Beras Kenari dan Kamba From Kulawi, Cita Rasa Beras Sesungguhnya

0
249
Rahman dan Sem menunjukkan beras Kenari dan Kamba serta sertfikat pertanian organik pada Pameran Produk Pangan Organik di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (14/11/2016). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki/16)
Rahman dan Sem menunjukkan beras Kenari dan Kamba serta sertfikat pertanian organik pada Pameran Produk Pangan Organik di Palu, Sulawesi Tengah, Senin (14/11/2016). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki/16)

PALU, beritapalu.NET | Bagi orang kebanyakan, makan nasi dari beras “mainstream” seperti yang kita kenal sehari-hari sepertinya biasa saja. Tak ada yang istimewa kecuali menjadi makanan pokok yang mengisi perut sehari-hari.

Tapi bagaimana jika Anda disuguhi nasi dari beras varietas Kenari atau Kamba yang hanya tumbuh di tanah Kulawi, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah..? Tentu tidak ada hal yang istimewa pula jika Anda belum pernah merasakannya. Sebaliknya, jika sudah pernah mencicipinya, dipastikan ada sensasi tersendiri yang terus membekas dan membuat Anda ingin terus mengonsumsinya.

Demikianlah Sem Tamporo, ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sinar Kasih, Desa Toro, Kecamatan Kulawi mempromosikan beras yang dibawa dari desanya pada Pameran Produk Pangan Organik di Halaman Kantor Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Sulteng, Senin (14/11/2016).

Beras Kenari atau pun Kamba adalah beras varietas lokal yang hingga kini tetap ditanam oleh kelompok tani Sinar Kasih di desanya. Beras ini banyak diminta olah orang-orang tertentu yang paham soal cita rasa beras, sebutnya.

“Kalau dibandingkan dengan beras lainnya, harga beras Kenari dan Kamba in memang lebih mahal seharga Rp15.000 per kilogram. Iya mahal karena proses produksinya juga lebih  lama dari beras umumnya,” terang Sem.

Masa produksi kedua beras varietas lokal itu selama enam bulan. Beras umum yang biasanya hanya butuh waktu sekitar tiga bulan. “Jadi lebih banyak tenaga yang dikeluarkan untuk perawatan, sehingga lebih mahal,” sebutnya.

Ia menceritakan, dalam suatu waktu pernah dilakukan penelitian dan uji coba terhadap kedua beras itu untuk memperpendek masa tanamnya seperti beras lainnya. Percobaan itu berhasil dilakukan dan dapat memperpendek masa tanamnya dari enam bulan menjadi hanya tiga bulan saja. Masalahnya adalah pada cita rasa asli yang dihasilkan kedua beras itu hilang dengan masa tanam singkat seperti itu.

“Makanya sulit menggenjot produksi seperti beras lainnya, karena begitulah siklus tanamnya, harus 6 bulan sekali, kapan dipersingkat, pasti cita rasanya hilang,” jelasnya.

Lebih dari itu lanjutnya lagi, kedua beras tersebut tidak menggunakan pupuk kimiawi atau pestisida sehingga bisa disebut sebagai beras organic. Bahkan organiknya kedua bjenis beras itu dibuktikan dengan adanya lisensi organik atau sertifikat dari lembaga yang berwenang.

“Ini juga penyebabnya sehingga lebih mahal. Tapi biar mahal, tetap ada juga yang membelinya, ujarnya lagi.

Saat ini tambah Rahman Populey – salah seorang anggota kelompok tani itu, jumlah keseluruhan lahan sawah yang menanam kedua varietas beras itu di Desa Toro hanya sekitar 37 hektar dengan produksi rata-rata sebesar 5.222 kilogram per tahun.

“Tidak banyak warga yang mau menanam beras tersebut karena masa produksinya cukup lama. Tapi bagi kelompok kami, menanam padi Kenari dan Kamba bukan semata karena unsur ekonomisnya tetapi juga dalam rangka mempertahankan kelangsungan veietas ini. Kalau tidak ada yang tanam lagi, maka dipastikan beras ini akan punah,” lanjut Rahman.

Terkait pemasatan kedua beras tersebut, baik Sem maupun Rahman menyatakan, mereka memiliki jalur pemasaran sendiri, yakni orang-orang tertentu yang memang sudah “jatuh cinta” dengan beras tersebut.

“Kita tidak masuk ke swalayan-swalayan karena kami tidak punya jaringan ke sana. Lagi pula, jika permintaan terlalu banyak, kami khawatir tidak bisa memenuhinya dengan keterbatasan produski yang mampu kami sediakan,” imbuh Sem lagi.

Yang pasti lanjutnya, jika paham soal perberasan dan menginginkan cita rasa sesungguhnya terhadap produk pakan yang bernama beras, tak salah jika beras Kenari atau Kamba menjadi pilihan. Penasaran..? silakan hubungi pak Sem dan pak Rahman. (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here