Festival Pesona Palu Nomoni; Korelasi Budaya dan Kemiskinan

Oleh: Arman Seli

Arman Seli
Arman Seli

PEMERINTAH Kota Palu akhir-akhir ini gencar mensosialisasikan kegitan Festival Pesona Palu nomoni (FPPN) baik di Kota Palu sebagai tempat penyelenggaraan maupun di beberapa daerah seperti, di Bali dan Kalimantan bahkan di beberapa bandara yang ada di Indonesia terlihat baliho.

Kegiatan yang menghabiskan milyaran rupiah anggaran itu adalah suatu bentuk korelasi budaya dan kemiskinan. Betapa tidak, kegiatan ini harus memangkas alokasi anggaran Program Daerah Pemberdayaan Masyarakat (PDPM) yang tiap kelurahannya masing-masing Rp30 juta. Kalau jumlah itu dikali dengan jumlah kelurahan di Kota Palu, itulah yang harus di pangkas dari anggaran PDPM.

Menyikapi hal ini, anggaran pemberdayaan masyarakat yang seharusnya diperuntukkan kepada  masyarakat sesuai tujuannya harus dipangkas dalam kegiatan budaya yang primordialisme. Melihat wajah Kota Palu saat ini bukan hanya orang kaili (To Kaili) tetapi ada beberapa suku lainnya yang juga secara administratif menjadi warga Kota Palu.

Berbeda halnya dengan kegiatan Festival Teluk Palu (FTP) sebelumnya pada masa Bung Cudi yang melibatkan beberapa suku lainnya yang bermukim di  Kota Palu sebagai peserta kegiatan. Pemerintah Kota Palu seakan mengajarkan perayaan budaya yang memaksakan diri sehingga tingkat kemiskinan meningkat.

Saat ini pemerintah Kota Palu harus berbenah diri terkait perayaan budaya yang berlebihan dan  berujung pada kemisikinan. Budaya yang terkesan berlebihan dan mengorbankan masyarakat kecil yang harus memangkas anggaran pemberdayaan  menjadi pertimbangan bagi pemerintah Kota Palu.

Menelisik lebih dekat masyarakat Kota Palu tentang kemiskinannya, bukan karena ada atau tidaknya lapangan pekerjaan tetapi lebih pada budaya yang berlebihan, memaksakan diri dan harus mengeluarkan anggaran besar. Ditambah lagi rencana pemerintah kota palu untuk membeli kantor perwakilan di Jakarta yang seharga Rp21 milyar dengan cara berhutang akan menjadi beban APBD Kota Palu.

*) Penulis adalah Aktivis LS ADI

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here