Prostitusi Berkedok Spa di Jalan Tanjung Manimbaya Terbongkar

0
190
Kabid Humas Polda Sulteng AKBP Hari Suprapto (kedua dari kiri) bersama Kasubdit Renakta Ditreskrim AKBP Kelana Jaya (kedua dari kanan) menunjukkan tersangka perdagangan seks anak berkedok Spa berinisial ND (kanan) dan barang bukti di Mapolda Sulteng di Palu, Jumat (16/9/2016). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki/16)
Kabid Humas Polda Sulteng AKBP Hari Suprapto (kedua dari kiri) bersama Kasubdit Renakta Ditreskrim AKBP Kelana Jaya (kedua dari kanan) menunjukkan tersangka perdagangan seks anak berkedok Spa berinisial ND (kanan) dan barang bukti di Mapolda Sulteng di Palu, Jumat (16/9/2016). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki/16)

PALU, beritapalu.NET | Satuan Reskrim Polda Sulteng membongkar praktik prostitusi yang berkedok Spa di Jalan Tanjung Manimbaya Palu. Tak sekadar prostitusi, indikasi perdagangan seks anak juga terkuak setelah tempat tersebut dibongkar aparat, Senin (13/9/2016) lalu.

Direktur Reserse Kriminal Umum (Krimum) Polda Sulteng Kombes Pol Helmi Kwarta Kusuma Putra  mengungkapkan, Spa atau panti pijat itu hanya kedok dan melibatkan anak di bawah umur. “Ada lima perempuan dipekerjakan dan empat diantaranya masih berada di bawah umur,” beber Helmi.

Dari penggerebekan yang dilakukan, aparat mengamankan seorang yang kisi berstatus tersangka, yakni perempuan berinisial ND yang tak lain adalah pemilik Spa tersebut.

Helmi menuturkan kronologi penggerebekan hingga terungapnya kasus tersebut. Ia mengaku sebelumnya menerima informasi dari masyarakat. Dari informasi itu lalu ditindaklanjuti dan menginvestigasi Spa yang dimaksud.

Setelah dipastikan bahwa Spa tersebut melakukan praktik prostitusi dan mempekerjakan anak di bawah umur, maka tim dari Subdit IV Renakta langsung menggerebeknya. “Saat digrebek, kami temukan satu terapis (pekerja) sedang tidak berbusana dengan pelanggannya,” ungkap Helmi.

Saat dilakukan pengecekan terhadap para pekerja yang digunakan, diketahui jika ada lima orang yang bekerja di tempat tersebut. Dari ijazah dan akte kelahiran para terapis tersebut, mereka adalah korban perdagangan seks anak, masing-masing berinisial DR (16 tahun), DK (15 tahun), MV (16 tahun), MP (17 tahun), dan SR (18 tahun).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here