Piknik Dongeng Seharian di Festival Dongeng Anak Poso

0
269
Suasana Festival Doneng Anak Poso hari kedua di Poso, Sabtu (26/11/2016). (Foto: Institut Mosintuwu)
Suasana Festival Doneng Anak Poso hari kedua di Poso, Sabtu (26/11/2016). (Foto: Institut Mosintuwu)

POSO, beritapalu.NET | Seratusan anak-anak dari berbagai desa dan sekolah di Tentena dan Poso meramaikan Festival Dongeng Anak Poso hari kedua, Sabtu (26/11/2016).

Sedikitnya 10 dongeng dengan metode bercerita, bernyanyi dan menggunakan alat peraga origami dan tali ditampilkan Bonchie dan Yannie dari Ayo Dongeng Indonesia. Teriakan seru dan senyum mengembang pada semua anak yang beberapa diantaranya baru pertama kali datang ke Tentena.

“Saya senang sekali bisa datang dan dengarkan dongeng yang seru. Tidak ada seperti ini di tempat kami” kata Putri, dari Desa Tegalrejo yang datang dengan bus sekolah bersama teman-teman lainnya. Jana dari Dusun Buyungkatedo mengungkapkan ekspresinya “ Kami bisa mendengar dongeng sambil bernyanyi bahkan menari, kalau bisa ada seperti ini setiap hari. “Seperti piknik setiap hari” sambung Sophia, 9 tahun dari Kelurahan Pamona.

Dalam berbagai dongeng yang disampaikan, anak-anak tidak hanya mendengarkan tapi ikut terlibat menebak, menjawab, bahkan menentukan jalan cerita. Tanpa bernada menggurui, semua dongeng memiliki nilai-nilai kemanusiaan. Cerita tentang monyet yang suka menggaruk dan kelinci yang suka mengusap hidungnya mengajak anak-anak menghargai setiap kebiasaan yang unik pada orang lain selama tidak mengganggu yang lain. Demikian juga dongeng dengan alat peraga origami yang memberi pesan anak-anak untuk makan dengan tenang tidak berjalan-jalan.

“Festival Dongeng Anak Poso ini menjadi bagian dari memperingati hari anak Universal dan hari penghapusan kemiskinan anak” kata Cici Mbaresi ketua penyelenggara yang juga koordinator Project Sophia Poso. “Dengan melihat kebahagian yang terpancar dari senyum dan tawa anak-anak yang berasal dari berbagai agama dan suku, itu tepatnya yang kami harapkan menjadi masa depan anak-anak. Dongeng hanya salah satu alatnya” tambahnya.

Festival Dongeng Anak Poso diselenggarakan oleh Project Sophia Institut Mosintuwu ini merupakan yang kedua kalinya bekerjasama dengan Ayo Dongeng Indonesia didukung oleh Nutricia. Tahun kedua,  komunitas Rumah Belajar Poso yang diorganisir oleh SKPHAM dan komunitas belajar dari Panti Asuhan Yahya Tendeadongi ikut bergabung.

“Dengan dongeng, anak-anak dari berbagai desa dan wilayah bisa bergabung bersama bergembira tanpa batas dan rasa takut. Nilai-nilai yang tersampaikan dalam dongeng bisa melintasi batas identitas “ ujar Lian Gogali, pendiri Project Sophia Institut Mosintuwu. (afd/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here