Bawa Jimat Ke Tanah Suci, Calon Haji Diperiksa Intelijen Arab Saudi

Bungkusan kertas berisi tulisan-tulisan Arab, uang lama pecahan Rp 100, dan kain yang dibawa Ahmad, JCH asal Madura. (Foto: Fathoni P. Nanda/Jawapos)

MADINAH, beritapalu.NET | Seorang jamaah calon haji (JCH) asal Madura, Jawa Timur terpaksa berurusan dengan Badan Intelijen Nasional Arab Saudi. JCH bernama Ahmad Malik Tarsawi (46 tahun) itu ditemukan membawa jamu tradisional dan jimat dalam jumlah banyak.

Ahmad tiba di Bandara Pangeran Muhammad bin Abdul Aziz Madinah pada Rabu (10/8/2016) pukul 23.06 waktu setempat. Ia adalah ketua rombongan 8 kloter 3 CJH embarkasi Surabaya.

”Koper atas nama Ahmad Malik berisi banyak sekali obat-obatan tradisional. Di dalamnya ada juga jimat atau rajah,” ujar Kepala Daker Airport Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Nurul Badruttamam Makkiy seperti dilansir jawapos.com.

Pihak keamanan bandara lantas menyerahkan pemeriksaan Ahmad ke petugas intelijen nasional. Dia didampingi petugas PPIH bernama Muhammad Abdul Mukhid. ”Proses interogasi dijalani CJH dengan bantuan pe-nerjemah,” kata Nurul.

Petugas mengungkapkan bahwa barang bawaan Ahmad masuk kategori narkoba. Pada awal pemeriksaan, Ahmad merasa panik dan mengakui bahwa jamu tradisional itu memang narkoba.  ”Pak Ahmad juga menjalani tes laboratorium untuk kelengkapan pemeriksaan,” ujar Nurul.

Tim PPIH menjelaskan bahwa yang dibawa Ahmad adalah jamu tradisional berupa sarang tawon yang dikeringkan. Jamu itu merupakan titipan orang yang tidak dikenal. ”Kami juga menjelaskan soal jimat atau rajah yang dipermasalahkan pihak bandara,” kata Nurul.

Hingga pukul 17.00 waktu Arab Saudi (pukul 21.00 WIB), Ahmad masih menjalani pemeriksaan. Dia juga dikenai denda 607 riyal (sekitar Rp 1,5 juta). ”Tempat pemeriksaan sudah dialihkan ke Kantor Pusat BIN Madinah. Mudah-mudahan bisa segera selesai dan yang bersangkutan bisa segera menjalani ibadah haji.”

Jimat yang dibawa Ahmad berupa bungkusan-bungkusan kecil dari kertas putih. Ketika dibuka, ternyata isinya lipatan-lipatan kertas lawas bertulisan huruf- huruf Arab. Ada juga uang kertas lama pecahan Rp 100. Bungkusan-bungkusan kecil itu diakui sebagai pemberian seseorang dari daerah asal.

”Katanya untuk perlindungan dari bala dan musibah yang ke- mungkinan bisa terjadi di Tanah Suci,” jelas Nurul.

Jimat atau rajah memang menjadi barang yang sangat sensitif di Saudi. Mereka menganggap membawa benda-benda itu adalah perbuatan syirik. Bahkan, juga dianggap sebagai peralatan sihir yang membahayakan orang lain. (jawapos.com)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here