Job Tomori Tutup Sementara Lapangan Tiaka

0
743
Pekerja di lapangan minyak Job Tmoroi. (Foto: Job Tomori)
Pekerja di lapangan minyak Job Tmoroi. (Foto: Job Tomori)

BATUI SELATAN, BANGGAI, beritapalu.NET | Demi mengimbangi kebutuhan energi yang semakin meningkat, maka dibutuhkan pengelolaan dan pengawasan yang tepat pada sumber-sumber energi, salah satunya adalah minyak dan gas bumi.

Joint Operating Body Pertamina-Medco E&P Tomori Sulawesi (JOB Tomori) merupakan salah satu Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) yang melakukan kegiatan eksplorasi, eksploitasi, dan produksi minyak dan gas bumi dibawah pengawasan Pemerintah RI dalam hal ini SKK Migas, dengan masa Kontrak Kerja Sama berlaku selama 30 tahun, terhitung sejak tahun 1997 sampai dengan tahun 2027.

Usaha hulu migas yang dilakukan oleh JOB Tomori dimulai sejak Desember 1997, dimana saat itu kepemilikan saham dimiliki PT Pertamina dan Union Texas Tomori Inc. Semenjak tahun 2000 sampai tahun 2010 sempat terjadi beberapa kali perubahan kepemilikan saham. Kemudian dimulai pada akhir Desember 2010 sampai dengan saat ini, struktur kepemilikan saham JOB Tomori terdiri dari PT Pertamina 50%, PT Medco E&P 30%, dan Tomori E&P Limited 20%.

Dalam melakukan kegiatan operasi, JOB Tomori memiliki visi untuk menjadi operator perminyakan dan gas yang terbaik dan terpandang di Indonesia. Untuk itu, JOB Tomori didukung dengan tenaga professional yang terus bekerja secara efektif dan efisien dengan inovasi yang berkelanjutan.

Wilayah Kerja JOB Tomori terletak di Provinsi Sulawesi Tengah, tepatnya untuk Lapangan Minyak Tiaka di Kabupaten Morowali Utara dan Proyek Pengembangan Gas Senoro di Kabupaten Banggai.

Melihat kondisi harga minyak dunia yang mengalami penurunan dan mempertimbangkan faktor keekonomian lapangan yang kurang baik, maka atas persetujuan SKK Migas, lapangan Tiaka yang telah berproduksi sejak tahun 2005, terhitung mulai bulan April 2016 dilakukan penutupan sementara (temporary shut-in). Penutupan ini dilakukan sampai keekonomian lapangan Tiaka dapat dipenuhi kembali.

Proyek Pengembangan Gas Senoro mulai dikembangkan sejak tahun 2009, kemudian diproyeksikan menjadi proyek infrastruktur minyak dan gas terbesar di Sulawesi dengan estimasi produksi sebanyak 310 MMSCFD. Proyek ini, terintegrasi secara hulu bersama-sama dengan PT. Pertamina Eksplorasi & Produksi – Proyek Pengembangan Gas Matindok (PEP-PPGM). Gas yang dihasilkan dari kedua industri hulu migas akan dialirkan kepada PT. Donggi Senoro LNG, PT. PLN untuk pembangkit listrik tenaga gas (PLTG), dan pabrik pupuk amonia milik PT. Panca Amara Utama.

Sebanyak 12 sumur pengembangan gas Senoro (10 sumur produksi & 2 sumur water disposal) telah selesai di-bor pada tahun 2014. Proyek pemboran dan pembangunan fasilitas produksi ini dilakukan secara efisien dengan biaya sesuai dengan total anggaran.

Kegiatan operasi JOB Tomori di dua kabupaten ini diimbangi dengan program pembangunan daerah dan pengembangan masyarakat yang bersifat sustainable. Berbagai program telah dilakukan JOB Tomori diantaranya dari segi perbaikan infrastruktur daerah, pelestarian lingkungan, kegiatan sosial, kesehatan, budaya, program pertanian & kelautan, serta peningkatan kapasitas masyarakat. Bentuk nyata program-program tersebut diantaranya program perbaikan 12 km jalan provinsi, bantuan PLTD untuk aliran listrik, pembangunan bronjong, perbaikan infrastuktur desa, revegetasi mangrove dan gerakan penghijauan, budidaya kepiting cangkang lunak, pertanian organik, bantuan kapal tangkap ikan bagi nelayan, pelatihan welder dan menjahit, pemanfaatan tanaman herbal, dan lain sebagainya, sehingga terjalin hubungan baik antara JOB Tomori dan masyarakat sekitar wilayah operasi.

Hubungan baik antara JOB Tomori dan stakeholder seperti Forum Komunikasi Pimpinan Daerah baik tingkat propinsi sampai dengan kabupaten, pemerintahan kecamatan sampai dengan desa, LSM dan Universitas juga tercipta secara baik melalui program komunikasi yang melibatkan peran aktif dari para stakeholder. (wan/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here