Sudah Jadi Korban Kekerasan Seksual, Diskrosing Lagi dari Kampusnya

0
173
Ilustrasi (kompas.com)
ilustrasi (kompas.com)

TENTENA, beritapalu.NET |  Malang bagi MA, perempuan 19 tahun ini sudah menjadi korban kekerasan seksual dari oknum dosennya sendiri, kini dia diskorsing lagi dari kampusnya tempat menuntut ilmu di Universitas Kristen (Unkrit) Tentena, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

Oleh Perguruan Tinggi tersebut, MA disanksi dilarang mengikuti perkuliahan karena  dianggap merusak nama baik kampus dan melanggar etika moral kekristenan  yang menjadi dasar lembaga Unkrit.

“Sanksi yang diberikan kepada saudara berupa skorsing selama 1 semester terhitung sejak tanggal 2 Oktober 2016 tanpa ada batas waktu. Selama masa skorsing saudara tidak berhak mengikuti kuliah maupun kegiatan akademik lainnya di Unkrit. Surat surat skorsing tersebut ditandatangani Rektor Unkrit, Lies Sigilipu Saino pada Minggu (2/10/2016),” kata pendamping korban Rumah Perlindungan Perempuan dan Anak Insititut Mosintuwu Tentena, Evi Tampakatu, Rabu (12/10/2016) seperti rilisnya yang diterima redaksi beritapalu.NET.

Evi mengatakan korban yang mestinya dilindungi dengan cara memberikan pendampingan bahkan membantu penyembuhan trauma hingga penyelesaian secara hukum, namun diperlakukan secara tidak adil.

Evi mengatakan, saat ini korban sangat tertekan dan ketakutan. Dia mengalami intimidasi berlapis-lapis  dari terduga pelaku yang juga dosen sekaligus ketua jurusan, pihak Dekanat, hingga Rektor.

“Terduga pelaku mengancam mahasiswanya agar menjauhi korban. Jika mereka masih bergaul, terduga pelaku mengancam akan memberikan nilai akademik yang buruk,” tambah Evi.

Sementara itu pihak Dekanat mengancam menghentikan beasiswa akademik yang semestinya diterima korban tanpa alasan yang jelas. Korban juga dilarang mengikuti ujian tengah semester meskipun kewajiban pembayaran biaya perkuliahan telah dipenuhi.

Diungkapkan, pihak kampus mengatakan, “Meskipun biaya perkuliahan korban telah dilunasi, tetapi dianggap hangus,” tutur Evi.

Pihak rektorat, kata Evi justru menjawab permasalahan dengan mengeluarkan surat skors kepada korban yang bertentangan dengan nilai-nilai humanitas yang dijunjung tinggi oleh perguruan tinggi.

Pihak kampus cenderung mengarahkan kasus kekerasan seksual menjadi pelanggaran moralitas karena korban dianggap telah melakukan perzinahan, padahal kata Evi, korban justru mengalami kekerasan seksual.

Evi mengatakan kejadian tersebut bermula saat pelaku yang juga dosen memaksa korban untuk berpacaran dengannya disertai berbagai ancaman. Hingga korban ketakutan dan terpaksa memenuhi keinginan pelaku.

Tidak cukup sampai di situ, dengan berdalih telah menjadi pacar korban, pelaku membatasi pertemanan korban, mengontrol aktivitas korban dan memaksa korban menuruti semua kata-katanya. Pelaku juga memerkosa korban.

Kekerasan seksual itu disertai ancaman, “Kalau korban tidak menurutinya, pelaku mengancam akan mempengaruhi dosen lainnya memberikan nilai yang buruk sehingga korban tidak bisa lulus kuliah,” ujar Evi.

Bahkan pelaku merekam tindakan kekerasan seksualnya itu dengan kamera video yang disembunyikan. Rekaman tersebut digunakan pelaku sebagai alat pengontrol agar korban tetap patuh kepadanya.

“Pelaku mengancam akan menyebarkan video tersebut apabila korban tidak menuruti kata-katanya,” kata Evi.

Sementara itu, Rektor Unkrit Tentena Dra. Lies Sigilipu Saino MSi yang dikonfirmasi membenarkan telah menerbitkan surat skorsing kepada yang bersangkutan. “Jadi begini, ini sudah sesuai aturan, kedua-duanya kita beri sanksi, baik mahasiswinya maupun oknum dosen itu.  Mahasiswinya kita beri skorsing sedangkan oknum dosen itu kita sudah pecat,” jelas Lies.

Pemberian sanksi skorsing pada mahasiswa dan pemecatan oknum dosen itu menurut Lies adalah sebagai bentuk komitmen Unkrit menjaga kewibawaannya sebagai perguruan tinggi berlabel Kristen. “Soal siapa yang benar dan salah dari kasus ini bukanlah ranah kami menjawabnya, itu urusan hukum dan kasusnya saya kira sudah ditangani pihak berwajib. Yang pasti, kita tidak mau lembaga pendidikan ini tercoreng karena perilaku tersebut, makanya kita beri sanksi,” tandas Rektor Lies Sigilipu Saino. (wan/*)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here