Dei Terkapar, Kesakitan dan Terus Berteriak Dalam Teater Tau Nisasa

0
185
Inilah para pemain yang tergabung dalam Komunitas Seni Lobo yang mementaskan Tau Nisasa di Taman Budaya Sulawesi tengah, Senin (5/9/2016) malam. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)
Inilah para pemain yang tergabung dalam Komunitas Seni Lobo yang mementaskan Tau Nisasa di Taman Budaya Sulawesi tengah, Senin (5/9/2016) malam. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

PALU, beritapalu.NET | Dei nama perempuan itu. Ia berteriak dari halaman rumahnya mengabarkan hasil kebun yang baru dipetiknya kepada ayahnya. Tapi tiba-tiba kakinya tidak bisa digerakkan sesaat akan berlari naik ke rumah panggungnya. Ayahnya yang dipanggil dengan sebutan Tata segera bergegas turun menolong Dei.

Tata tak bisa berbuat apa-apa lagi. Nasi sudah jadi bubur. Tata hanya bisa menyesali karena tidak bisa menjadi ayah yang baik bagi Dei. Dei terkapar kesakitan di bale-bale rumah. Dei telah mendapat hukuman dan siksa dari pelanggaran atas aturan adat yang melarang aktivitas berkebun ketika kerajaan sedang berduka.

Begitulah sekelumit cerita dalam drama bertajuk Tau Nisasa yang dipentaskan oleh Komunitas Seni Lobo di panggung terbuka belakang gedung pertunjukan Taman Budaya Sulawesi Tengah, Senin (5/9/2016) malam.

Pementasan teater itu adalah kedua kalinya setelah dua tahun sebelumnya juga dipentaskan dalam konsep yang berbeda.

“Konsep pertunjukan ini dikemas dengan konteks lokal, bagaimana mengemas cerita lokal dalam konsep kekinian. Penghadiran dialog-dialog aktor dalam pertunjukan ini menjadi senjata utama untuk membawa penonton masuk kedalam dimensi yang lain,” terang Ipin Cevin, sutradara sekaligus direktur Komunitas Seni Lobo.

Dikatakan, dalam pertunjukan kali ini dicoba dihadirkan kekuatan spektakel, yakni kejutan-kejutan kecil. Juga menghadirkan bentuk-bentuk vokal tradisi seperti Nompauva atau nyanyian menidurkan anak, Vaino atau nyanyian duka atau ratapan dan Valintumangi.

“Pertunjukan ini  juga menguatkan dari sisi musikal untuk menjaga suasana pertunjukan, yang kesemuanya menjadi satu bentuk kesatuan sebagai penghadiran teror agar bisa menarik penonton untuk masuk ke dalam suasana naskah yang dimainkan para actor,” imbuhnya.

Dan benar saja, konsep pertunjukan itu cukup menarik antusias pecinta teater untuk datang menontonnya. Tidak semata karena pertunjukan itu tidak dipungut biaya, tapi juga membawa nuansa baru dalam konsep berteater.

Ipin berterima kasih kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Tengah yang cukup apresiatif terhadap pertunjukannya tersebut dan berharap peran-peran instansi pemerintah ini dapat menghidupan proses kesenian dan dapat bersinergi dengan pelaku seni di daerah itu.

Juga kepada kelompok seni Polelea Kabupaten Sigi yang baru saja mengharumkan nama Sulawesi Tengah pada Parade Tari Nusantara di Jakarta sebagai tim musik yang menjadi bagian penting dari pertunjukan tersebut, termasuk actor-aktor muda berbakat yang tak henti-hentinya berproses dalam ruang-ruang kesenian. (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here