Menakar Peran Pemuda Dalam Momentum Politik

Oleh: Muh. Ikbal A Ibrahim
M. Ikbal Ibrahim
M. Ikbal Ibrahim

PEMUDA adalah sector social yang memiliki pera krusial dalam transformasi social. Pemuda juga adalah bagian tepenting dalam menggerakan lokomotif sejarah bangsa ini. Bukan tanpa alasan, sebab dalam diri setiap pemuda terletak militansi dan idealisme yang berapi-api. Pemuda dilahirkan untuk menjadi manusia yang memiliki empati yang tinggi dan ditakdirkan memiliki keresahan-keresahan akan situasi social.

Pemuda Dan Momentum Politik

Logika dasar yang harus dibangun adalah perubahan social secara esensi mesti mensyaratkan alat kekuasaan. Pemaknaan ini adalah hanya politik yang dapat menjadi jalan perubahan nasib. Kenapa politik mesti diintervensi dalam konteks perubahan nasib rakyat, sebab apolitis adalah sikap pasrah dan acuh terhadap berbagai problematika di masyarakat.

Menurut Bertolt Brecht (1898-1956) “buta terburuk adalah buta politik…dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu, dan obat, semua tergantung pada keputusan politik…dia tidak tahu akibat kebodohan politiknya lahirlah pelacur, anak terlantar, pencuri, politisi busuk, rusaknya perusahaan nasional dan multi nasional”.

Pemuda mesti memahami urgensi politik dan kekuasaan mesti menjadi lapangan perjuangan bagi pemuda. Sebab sejarah bangsa ini lahir selalu dipelopori oleh pemuda. Hampir dalam setiap peristiwa penting dibangsa ini terdapat pemuda yang memainkan peran penting. Hal ini karena pemuda di Indonesia secara historis dan sosiologis merupakan kelas tersadar dan tercerahkan dalam sejarah bangsa ini, pemuda yang pertama kali mengetahui seperti apa penindasan, seperti apa organisasi, dan bagaimana cara berjuang mengakhiri penjajahan.

Saat ini situasi semakin bergerak maju. Perubahan dan transformasi social tidak pada jembatan emas antara kolonialisme belanda dan kemerdekaan. Perubahan social saat ini momentum politik yang dalam medan tersebut kekuasaan dan nasib rakyat dipertaruhkan. Momentum politik ini memang merupakan skema politik liberal namun tujuan kita merebut kekuasaanlah yang menjadi alasan momentum politik lima tahunan ini layak di intervensi.

Dalam konteks kedaerahan momentum politik ini termanifestasi dalam Pilkada. Pilkada adalah periode tranformasi kekuasaan. Dalam moimentum ini juga setiap calon pemimpin mengemukakan visi dan misi serta program prioritasnya. Tentu branding kandidat ini selalu bak “harapan surga”, sebab tak ada calon yang tak ingin menang. Hanya saja poin penting dalam momentum khususnya pilkada adalah apa cita-cita yang dan grand design yang diinginkan oleh si Kandidat, sebab dalam ranah inilah kita akan mendiskusikan momentum politik dan tugas pemuda dalam mengintervensinya.

Tugas Pemuda adalah Mendorong Program dan Mengawalnya

Baik saya coba memulai dari seperti apa kita mengintervensi pilkada. Ada baiknya, setelah kita sepakat bahwa momentum politik layak di intervensi oleh pemuda, kita penting mendiskusikan seperti apa bentuk intervensinya. Apakah intervensinya dengan cara-cara progresif revolusioner atau justru intervensi yang pragmatis dan oportunis.

Dalam intervensi politik ada dua titik penting, pertama transformasi kekuasaan beserta perangkatnya seperti program dan gagasanya, kedua bagaimana metode dalam memastikan program tersebut terlaksana dan sejauh mana indicator kita dalam mengukur berhasil dan tidaknya program dan gagasan politik.

Aspek pertama pemuda mesti mendorong program yang tentunya selain program sektoral pemuda juga mesti mendorong program yang multi sector kerakyatan seperti petani, buruh, nelayan, dan kaum miskin lainya. Dalam mendorong program penting sebuah analisa yang mendalam akan problem yang ada dan dirasakan langsung oleh rakyat, sebab program yang terbaik bukan yang lahir dari teks buku namun lahir dari realitas kehidupan rakyat.

Program sektoral pemuda misalnya mendorong penyediaan lapangan pekerjaan, pengentasan buta huruf, pendidikan partisipatif dan berkualitas dan menaikan angka partisipasi sekolah serta pengurangan angka pengangguran. Sedangkan program multi sektoral kerakyatan dapat berupa modal dan tekhnologi serta pasar bagi petani dan nelayan, politik upah layak bagi buruh, atau membangun sebanyak mungkin industry barang pengolahan hasil bumi sebab dengan adalanya insutri pengolahan hasil bumi seperti pertanian atau kelautan dapat mendorong naiknya harga gabah petani dan nelayan dan berkoneksunsi terhadap kesejahteraanya.

