Kemerdekaan yang Belum Merdeka

Oleh : Azman Asgar

Asman Asgar
Azman Asgar

KEMERDEKAAN adalah sebuah tuntutan lahirian mahluk hidup, tidak hanya sebangsa binatang yang butuh sebuah kemerdekaan, binatang berakal (Manusia) pun menginginkan sebuah kebebasan yang hakiki dari apa yang memenjarakan batinianya sampai lahirianya. 350 Tahun dalam kandungan kesewenang wenangan membuat semangat api perjuangan para pendahulu menggelora sampai tak terkendalikan lagi, dan kemerdekaanpun menjadi hadiah sangat berharga dalam peradaban bangsa Indonesia.

Hal yang paling utama dalam perjalanan bangsa ini menuju kemerdekaan yakni Persatuan yang kokoh dan tangguh, tidak bisa dipungkiri bahwa kemerdekaan yang kita nikmati sampai sekarang lahir dari Rahim beragam macam pemikiran,beragam macam perbedaan bukan berasal dari perjuangan dan pemikiran yang homogen.

Pesta kebebasan,pesta kemenangan,pesta kemerdekaan yang terus di refleksikan setahun sekali sebentar lagi akan dirayakan, tak pandang bulu mulai dari sabang sampai merauke,dari masyarkat hulu sampai hilir tumpah ruah meramaikan kemerdekaan bangsa Indonesia yang ke 71 tahun, berbagai hal diperagakan,berbagai kreatifitas dilakukan seluruh rakyat yang menghuni daratan surganya para dunia yang dikenal dengan sebutan INDONESIA.

Merdeka…merdeka…merdeka..!!!!!!!

Kepada siapa kata merdeka ini, apakah mereka yang berjuang,kepada kita yang menikmati perjuangan? Atau kepada mahluk yang hidup di daratan Inggris,atau Amerika?

Kemerdekaan ini memang sebuah kado terindah dari Tuhan dan para pendiri bangsa kepada anak cucunya dan atas nama bangsa Indonesia. Pada Tulisan Ir.Soekarno “Mencapai Indonesia Merdeka” yang diterbitkan tahun 1933 secara jelas dan tegas di tuliskan bahwa tujuan kemerdekaan dan perjuangan Nasional  kita menuju masyarakat yang Adil dan Makmur. Tentu saja di dalamnya tidak terdapat penghisapan dan penindasan baik manusia atas manusia serta bangsa atas bangsa.

Hematnya Soekarno mau menjelaskan kepada kita bahwa kemerdekaan yang kita capai itu hanya “Jembatan Emas” menuju sebuah cita cita Mulia bangsa Indonesia, hal yang sama pula di tegaskan dalam manifesto Politik Indonesia yang di susun pada tahun 1959,  bahwa “Hari depan Revolusi Indonesia bukanlah menuju Kapitalisme dan sama sekali bukan menuju ke feodalisme, akan tetapi menuju sosialisme yang disesuaikan dengan kondisi yang terdapat di Indonesia, dengan Rakyat Indonesia,Adat istiadat,dan karakter asli yang dimiliki rakyat Indonesia.

Di Usia 71 tahun kemerdekaan bangsa Indonesia masih banyak opini tentang kemerdekaan yang merebak di tengah masyarakat kita, Bukanlah sebuah kesalahan ketika rakyat menyatakan kemerdekaannya atas kolonial, bukan pula sebuah kesalahan ketika mayoritas masyarakat Indonesia menyatakan bahwa kita belum merdeka dari bangsa kolonial, semua punya realitas yang cukup ilmiah ketika di diskusikan bahkan ketika di identifikasi sekalipun.

Kata “Merdeka” sepertinya dewasa ini dijadikan obat paling manjur untuk mematikan jiwa jiwa progresif revolusioner bangsa Indonesia, sehingga yang ada kita sebagai bangsa yang sadar akan esensi kemerdekaan, rela menggadaikan keindahan bangsa yang kita cintai, kemerdekaan bangsa kita rela disetubuhi bangsa lain, maka tidak heranlah kata “Merdeka” hanya pantas diteriakan oleh para sekelompok oligarki saja, merdekalah kalian untuk menggadaikan bangsa ini, merdekalah kalian untuk meneytubuhi bangsa ini, hingga pada akhirnya kemiskinan,kesengsaraan,kemelaratan,penderitaanlah yang kita terima sebagai konsekuensi dari persetubuhan ‘Mereka”.

71 tahun tidak lagi usia muda, 71 tahun mestinya usia untuk instrospeksi diri dan membenahi diri. 71 tahun adalah usia untuk lebih bijaksana dalam melihat kondisi objektif bangsa ini. Dari tulisan “Mencapai Indonesia Merdeka” sampai pada Manifesto Politik 1959 cukup menjadi referensi kita dalam memaknai sebuah kemerdekaan, bahwasanya merdeka itu bukan jaminan untuk sejahtera,akan tetapi ada sebuah tindak lanjut yang harus dilaksanakan bangsa ini. Bukan tugas salah satu pihak,salah satu kelompok,salah satu Partai Politik. Akan tetapi ini tugas kita bersama untuk mewujudkan cita cita mulia bangsa ini.

Merdekalah kita dilapangan ekonomi, merdekalah kita dibidang politik dan merdeka pula kita dari budaya bangsa lain.

Usia 71 tahun mestinya di refleksikan sebagai pembentukan sebuah kekuatan baru lewat persatuan nasional,71 tahun harus ditaburi semangat melawan sisa sisa pemikiran kolonialisme yang masih bercokol dalam pemikiran dan karakter bangsa Indonesia,71 tahun mestinya harus di isi dengan sebuah tindakan tindakan yang signifikan demi mewujudkan masyarakat adil makmur, bukan justru menjadikan perayaan kemerdekaan menjauh dari pemikiran yang progres yang berazaskan gotong royong

Merdekalah Indonesiaku, merdekalah bangsaku, kolonialisme belum pergi,dia lebih dewasa,dia lebih cantik,dia lebih tampan dari kolonialisme sebelumnya, dia datang dengan produk baru yang di beri nama NEOLIBERALISME. Dia lebih menjajah,dia lebih menyengsarakan bangsa kita,dia lebih memecah belah kerukunan yang kita bangun selama berabad abad. Amanah kemerdekaan harus diwujudkan secara bersama sama tanpa melihat golongan dan kelompok tertentu. Ini tugas kita bersama bergandengan tangan, bahu membahu mengantarkan bangsa ini menuju peradaban yang lebih baik dan mulia.

Selamat menyambut hari kemerdekaan bangsa Indonesia

*) Penulis adalah Mahasiswa Universitas Alkhairaat dan Ketua Komite Pimpinan Kota Partai Rakyat Demokratik Palu (KPK PRD PALU)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here