Gerbang festival to Donggalae, replikasi gudang kopra. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

DONGGALA, beritapalu.NET | Pria sekitar 60-an tahun itu duduk di depan rumahnya di Jalan Mutiara Ruas 401.4, Kawasan Kota Tua Donggala, Suawesi Tengah. Sembari menyeduh kopi yang malam itu sengaja dipindahkan ke teras untuk menjamu tetamunya, matanya terus awas, menatapi banyak warga yang melintas di depan rumahnya.

Sesekali ia melempar senyum kepada setiap warga yang menoleh kepadanya. Ya.. hanya senyum yang bisa ditunjukkannya. Ia tak lagi mengingat sesiapa saja orang-orang yang menoleh kepadanya itu. Maklum, telah lebih dari 35 tahun ia meninggalkan tanah Donggala, dan baru kali ini menyempatkan diri kembali ke “tanah leluhurnya”, bernostalgia dengan masa kecilnya, bernostalgia dengan kopra yang aromanya terus merangsek ke hidung dari gudang-gudang yang memenuhi sepanjang gang, bernostalgia dengan makanan tradisional di pinggir-pinggir jalan, bernostalgia dengan bangunan-bangunan tua yang kini masih berdiri di depannya.

Nostalgia kota tua Donggala. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Pria itu adalah salah seorang dari beberapa warga Donggala yang malam itu sengaja “pulang” ke Donggala untuk bernapaktilas kembali, menyusuri setiap gang kota yang pernah termahsyur dulu bernama pelabuhan Donggala. Ia sengaja pulang karena mendengar ada Festival To Donggalae yang dihelat di kawasan itu.

“Ini benar-benar mengingatkan saya pada masa kecil. Dulu disini masih banyak pohon kelapa,” ujarnya sembari menunjuk bagian lahan yang kini sudah berdiri bangunan modern. Tapi ia salut, karena beberapa bagian dari bangunan yang ada saat ini masih sama persis dengan kondisinya di masa kecilnya, meski diakui bayak yang tidak terawat lagi.

Di sudut jalan Mutiara tempatnya mengahbiskan masa kecil, ia menyebut sebuah warung berdiri. Warung rakyat itu begitu kental di kalangan anak buah kapal yang merapat di pelabuhan. Saban hari terdengar gelak tawa dan canda mereka.

Jalan Mutiara Ruas 401.4 Donggala. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Ada pula bioskop sebagai tempat hiburan bagi warga di kota itu. Saat itu, menonton di bioskop masih sangat eksklusif, hanya orang-orang tertentu yang bisa menyaksikan film-film dengan layar pancaran proyektor.

Tak kalah seru dalam ingatannya adalah pasar malam yang sangat riuh. Pasar itu disebut menjadi ruang komunikasi, bukan hanya oleh warga yang berdiam di sekitar kota Donggala, tetapi juga para warga urban tak terkecuali pekerja kapal yang sedang mampir untuk mengangkut hasil bumi.

“Kira-kira modelnya seperti inilah,” sembari menunjuk aneka barang yang diperjualbelikan di festival tersebut.

Keakraban warga urban di selasar toko. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Tapi itu dulu katanya, keriuhan kota Donggala sebagai kota pelabuhan seperti tercabut ketika pelabuhan dipindah ke Pantoloan. Itu terjadi sekitar tahun 1978. Sedikit demi sedikit, keriuhan itu kian meredup seiring dengan pergeseran secara perlahan aktivitas ekonomi.

“Kita mencoba membawa ingatan kita pada histori kejayaan kota Donggala ini,” ujar Jamrin Abubakar, salah seorang pencetus Fesitval To Donggalae itu.

Harapannya kata Jamrin yang juga banyak menulis tentang sejarah Kota Donggla ini, akan muncul kesadaran dari banyak pihak tentang pentingnya menyelamatkan dan melestarikan situs sejarah, bangunan, gedung, dan kawasan bersejarah di Kota Donggala serta lingkungan dan budayanya.

Riuh pasar malam, warga tumpah di Festival To Donggalae. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Festival tersebut terselenggara atas kegigihan Dewan Kesenian Donggala (DKD) membangun jaringan dan mewujudkan konsep festival “kenangan” tersebut. “Kita patut berbangga bahwa festival ini mendapat dukungan penuh dari warga sekitarnya. Coba anda lihat sendiri bagaimana respon warga sekitar atas kegiatan ini,” tunjuk Jamrin.

Di festival yang berlangsung 2 hingga 4 September 2016 itu, aneka sajian bisa disaksikan mulai dari instalasi video, karya seni dan pertunjukan teater. “Warga sekitar juga dilibatkan dalam penjualan makanan dan minuman khas,” sebutnya. (afd)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *