Semut, Gajah dan Santoso

Oleh : Lian Gogali

lian gogali
Lian Gogali

SEJAK tahun 2010-an istilah konflik sudah sangat jarang dilekatkan pada wilayah Poso, yang ada adalah wilayah paska konflik. Sebagai wilayah paska konflik, fokus isu adalah bagaimana menata kehidupan yang sudah retak sebelumnya. Namun tidak demikian yang dirasakan warga Poso di 6 kecamatan di Kabupaten Poso.

Sejak diumumkannya operasi keamanan tahun 2012 , warga desa di kecamatan Poso Pesisir Selatan, Poso Pesisir Utara serta Lore Utara Utara, Lore Peore, Lore Tengah dan Lore Timur kembali dilanda ketidakpastian. Kebun dan ladang banyak ditinggalkan, pendidikan dan kesehatan terabaikan, ketidaknyamanan dan rasa takut seperti bayang-bayang di siang hari dan hantu di malam hari, bahkan kehilangan nyawa.

Ibu Tomi dari Desa Tri Mulya, Poso Pesisir Utara menceritakan ketika anaknya terkena penyakit saat itu sedang terjadi baku tembak dengan jarak sangat dekat. Bidan, satu-satunya harapan desa untuk urusan kesehatan warga tidak bisa berkunjung karena larangan agar tidak jadi sasaran salah tembak. Ibu Adi di Desa Tangkura bercerita ibunya dan banyak warga desa lainnya beralih pekerjaan menjadi buruh sawit di kabupaten lain karena tidak bisa lagi berladang dan berkebun. Ibu Citra dan banyak yang lain menjadi pemecah batu di Sungai Puna tidak lagi bisa menengok kebun coklat yang jaraknya sesungguhnya tidak jauh dari desa.

Untuk bisa tetap memanen kelapa di kebun yang jaraknya sangat dekat, ibu Desi harus menyewa lebih banyak orang agar pekerjaan untuk hasil kopra bisa selesai lebih cepat sebelum jam 3 sore , batas waktu berkebun yang ditetapkan dalam operasi militer bagi para petani. Biasanya, pekerjaan kopra itu bisa dilakukan sendiri tanpa membiayai pekerja lain.

Hampir tak ada ditemui suasana bercengkrama antar tetangga dan saudara di malam hari karena jam malam berlaku jika mau aman. Anak-anak berulangkali diliburkan dari sekolah. Pernah juga kurang lebih 2 minggu, sebagian warga di 6 dusun mengungsi saat dilakukan latihan militer yang juga disebut ditujukan untuk mengejar kelompok radikal. Sementara itu,   beberapa warga petani menjadi sandera sebelum dibunuh dengan cara kejam.

Mereka yang Pahlawan

Seminggu ini, pemberitaan media massa di Indonesia fokus pada kabar penembakan Santoso. Santoso disebut sebagai tokoh utama dibalik aksi kekerasan di wilayah Poso selama ini. Pemberitaan menggambarkan hal yang sama, cerita kepahlawanan. Mereka yang berhasil menembak kelompok paling dicari di Indonesia ini dipuja puji sebagai pahlawan untuk keamanan Poso. Juga mereka yang membenarkan tindakan kelompok Santoso, mengagungkan tewasnya Santoso sebagai pahlawan untuk kebenaran yang mereka pahami.

Tapi sangat jarang ada yang ingin tahu, atau sekedar bertanya : “apa yang terjadi dengan warga Poso ?”

Pada kedua sudut pandang tersebut, masing-masing bisa melihat dirinya sebagai yang baik dan yang lainnya jahat. Seperti saat menonton film superhero, kita akan mudah tahu siapa yang baik dan siapa yang jahat. Di layar lebar, pertarungan yang seru dengan alat yang canggih, tentu bersamaan dengan strategi yang jitu menjadi bumbu cerita film sejenis itu.

Kedua kepentingan dengan klaim masing-masing ketika saling menyerang dan mematikan, seluruh yang dekat dan berada di dekatnya akan menjadi bagian dari merayakan kehancuran sebelum menentukan kemenangan. Masih di layar film, rumah dan gedung yang hancur di arena pertempuran adalah daya tarik dramatis atas yang diamini sebagai layak dilakukan.

Tak ada yang sempat memperhatikan apalagi peduli bahwa di rumah, di gedung dan halaman yang hancur dalam pertempuran tersebut, ada bayi yang sedang tidur, ibu yang sedang memasak, anak-anak sedang bermain bola , orang tua sedang menonton televisi, membaca, mandi, sedang belajar dan lainnya. Mereka mungkin saja dokter, arsitektur, guru, petani, nelayan, tukang masak dan sebagainya. Mereka muncul satu detik hampir kurang, karena yang akan jadi fokus kelegaan penonton adalah superhero andalan bisa menang melawan kejahatan.

