Yang pasti, jalan-jalan seperti Woodward, Pattimura disesaki oleh pedagang dan pembeli untuk kebutuhan tersebut.

Beberapa waktu lalu, mereka berdagang di pertigaan antara Jalan Pattimura dengan Togean Palu. Namun kemudian mereka berpindah lagi ke pertigaan Jalan Woodward dan Jalan Maluku. Persoalan tempat berjualan menjadi keluhan bagi mereka.

Ribuan batang bambu yang dibawa para pedagang itu dari Desa Petimbe. Sejak sekitar dua atau tiga hari menjelang 25 Desember, mereka sudah berdatangan. Mereka membangun tenda-tenda untuk berjualan sekaligus sebagai tempat istirahat dan tidur.

Puncak transaksi itu adalah pada sehari menjelang Natal. Ratusan umat Kristiani berjubel di tempat tersebut untuk membeli perlengkapan pembuatan nasi bambu tersebut lengkap dengan bahan bumbunya.

“Rasanya tidak lengkap merayakan Natal tanpa nasi bambu,” ungkap Yosef, salah seorang warga yang mengaku rutin setiap tahunnya membeli di tempat tersebut.

Begitu pula dengan Rocky. Warga asal Manado ini mengaku ada yang kurang jika tidak ada sajian nasi jaha pada setiap perayaan Natal. “Ini sudah tradisi,” imbuhnya.

Menjadikan nasi jaha sebagai tradisi sebagai kuliner wajib pada setiap perayaan Natal membuat permintaan makanan khas itu melonjak tajam.

Nelce Yuliance Rumbay (52), salah seorang ibu yang menggeluti usaha pembuatan nasi jaha itu mengaku mengalami kenaikan signifikan pesanan nasi jaha-nya pada setiap menjelang natal.

“Kalau hari-hari biasa paling 10 sampai 30 ruas bambu, tapi kalau menjelang Natal, sehari saja bisa mencapai 300-an ruas,” sebutnya Nelce yang mengaku telah membuat nasi bambu itu secara turun temurun dari ibunya.

Nelce mengatakan, ia sudah memiliki langganan tetap untuk dibuatkan setiap hari. Tapi pesanan menjelang Natal membuatnya kewalahan. “Saya bahkan sampai tidak tidur agar bisa memenuhi pesanan itu. Tidak enak juga kalau ditolak karena pembeli sudah langganan,” akunya di sela-sela membuat nasi jaha itu di kediamannya di Maesa, Palu.

Nelce terpaksa mengerahkan seluruh anggota keluarganya di rumah agar bisa memenuhi seluruh permintaan nasi jaha itu. “Kasihan juga sama anak-anak, tapi mau apa lagi, mereka berharap kepada kami untuk dibuatkan nasi jaha,” sebutnya.

Nelce juga tidak tahu persis sejak kapan tradisi nasi jaha itu dimulai pada setiap Natal. Walau begitu, ia yang kini sudah berusia 52 tahun hanya meneruskan usaha nasi jaha dari orang tuanya. “Sudah lama sekali, mungkin sejak orang Manado masuk Palu,” sebutnya mengira-ngira.

Permintaan nasi jaha menurutnya tidak hanya berlangsung setiap Naatl, tetapi juga tahun baru. DI hari biasa, ia juga kerap kali menerima orderan, terutama jika ada tamu-tamu dari pemerintahan yang ingin merasakan makanan khas. (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here