“Tukang Kecap” dan Hambatan Kemandirian Bangsa

Oleh : Azman Asgar

Azman Asgar

Sebelum pikiran kita berseliweran memahami si-“Tukang kecap” alangkah baiknya saya sekedar mengajak pembaca untuk berfikir positif lebih dahulu agar tidak menimbulkan banyak persepsi yang keliru memhami si-“Tukang kecap” dalam sub judul opini ini. Pada dasarnya maksud dari “Tukang kecap” ini lebih kepada aktifitasnya, bukan soal Subjeknya. Sehingga dalam hukum bahasa indonesia kita lebih memahaminya dengan istilah Majas Alegoriatau majas yang menyatakan sebuah perihal  dengan menggunakan khiasan atau penggambaran.

Sebagai pengagum Ir.Soekarno, tentunya pengagum tidak hanya sekedar mencintai beliau atas dasar ketokohannya,tapi juga menggali setiap inci per inci pemikiran Bung Karno secara utuh dan objektif. Sehingga kita dapat memahami secara keseluruhan gagasan-gagasan beliau dari beberapa referensi yang kita jumpai dalam setiap kumpulan-kumpulan tulisan beliau.

Dalam kumpulan pidato-pidato beliau, kalimat “Tukang kecap” sering kita jumpai dalam setiap kesempatan ketika beliau berpidato didepan rakyat Indonesia, hal ini tertulis rapi dalam buku berjudul “Revolusi belum selesai” sebagai pelengkap dari pidato terakhir,pidato paling fenomenal menjelang kejatuhan beliau di MPR yang kita kenal sebagai Pidato Nawaksara pada tanggal 22 Juni 1966.Sebagai seorang yang berwatak progresif revolusioner dan jago berpidato, Soekarno juga mahir dalam merangkai setiap kata yang keluar dari mulutnya ketika berpidato dihadapan rakyatnya, bukan tanpa alasan metode ini dilakukan untuk mempermudah komunikasi antara pemimpin revolusi dan rakyat yang dipimpinnya.

“Tukag kecap’ dalam perspektif soekarno yakni orang-orang yang sering mengolah atau menggoreng-goreng kata maupun kalimat hingga keluar dari makna yang sebenarnya, bahkan tambah Soekarno  seorang yang lihai dalam beridato hal-hal yang baik dan progresif tapi justru tidak mengimplementasikan secara kongkrit dalam setiap aktifitas maupun kebijakan dalam suatu pemerintahan itu juga bagian dari kerja Si-“Tukang kecap”.

Bagaimana si-“Tukang kecap” ini dari orde baru sampai paskah Reformasi?

Ternyata tidak hanya di era pemerintahan soekarno banyak si-“Tukang kecap” bermunculan, boleh dibilang dimasa orde baru si-“Tukang kecap” ini justru menjamur disetiap kalangan dan kelompok tertentu, ditangan rezim orde baru Pancasila dipleseti sesuai kehendak rezim berkuasa,hal ini tidak lain untuk mempertahankan eksistensi ke-Otoriter-an pemerintahan saat itu. Pancasila dijadikan azas tuggal,sehingga ketika rakyat ingin mengkritik kebijakan rezim saat itu secara otomatis pula itu dianggap mengganggu eksistensi Pancasila, bahkan jalan represif dan kekerasan dengan menggunakan alat negara menjadi pilihan rezim untuk membungkam kekritisan setiap masyarakat.Kita ambil salah satu contoh peristiwa tanjung priok  yang pada dasarnya hanya soal kesalah pahaman mengartikan Pancasila, sehingga aktifitas yang sifatnya lebih ke hal Religius dikatakan sebagai usaha untuk mengganti dasar negara, begitu pula dengan partai yang berazaskan sosialis sudah pasti rezim orde baru melekatkan kata Komunisme bagi kelompok tersebut. Padahal Sosialis dan komunisme adalah hal yang sangat berbeda. Hatta,Syahrir termaksud pemikir-pemikir sosialis. Dalam setiap tulisan-tulisan Soekarno dengan jelas beliau sampaikan bahwa Pancasila itu adalah dasar atau wadah. Tidak bisa dijadikan azas tunggal. Soekarno memberikan contoh Pancasila itu ibarat sebuah gelas kosong, silahkan kalian isi dengan air,entah air berwarna merah,putih ataupun hitam yang jelas Wadahnya tetap Pancasila. Begitu juga dalam setiap partai politik silahkan berazas islam,berazas nasionalis,ataupun sosialis yang terpenting dari semua itu setiap partai harus mempunyai cita-cita yang tertuang dari setiap butiran pancasila dan bertangung jawab atas lahirnya masyarakat adil makmur.