Cerita-cerita ibu Tomi, ibu Citra dan lainnya ( nama disamarkan untuk alasan keselamatan ) sesungguhnya tidak ada artinya bagi media apalagi penonton. Cerita ini dianggap tidak penting untuk dilihat sebagai bagian dari sejarah pemenangan tersebut. Drama penembakan dalam sejarah operasi militer di Poso lebih layak dijadikan patron sejarah, termasuk  sejarah yang ditulis oleh Tito Karnavian, yang pernah bertugas sebagai bagian Satgas di Poso yang kemudian  menulis buku Top Secret Indonesia – Membongkar Konflik Poso, baru saja dilantik menjadi Kapolri. Cerita warga tentang berubahnya pola produksi, sistem kehidupan sosial yang berubah sering dianggap tidak penting dibandingkan dengan cerita spektakuler program operasi militer yang menyertainya.

Sejak 2012 setidaknya terdapat 10 jenis operasi keamanan yang dilaksanakan di Kabupaten Poso. Tahun 2013, terdapat operasi AMAN Maleo 1 dan AMAN Maleo 2. Tahun 2014, terdapat operasi operasi AMAN Maleo 1, AMAN Maleo 2, dan AMAN Maleo 3. Tahun 2015 ada operasi Camar Maleo 1, Camar Maleo 2, Camar Maleo 3, Camar Maleo 4, dan  tahun 2016  digelar operasi Tinombala. Tidak cukup operasi Tinombala, digelar pula Operasi Teritorial yang mengambil alih peran mensejahterakan masyarakat melalui percetakan sawah baru, bakti sosial dan bedah rumah.

Ini adalah  operasi perburuan manusia terbesar di abad 21 ini. Di luar operasi keamanan tahun 2012 hingga tahun 2015, jumlah aparat keamanan gabungan TNI dari semua angkatan plus pasukan elitnya dan Kepolisian adalah 3.000 personil. Operasi keamanan biaya 57 miliar per  tahun ini ditujukan untuk memburu kelompok Santoso yang terdiri dari kurang dari 39 orang. Bahkan, secara khusus untuk memburu Santoso, aparat keamanan dibagi dalam 63 tim. Santoso yang dalam rekam jejaknya tercatat terlibat  perampokan mobil box kelontongan di Maleali dengan dituntut 1 tahun penjara ini ditangani oleh  pasukan yang paling terlatih di Indonesia.

Disaat yang bersamaan, sejak awal konflik hingga saat ini warga Poso tak patah untuk menjalin silahturahmi antara muslim, kristen dan hindu. Warga saling menjaga dan membangun komunikasi , mengurai dendam dan mematahkan kecurigaan yang sengaja dibangun, menjalin solidaritas dengan saling mengunjungi dan menyampaikan dukungan. Anak-anak, anak muda, orang tua, para perempuan di desa dan di kota bahu membahu memastikan Poso tidak jatuh pada pandangan mainstream yang digambarkan orang pada umumnya. Ditengah semua asumsi dan pandangan negatif tentang Poso, orang-orang  Poso bersama-sama menyusun harapan untuk Poso damai dalam pembangunan desa, desa membangun.

Menanti Judul Baru

Santoso sudah tewas dengan seluruh kemegahan perayaan oleh berbagai pihak. Tapi masih ada alasan untuk meneruskan program keamanan. Nama boleh berbeda dan alasan selalu mudah untuk dicari. Panglima TNI Gatot menyampaikan setelah operasi Tinombala, personil TNI akan tetap melanjutkan operasinya dengan nama operasi Teritorial. Dan tentu masih ada nama lain selain Santoso. Ada Basri dan Ali Kalora. Basri adalah  perancang dan pelaku mutilasi tiga siswa SMU tahun 2005, penembakan Pendeta Susi di Palu, bom senter di Kawua dan lainnya. Basri bahkan tercatat sempat tertangkap, dipenjara dengan tuntutan 20 tahun penjara dan kabur saat hendak  menjenguk istrinya di Kota Poso.

Jadi,  film superhero lainnya masih akan ada sekuelnya? Lalu, cerita ibu-ibu tadi akan ditambah daftarnya lebih panjang ? Cerita yang sekali lagi dan berkali-kali diabaikan, tak dianggap penting, demi tokoh superhero berakhir indah?

Karena itulah sesungguhnya, warga Poso adalah pahlawan atas proses apapun yang memastikan keamanan demi perdamaian dan keadilan di Poso. Tentu, tidak ada kenaikan pangkat dari warga desa menjadi warga istimewa berbintang tujuh. Warga Poso masih akan tetap bersusah payah berkebun atau mencari ikan menafkahi hidup. Tidakpun  berubah jabatan warga desa di Poso menjadi lebih tinggi setelah operasi ini. Warga Poso akan berusaha menjalani kehidupannya sebaik-baiknya, sekuat-kuatnya untuk bertahan, sebelum akhirnya hidupnya beradaptasi dengan kebijakan keamanan baru  akan datang.

Penulis adalah Ketua di Institut Sintuwu, Tentena, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah.

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here