Randy Prasetya, Buktikan Bisa Suskes Di Bisnis Tanpa Harus Gadaikan Idealisme

0
140
Yajugaya (Okezone)
Yajugaya (Okezone)

BANYAK orang yang berpandangan bahwa  idealisme tidak bisa menjadi modal untuk mengejar kesuksesan yang diukur dari materi. Tapi nyatanya, ada orang-orang idealis yang membuktikan dirinya bisa sukses tanpa harus menggadaikan idealismenya.

Randhy Prasetya merupakan salah satu dari orang-orang tersebut. Pria berusia 31 tahun ini sukses mengembangkan bisnis kaus penuh idealis yang diberi nama Yajugaya.

“Yajugaya merupakan bisnis pertama yang saya geluti, namun tidak bisa dikatakan sebagai bisnis murni. Sebab masih terselit banyak idealisme di dalamnya,” tuturnya, seperti dikutip dari harianjogja.com, Kamis (6/10/2016).

Memang kaus bermerek Yujugaya terbilang berbeda dengan merek-merek kaus lainnya. Sebab produk kaus Yajugaya sangat sederhana, hanya berhiaskan sederet kata bermakna yang cukup unik dan memutar otak bahkan hati.  “Yajugaya ingin berfungsi sebagai media lain mengutarakan pikiran bagi pembacanya,” tambah Randhy.

Sejak berdiri pada 2010 lalu, setidaknya sudah ada 300 kutipan yang telah tertuang di kaus Yajugaya yang hanya hadir dalam dua warna, yakni hitam dan putih. Memang kalimat-kalimat yang dituangkannya menjadi senjata utama untuk menarik perhatian para pembeli.

Seperti “Se(n)iman, Per(t)empu(r)an”, “Jangan perkeruh situasi kecuali situasi mampu(s) tanpamu”, “Libur adalah kata kerja”, “Percintaan, Antara berkorban atau jadi korban”, “Yang tak kau jadikan rusuk Jangan kau jadikan rusak”, dan masih banyak kata-kata penyinggung hati lainnya.

 “Kalimat pertama yang diproduksi ‘seniman Ditujukan untuk yang seiman, dan yang seniman. Yang paling bagus berarti adalah kutipan yang paling sampai ke pembacanya yakni Hati tak pernah mencari, ia jatuh sendiri,” sambung Randhy.

Randy mengaku, kutipan-kutipan tersebut bukan hanya datang dari kepalanya saja, ternyata kutpian menyentil itu berasal dari teman sekitarnya. Ternyata Randhy merupakan sosok sahabat yang doyan mendengarkan keluh kesah orang sekitarnya.

 “Berawal dari ketidaksengajaan dari menjadi “tempat sampah” atau pendengar cerita sekitar. Saya ubah menjadi kutipan yang lantas diharap bisa mewakili cerita mereka. Ide semoga tak pernah habis, selagi masih ada interaksi dengan sekitar,” ujarnya.

Bangun Bisnis Dengan Modal Selembar Rp50.000 Randhy mengaku, modal dirinya ketika membangun bahtera bisnis Yajugaya hanya niat untuk memulai. Sebab menurutnya angan tanpa ingin sama juga angin.

Memang kata-kata itu terdengar naif, namun apa yang diakuinya ternyata benar adanya. Randhy memulai bisnisnya di 2010 hanya dengan modal selembar Rp50.000. Uang itu dia gunakan untuk membeli 1 kaus dan mencetak di tempat temannya dengan cuma-cuma.

 “Kemudian kaus itu dipasangkan ke badannya (temannya), saya foto untuk di-share ke sosial media dan saya beri dia kausnya sebagai jasa,” terang Randhy.

Hanya dengan langkah kecil itu memotori dirinya untuk terus berlari di ranah bisnis yang penuh persaingan. Sejak kali pertama foto kaus Yajugaya mejeng di media sosial pembelai mulai berdatangan. Kala itu dia hanya menggunakan sistem preorder, alias dia menunggu pesanan baru produksi. Dengan skema itu Randhy tak perlu menyiapkan modal awal untuk produksi.

Hingga kini skema itu terus diterapkan. Akun instagram @yajugaya juga semakin tenar bagi masyarakat dunia maya. Meskipun media sosial sangat berjasa dalam tumbuh kembang Yajugaya, Randhy juga menggunakan sistem konsinyasi untuk pendistribusian kausnya di Pulau Jawa.

Dia juga pernah membuat outlet di Pasar Santa. “Tapi sekarang sudah tutup semenjak developer menaikan harga sewa di atas kewajaran,” aku Randhy.

Kendati begitu Yajugaya masih tetap kebanjiran pesanan. Rata-rata perbulannya dia bersama 12 orang karyawannya memproduksi 300 kaus yang dibanderol seharga Rp190.000 per kaus. Bila hitung maka omzet yang diraihnya per bulan bisa mencapai Rp57 juta.

Namun sayangnya Randhy enggan mengungkapkan berapa besaran margin yang diperolehnya. “Margin dapur tak elok dibahas, bukan maksud sungkan berbagi atau tersaingi, opini pribadi hal esensial untuk membangun sebuah bisnis adalah mencipta yang belum ada alih-alih menjadi seperti,” tuturnya. (harianjogja.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here