Home | Desa-Desa di Poso Bertoleransi Bukan Karena Disuruh

Desa-Desa di Poso Bertoleransi Bukan Karena Disuruh

POSO, beritapalu.NET | Meski pernah didera konflik horizontal beberapa waktu lalu, kini wajah Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah kini sudah berubah jauh. Toleransi yang dipraktikkan warganya kini mewarnai kehidupan sehari-hari.

“Keberagaman atau perbedaan yang ada dalam kehidupan sehari-hari tidak bisa dihindari. Hidup bersama dalam perdamaian dan membangun bersama keadilan adalah pilihannya. Di Poso, bertoleransi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, jadi bukan hanya bertoleransi karena disuruh, tapi pengalaman bersama masyarakat di Poso yang membuktikan sekaligus menguatkan bahwa bertoleransi adalah langkah untuk hidup bersama bagi perdamaian dan perjuangkan keadilan,” kata Direktur Institut Mosintuwu, Lian Gogali kepada beritapalu.NET terkait Hari Toleransi Internasional yang diperingati setiap 16 November.

Lian menyebutkan. praktik hidup bertoleransi dalam kehidupan sehari-hari sangat terlihat dalam kehidupan di desa. “Tidak banyak yang tahu, termasuk mungkin oleh pemerintah Kabupaten Poso, ada banyak desa-desa di Kabupaten Poso yang bisa menjadi contoh desa bertoleransi,” ungkap Lian.

Ia mencontohkan, Desa Mayoa misalnya mendapat penghargaan desa bertoleransi dari sebuah organisasi di Jepang pada tahun 2011. Dalam sebuah reportase disebutkan, Kepala Desa Mayoa menyebut alasan mengapa Desa Mayoa terpilih.

“Desa kami dinilai memiliki tiga hal yang jarang dimiliki, yaitu kebersamaan, toleransi, keamanan. Di Desa Mayoa, kebersamaan antara warga masih sangat kuat. Misalnya kebiasaan memindahkan rumah panggung yang dilakukan oleh orang Bugis, dilakukan bersama-sama. Orang Pamona, orang Toraja apapun sukunya akan bekerjasama melakukannya,” kutipnya.

Bukan hanya soal bekerjasama, di Desa Mayoa juga hubungan antar agama juga masih sangat baik. Sebagai bagian dari wilayah Kabupaten Poso yang pernah mengalami konflik, Desa Mayoa menunjukkan tingkat toleransi yang tinggi.

“Jika ada duka atau pesta, semua orang akan saling membantu apapun agamanya,” jelas Kades Mayoa yang sebentar lagi masa pemerintahannya berakhir. Demikian pula soal pembangunan rumah ibadah yang dilakukan bersama-sama.

Dalam penjelasan kepada koordinator pengorganisasian Institut Mosintuwu, Martince, kepala Desa Mayoa mengatakan seluruh warga bekerjasama untuk menjaga keamanan dalam keadaan apapun. Berpenduduk 3000 jiwa dan 700 KK, Desa Mayoa adalah salah satu desa yang didampingi oleh Institut Mosintuwu dalam program sekolah perempuan dan pengembangan usaha desa.

Selain Desa Mayoa, terdapat desa lain seperti desa Kilo dan desa Trimulya. Bahkan dalam hiruk pikuk tindakan intoleransi yang cenderung meningkat belakangan ini, semua desa-desa di Poso memiliki semangat Mosintuwu yaitu semangat kebersamaan meskipun berbeda agama dan latar belakang.

“Di Desa Kilo, warga masyarakat beragama Islam, Kristen dan Hindu serta terdiri dari berbagai suku antara lain Pamona, Bugis, Toraja, Mori, Gorontala, Jawa. Anggota sekolah perempuan Mosintuwu membangun kehidupan masyarakat di Desa Kilo bersama-sama melalui ekonomi. Ibu Nengah yang beragama Hindu, bersama ibu Laurens yang beragama Kristen bekerja bersama mengelola minyak kelapa murni dengan berkolaborasi bersama pemilik kelapa yang beragama Islam. Ketika bekerja kami tidak pandang itu agama apa , suku dari mana,” ungkap Lian.

Hal yang sama terjadi ketika terjadi perayaan Nyepi oleh warga Hindu, warga yang beragama lain tidak melakukan kegiatan besar yang dianggap mengganggu. Saat umat Muslim sedang melaksanakan ibadah puasa, warga agama lain menghormati dengan tidak makan terbuka. Sama halnya ketika perayaan Natal tiba. Seorang ibu bahkan memesan kue dari kerabatnya yang beragama Islam. “Enak soalnya, saya tidak pikir agamanya apa, tidak penting,” imbuhnya.

Desa Tangkura, Kecamatan Poso Pesisir Selatan pun demikian. Desa yang warganya dari berbagai agama dan suku ini sudah kawin mawin sejak dahulu. Asni, warga Desa Tangkura adalah satu contohnya.

Asni berkata, “Coba ditanyakan dari ujung kampung ke ujung kampung yang lain siapa disini yang tidak bersaudara. Karena itu bertoleransi bukan hal baru buat kami,” tandasnya.

Desa Tangkura selama ini dikenal mengembangkan metode komunitas dalam membangun perdamaian bahkan saat konflik Poso terjadi.

Mengembangkan desa yang bertoleransi adalah salah satu modal bagi pengembangan desa membangun. Desa membangun di Kabupaten Poso harus menjadikan kehidupan bertoleransi sebagai modal sosial dalam mempertahankan perdamaian dan memperjuangkan perdamaian. (afd/*)

beritapalu.com | Portal berita online, mengabarkan Palu - Sulawesi Tengah dan sekitarnya...