Komunitas Seni Lobo Kembali Akan Pentaskan “Tau Nisasa” di Golni, 13 Agustus

0
201
Salah satu akting Iin Ainar Lawide, penari dari Komunitas Seni Lobo saat memainkan drama tari Tau Nisasa (orang terhukum) pada pertunjukan di Golni Taman Budaya Sulawesi Tengah, Palu, Kamis (25/4/2013) lalu. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)
Salah satu akting Iin Ainar Lawide, penari dari Komunitas Seni Lobo saat memainkan drama tari Tau Nisasa (orang terhukum) pada pementasan di Golni Taman Budaya Sulawesi Tengah, Palu, Kamis (25/4/2013) lalu. (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

PALU, beritapalu.NET | Drama tari tentang orang terhukum bertajuk “Tau Nisasa” kembali akan dipentaskan oleh Komunitas Seni Lobo. Pentas itu dijadwalkan pada Sabtu (13/8/2016) pukul 20.00 Wita di Golni Taman Budaya Sulawesi Tengah.

Direktur pelaksana Komunitas Seni Lobo, Arifin baderan kepada beritapalu.NET mengatakan, pementasan kembali Tau Nisasa itu dimaksudkan untuk menumbuhkan kembali semangat berteater di kalangan pecinta seni, terutama seni drama teater.

Sebelumnya, drama tari tersebut telah dipentaskan pada 25 April 2013 lalu di tempat yang sama. Pementasan kali itu adalah sebagai pra event untuk mengikuti peringatan World Dance Day di Solo yang berlangsung selama 24 jam.

Arifin menceritakan kembali latar beakang drama tari Tau Nisasa yang akan diperankan oleh penari IIN Ainar Lawide. Dalam sebuah hikayat di tanah Kaili, terjadi perkabungan dan raja yang memerintah saat itu memberlakukan aturan “Niombo” atau larangan beraktivitas.

Seluruh warga tidak diperbolehkan melakukan aktivitas dalam lingkungan kehidupan mereka, seperti membangun atau memperbaiki rumah, membersihkan lahan pertanian atau ladang, memanen serta membagi hasil panen setelah vunja berlangsung  hingga berakhir masa berkabung  selama 14 hari.

Jika dalam masa berkabung tersebut, ada yang dengan sengaja melakukan aktivitas dilingkungannya maka ia akan mendapatkan bala’ atau hukuman yang diberikan langsung kepada mereka. Menjadi mabunto, dan akan menerima kesakitan pada tubuhnya karena telah melanggar yang telah dititahkan oleh kerajaan.

Mereka yang mendapatkan hukuman ini disebut Tau Nisasa yaitu orang-orang yang mendapatkan siksa alam dikarenakan telah melanggar aturan serta ketentuan adat yang berlaku.  Mereka akan mengalami transendens pada tubuh mereka, bagian pada tubuh tertentu secara terus menerus kesakitan serasa dirasuki oleh kekuatan jahat.

Tau Nisasa akan secara terus menerus merasakan getaran pada tubuh hingga ia bisa disembuhkan oleh denda adat usai masa berkabung atau bisa jadi ia akan meninggal akibat sakit pada tubuhnya tersebut.

Dalam proses penyembuhan, pihak keluaraga diwajibkan membayar denda, yang akan dilakukan proses penyembuhhan usai masa berkabung.  Selama menjalani kesakitan pada diri juga tubuh, mereka dihibur oleh Vaino agar bisa menyesali apa yang telah mereka langgar.

Nipakabutu pasu patampasu, Niombo mpesinji ngata njumanggu. Tuda-tuda le mamala ra pupu, mesapuaka mabunto magero.

“Konsepsi ruang pada pertunjukan ini adalah tubuh penari. Sejarah tubuh perempuan tak lepas dari konsekuensi logis sejarah patriakal (laki-laki) dan ekonomi.  Tubuh menjadi tidak mengenal dirinya sendiri,” terangnya.

Ia mengajak seluruh warga untuk menyaksikan pementasan tersebut. (afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here