Menyongsong Hari Tani Nasional; Reforma Agraria Harus Dibumikan

Oleh: Azman Asgar
Asman Asgar
Asman Asgar

BEBERAPA hari lagi tepat pada tanggal 24 September adalah hari yang tidak boleh dianggap remeh bangsa ini, 24 September merupakan proses sejarah perjuangan, penyatuan dan semangat kesejahteraan bagi masyarakat Agraris. Orang sering menyebutnya HARI TANI NASIONAL, secara substansi perjuangan para petani mestinya tidak di tandai dengan hari hari tertentu,akan tetapi dengan menggelorakan semangat Hari Tani Nasional kiranya bisa mewakili keluh kesah,serta menyatukan perjuangan para petani untuk dapat berdaulat atas tanahnya sendiri.

Di moment Hari Tani Nasional saya selaku Ketua Komite Pimpinan Kota Partai Rakyat Demokratik Palu menegaskan kembali bahwa urusan Tanah merupakan hal yang Fundamental bagi keberlangsungan kehidupan bangsa ini kedepan. Meningkatnya Konflik agraria yang di ikuti dengan kerusakan lingkungan secara besar besaran merupakan bukti kongkret bahwa negara sepertinya bukan representasi dari rakyat melainkan instrumen atau lembaga “pemulus” bagi kepentingan pengembang.

Selaku ketua KPK PRD Palu saya juga mengkritik kebijakan Reforma Agraria ala Rezim saat ini,mengapa demikian? Pasalnya Reforma Agraria sejatinya tidak hanya menyoal bagi bagi tanah secara berjama’ah, akan tetapi Reforma Agraria harus di fahami secara utuh. Menjalankan Reforma Agraria berarti mengimplementasikan Pasal 33 UUD 9145. Negara mempunyai tanggung jawab besar dengan persoalan agraria di bangsa ini. Sehingga memahi Reforma Agraria tidak secara parsial. paling tidak ada 3 point penting kerangka pelaksanaan Reforma Agraria, yakni Tanah, Modal, dan Tekhnologi

Ketiga komponen itu harus benar benar terpenuhi jikalau otoritas negara ini ingin mewujudkan pelaksanaan Reforma Agraria sesuai amanat konstitusi. Kemudian ada hal yang lebih penting dari itu semua,dari poin poin penting terkait pelaksanaan Reforma Agraria tersebut tentunya bisa terlaksana secara baik jikalau Rezim Jokowi-JK tidak mengadopsi sistem Neoliberalisme atau hematnya sistem yang bergantung pada keputusan Pasar.

Yang harus kita kritisi dan kemudian menjadi pertanyaan adalah,Apakah Reforma Agraria ala Jokowi-Jk bisa terlaksana di tengah tengah rezimnya yang menganut sistem Neolib?

Saya fikir semua akan menjadi Fiktif belaka,mengapa? Karena menurutku Landasan dalam menjalankan Reforma Agraria ialah negara harus kembali kejalur Ideologi Bangsa yakni Pancasila. Karena pada dasarnya Reforma Agraria adalah penyederhanaan dalam hal implementasi cita cita mulia ideologi bangsa itu sendiri. Sebaliknya Di tangan Neoliberalisme Reforma Agraria menjadi khayalan semata, Reforma Agraria ala Jokowi-Jk hanya ada dilangit tidak sampai menyentuh Bumi.

Neoliberalisme yang kapitalistik, sejatinya akan menghambat Nawaitu Reforma Agraria pemerintahan kita.karena sekalipun negara mendistribusikan tanah ke masyarakat tanpa disadari pemerintah juga akan merampas kembali tanah itu dari tangan masyarakat, bahkan masyarakat akan kembali melepas tanahnya kepihak lain dengan alasan biaya pembelian yang menjanjikan. alasannya sederhana sebab negara tidak dalam keadaan berdaulat dalam politiknya melainkan di dikte oleh negara negara lain untuk kepentingan para korporat sehingga perampasan tanah menjamur dimana mana,kerusakan lingkungan terus saja meluas dan negarapun tak berdaya dengan para pengembang.

Hematnya, menjalankan Reforma Agraria harus serius dan benar benar untuk kepentingan Rakyat dan hal yang Penting Reforma Agraria tidak akan terlaksana di bawah naungan Sistem Neoliberal yang di anut rezim saat ini. ***

*) Penulis adalah Ketua Komite Pimpinan Kota Partai Rakyat Demokratik Palu (KPK PRD PALU)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here