Ingin Buktikan Tuhan Itu Ada, Masuk Kuliah di Usia 9 Tahun

0
140
William Maillis diantara mahasiswa lainnya. (Foto: post-gazette)
William Maillis diantara mahasiswa lainnya. (Foto: post-gazette)

PENNSYLVANIA, beritapalu.NET | Usianya baru 9 tahun, namun bocah bernama William Maillis ini sudah duduk di bangku kuliah dan bercita-cita menjadi seorang astrofisikawan.

Dikutip dari jurnas.com, William mulai mempelajari fisika dan ruang angkasa, ingin cepat mendapatkan gelar doktornya dan bekerja sebagai astrofisikawan.

Kebanyakan bocah seusianya masih duduk di kelas empat sekolah dasar. Namun, pada bulan Mei lalu William telah menamatkan pendidikan SMU-nya. William, yang sudah terdaftar di Carnegie Mellon University di Pittsburgh, akan memulai debutnya sebagai mahasiswa musim gugur mendatang.

Saat ini, William mengisi hari-harinya dengan mengambil kelas menulis di Community College of Allegheny County. Sebuah langkah yang ditempuh untuk memasuki jenjang yang penuh pemikiran, penelitian dan membiasakan diri untuk kehidupan mahasiswa.

“Itu tidak mengganggu saya, saya sudah terbiasa untuk itu sekarang,” jawab William seperti ditulis People saat ditanya reaksinya menjadi mahasiswa termuda.

Bocah yang tinggal di Penn Township, Pennsylvania, itu masih sama dengan bocah lain seusianya. William masih suka menikmati video game, olahraga dan pergi keluar bersama teman-temannya. Namun, William adalah orang yang berbeda saat mendatangi ruang akademiknya.

Ayahnya, Peter Maillis, adalah seorang imam Ortodoks Yunani. Menurutnya, ia tak pernah sekalipun mengarahkan minat dan bakat anaknya. Apa yang diinginkan William dalam hal akademik, Peter tak pernah mencampurinya.

“Apa pun kelas ingin dia ambil, saya tidak ada persoalan. Saya tidak ingin memaksanya,” jelas Peter.

Menurut Peter, William telah melalui berbagai prestasi akademik yang cukup mengesankan. Pada usia 21 bulan, William sudah bisa melakukan penjumlahan. Lantas pada usia 2 tahun, jelas Peter, William telah menguasai perkalian, membaca dan menulis. Pada usia 4 tahun, William sudah mampu mengausai aljabar, bahasa isyarat dan membaca Yunani. Geometri ditamatkan William pada usia 5 tahun, sementara trigonometri telah dituntaskan pada usia 7 tahun.

Guru sejarah William, Profesor Aaron Hoffman, menyaksikan kejeniusan William dan menyatakan jika William sudah selevel dengan mahasiswa-mahasiswa lainnya.

“Kami belum mengarahkan jauh dari topik Hitler, Mussolini, Holocaust, dan peperangan. Jika dia di sini untuk kuliah, dia akan mendapatkan materi tingkat perguruan tinggi,” ucap Hoffman, yang menyatakan selama pelajaran William tidak pernah mencatat, hanya mendengar, membaca dan menyerap materi yang diberikan.

William, yang menyukai fisika itu, ingin lebih memperdalam lagi teori tentang asal mula terbentuknya semesta. Ia sudah hafal dengan teori gravitasi, singularitas, atau perpindahan ruang-waktu. Namun William kurang sependapat dengan Albert Einstein maupun Stephen Hawking soal teori lubang hitam yang ternyata tidak “super massive” seperti pemikiran kedua ilmuwan tersebut.

Pada intinya, menurut William, “Saya ingin membuktikan kepada semua orang bahwa Tuhan itu ada,” katanya, dengan menunjukkan bahwa hanya kekuatan luar biasa yang mampu membentuk kosmos. (jurnas.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here