Aspek kedua dan paling penting adalah mekanisme pengawalan (kontrol) pelaksanaan program tersebut setelah kandidat yang diusung berkuasa. Hal ini yang paling berat dan mesti maksimal sebab tanpa sebuah mekanisme control maka cita-cita ideal atau program yang didorong hanya akan menjadi secarik kertas tanpa realisasi. Penulis coba memaparkan sebuah pengalaman dan pelajaran politik di belahan bumi yang sangat jauh yakni Amerika Latin.

Amerika Latin saat ini menjadi contoh pemerintahan progresif, kerakyatan, dan revolusioner. Saat ini Negara-negara dikawasan ini telah mendapat prestise sebagai Negara kiri dalam arti menentang legitimasi neoliberalisme di kawasanya. Bagaimana mereka mengelolah pemerintahanya, hal ini yang menarik dari pelajaran politik ini.

Diamerika Latin konsepsi pemerintahanya adalah membangun protagonisme rakyat. Actor-aktor social dikawasan ini bukanlah partai politik namun organisasi-organisasi kerakyatan. Organisasi-organisasi mengintervensi kekuasaan tanpa sedikitpun mengucilkan diri namun justru membangun persatuan yang meluas sehingga tercipta aliansi multi sektoral. Alhasil, pemerintahan yang berkuasa merupakan represntasi berbagai elemen-lemen kerakyatan. Sebagian, merupakan komunitas-komunitas local yang secara esensi merupakan wadah rakyat dalam mengontrol kekuasaan.

Konsepsi adalah seperti yang dikatakan oleh Marta Hartnecker intelektual Amerika Latin yakni: Persamaan social, demokrasi politik, dan kedaulatan nasional. Dalam konteks demokrasi politik atau system pemerintahanya pemerintahan kiri amerika latin menempatkan rakyat sebagai kekuasaan itu sendiri. Sehingga komunitas-komunitas local dan organisasi-organisasi rakyat tadi menjadi semacam pemerintahan yang dibangun dari bawah (bottom-up). Ide dan usul serta control Negara dibangun dari akar rumput. Inilah bentuk demokrasi yang merupakan antitesa demokrasi liberal yang elitis dan birokratis. Dalam beberapa kebijakan di putuskan lewat majelis konstituante yang jajak pendapat pada seluruh rakyat apakah menyepakati atau menolak sebuah kebijakan.

Kita dapat bercermin dengan mekanisme diatas, namun tak harus mesti sama sebagai dalam segala aspek kita berbeda. Namun kita harus memaknai bahwa momentum politik harus dijadikan oleh kaum muda sebagai momentum konsolidasi berbagai organisasi kerakyatan untuk mendorong proposal besar (altenatif) yang tentunya berbasis kerakyatan. Setelah menemukan sintesa program alternative yang akan didorong pemuda dan seluruh organisasi kerakyatan lainya mesti membangun tawaran kepada setiap kandidat tentang konsepsi ini, dukungan dan tawaran ini harus bermakna dukungan rakyat bukan dukungan individu dan elit politik, sebab tanpa mengikut sertakan sector yang lebih luas seperti pemuda, petani, buruh, nelayan, dalam intervensi politik akan membelokan cita-cita kerakyatan kedalam dukungan politik transaksional, pragmatis, oportunis dan tentunya kontra revolusioner.

Pemerintahan terpilih harus membangun komunikasi dengan organisasi-organisasi kerakyatan yang mendorong program tadi, agar kemudian dukungan pemudan dan organisasi kerakyatan lainya bukan dukungan yang sebatas pada momentual saja, kemudian rakyat menjadi protagonist yang terus mengontrol dan mengkritisi kebijakan pemerintah jika ada yang telah melenceng dari cita-cita program dan gagasan saat momentum politik. Jika ini terlaksana dalam momentum politik didaerah maka kita membangun system pemeerintahan yang anti birokratisme dan membangun pemerintahan kerakyatan dengan mempraktekan demokrasi yang seluas-luasnya.

Akhir kata, bagi kaum muda dan seluruh sector termarjinalkan lainya, penting mengilhami kata-kata Simon Rodriguez berikut: Tugas Kita Hanya Dua Mencipta Atau Salah.

*) Penulis adalah Sekretaris Kerabat Muda, Wakil Ketua KPW PRD Sulawesi Tengah dan Ketua FNPBI Sulawesi Tengah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here