Paskah orde baru dan reformasi 98 atau sering kita kenal dengan sebutan sistem Neoliberalisme, si-“Tukang kecap” ini justru semakin tidak terkontrol adanya. Si-“Tukang kecap” ini sering kita jumpai dimana-mana, baik di medsos,media elektronik dan lain-lainnya. Hal yang paling memprihatinkan Si-‘Tukang kecap” ini sudah menjadi aktifitas oknum pemerintahan kita,bahkan sampai pada Partai politik tertentu. Lihat saja Partai-partai politik hampir semua bicara kerakyatan,kesejahteraan tapi dalam hal kerja-kerja nyata justru tidak memberikan jawaban yang akurat dalam menyelesaikan persoalan bangsa saat ini. Mengaku progresif padahal Retrogresif, mengaku Soekarnois padahal tidak memahami pemikiran-pemikiran soekarno,mengaku Pancasilais tapi justru tidak menggambarkan perilaku pancasilais.mengaku agamais tapi mengajarkan kekerasan, bicara keutuhan NKRI hanya soal teritori semata tapi bukan soal ketahanan ekonomi nasioanal inilah sosok si “Tukang Kecap” yang disinggung oleh Soekarno. Si”Tukang kecap” pada intinya suka mengumbar cita-cita mulia entah Revolusi mental,Tri sakti,Land reform,Nawa cita namun pada dasarnya berbanding terbalik dengankerja-kerja dilapangan.

“Tukang kecap” sebagai hambatan kemandirian bangsa

setelah kita mengurai tentang “Tukang kecap”, secara  logis kita dapat berfikir sehat dan objektif bahwa kebiasaan “Tukang kecap” ini merupakan warisan kolonial yang belum bersih dalam tubuh bangsa ini. Sifat si-“Tukang kecap” ini harus di hilangkan dari setiap generasi bangsa kita, boleh dibilang  sifat “Tukang kecap” ini masih merupakan skema Devide et Impera atau politik pecah belah,aktifitas semacam itu akan menghambat kemandirian bangsa. Terbukti ulah si-“Tukang kecap” ini dapat berpotensi memporak-porandakan keutuhan bangsa, di tangan si-“Tukang kecap’ Rakyat Indonesia hanya menjadi objek semata, tidak dilibatkan dalam hal kebijakan, di tangan si-“tukang kecap” kemandirian bangsa hanya ada dilangit tidak justru di bumikan,maka tidak heran jargon Trisakti,nawacita,land reform,revolusi mental hanyamenjadi pelengkap popularitas semata. Baiknya kita menjadi generasi yang se-iya se-kata, menjadi generasi gotong royong dalam setiap problem bangsa, menyatukan setiap ucapan dan tindakan sehingga kita tidak termaksud generasi “Tukang kecap”

mari kita mejadi generasi pelurus sejarah, bukan menjadi generasi konsumtif yang hanya suka menebar Hoax tanpa mengerti dan mempelajari secara objektif terlebih dahulu. Begitu banyak sejarah bangsa ini yang di Goreng hinga gosong oleh si-“Tukang kecap” hanya demi kepuasan dan kepentingannya semata. Olehnya kita menjadi saksi dari ulah si-“Tukang kecap” tersebut, kedepan cita-cita mulia bangsa sebagai bangsa yang mandiri di bidang ekonomi,berdaulat dibidang politik dan berkepribadian dalam hal budaya jangan lagi di amanatkan ke “Tukang kecap” tadi. Meskipun kita sadar bahwa di era neoliberal seperti saat ini hampir tidak ada yang benar-benar dan pasti tidak menjadi “Tukang kecap”. Trisakti,nawacita,reforma agraria ataupun revolusi mental tidak akan mampu dijalankan secara konsisten dibawah pemerintahan yang mengadopsi sistem neoliberal. Jika sistem neoliberal masih menjadi primadona bagi pemerintahan saat ini, maka dengan sendirinya bangsa ini akan menciptakan si-“Tukang kecap” baru pada setiap generasinya, dan hanya Pasal 33 UUD 1945 lah yang akan menjadi Anti tesa dari kekejaman sistem Neoliberalisme.

*) Penulis adalah ketua komite pimpinan kota Partai Rakyat Demokratik (KPK PRD) Palu

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here