Ungkapkan Rasa Syukur, Warga Desa Binangga Gelar Ritual Mavunja

0
439
Sejumlah pemuka adat melaksanakan ritual Vunja atau persembahan syukur atas hasil panen di Desa Binangga, kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Minggu (16/10/2016). Ritual adat yang sudah turun temurun dilakukan oleh etnis Kaili (suku mayoritas) di wilayah itu sebagai ungkapan syukur atas hasil panen yang cukup menggembirakan selama musim tanam yang baru saja dipanen hasilnya. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki/16)
Sejumlah pemuka adat melaksanakan ritual Vunja atau persembahan syukur atas hasil panen di Desa Binangga, kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Minggu (16/10/2016). Ritual adat yang sudah turun temurun dilakukan oleh etnis Kaili (suku mayoritas) di wilayah itu sebagai ungkapan syukur atas hasil panen yang cukup menggembirakan selama musim tanam yang baru saja dipanen hasilnya. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki/16)

SIGI, beritapalu.NET | Ratusan warga berkerumun di salah satu kebun kelapa di jalan poros Sunju-Binangga, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, Minggu (16/10/2016) sore.

Di tempat itu, sejumlah pemuka adat melakukan ritual yang disebut “Mavunja”, yaitu ritual adat sebagai ungkapan atas hasil panen yang cukup melimpah tahun ini. Ritual tersebut dilakukan oleh suku Kaili, suku asli dan mayoritas mendiami lembah Palu, Sigi, Donggala, dan parigi Moutong di Sulawesi Tengah.

Gendang tak henti-hentinya bertalu-talu mengiringi sejumlah penari yang mengelilingi tancapan pohon bambu yang berumbai ketupat di seluruh rantingnya.

Seekor kambing dikurbankan menandai ritual adat itu. Seorang pemuka adat khusyuk dengan “dade ndate” di dekat dua nampan berisi aneka makanan persembahan.

“Ini adalah ritual adat yang sudah turun temurun dilakukan pada setiap selesai panen. Alhamdulillah, hasilnya lumayan. Kita bersyukur dengan hasil panen yang banyak itu dengan ritual Mavunja ini,” terang Kepala Desa Binangga Muslimun Jamaua yang hadir langsung pada hajatan warga itu.

Selagi ritual syukur itu belum digelar, Muslimun mengatakan, akan berlaku aturan adat tidak boleh menggelar acara keluarga oleh setiap warga seperti membongkar rumah, pernikahan dan acara lainnya. “Kalau hajatan keluarga itu dilakukan sebelum ritual Mavunja dilakukan, maka akan dikenakan sanksi adat atau givu.

Kegiatan itu menurut Muslimun murni diinisiasi oleh warga tanpa campur tangan pemerintah desa, termasuk dalam hal dana kegiatan. “Semua swadaya, cukup diumumkan di masjid maka setia warga sudah tahu kewajibannya, ada yang bawa ketupat, ada makanan, termasuk kambing hasil patungan warga,” sebutnya.

Menurut Kades Muslimun, kegiatan seperti itu sudah lumrah dilakukan dan terus dipertahankan hingga saat ini meskipun tidak sedikit yang sudah meninggalkannya. “Ini adalah budaya yang mesti dilestarikan karena termasuk unik, maka beruntunglah kami di desa ini karena masih ada orang-orang tua yang terus berusaha melestarikan ritual ini,” imbuhnya. (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here