Guru Tua dan Semangat Anti Kolonialisme

Oleh:  Azman Asgar

Asman Asgar
Azman Asgar

GURU TUA, sosok nama yang tidak asing lagi di Sulawesi Tengah khususnya di daratan lembah palu. Guru Tua merupakan tokoh penuh sejarah di lembah palu. Guru Tua merupakan panggilan keseharian masyarakat Sulawesi Tengah terhadap Ad-da’I (Pendakwah) As-sayyed Idrus Bin Salim bin alwi bin saqqaf bin Muhammad bin idrus bin salim bin Husain bin abdillah bin syaikhan bin alwi bin Abdullah At-tarisi bin Alwi Al-Khawasah bin abu bakar Al jufri Al-Husain Al-Hadramiy yang mempunyai jalur keturnuan dari sayyidina Husain bin Fatimah Az-Zahra Puteri Rasulullah SAW. Sayyed Idrus  Bin Salim Aljufri lahir di Taris Hadramaut,sebelah selatan Yaman pada hari Senin Sya’ban  1309 H.

Habib Idrus Bin Salim Aljufri yang akrab di panggil Guru Tua merupakan bagian penting dari sejarah peradaban di kota palu baik dalam aspek social,ekonomi,budaya bahkan politik sekalipun. Guru Tua tidak hanya di lihat pendakwah semata, akan tetapi ada sebuah perjuangan yang harus diwarisi bagi bangsa ini. Semangat beliau dalam memperjuangkan harkat martabat manusia melalui pendidikan sangat sangat menceminkan jiwa Patriotisme dan Nasionalisme tidak peduli dimanapun dan kapanpun. Dalam setiap serpihan serpihan sejarah perjalanan hidup Guru Tua di lembah palu, begitu banyak cerita perjuangan beliau melawan tirani kesewenang wenangan,membebaskan kaum tertindas yang tidak bisa terpisahkan dari perjalanan hidup beliau.

Guru Tua Anti Kolonialisme

Sejak menginjakan kakinya di bagian timur Indonesia,Guru Tua terlebih dahulu melakukan perjuangan membebaskan tanah kelahirannya dari Koloni Inggris. Itu sebabnya sangat sempit kita melihat Guru Tua hanya dari sisi Pendakwah semata. Semangat Guru Tua dalam melawan kolonialisme sudah mendarah daging sejak beliau hidup di kota Taris Yaman. Sehingga dalam proses perlawanannya terhadap koloni Inggris mengantarkan perjalanan panjangnya ke timur Indonesia. Guru Tua  menetapkan langkah kaki dan Hatinya Di Sulawesi Tengah yang pada era Kolonialisme belanda di kenal dengan kata “Celebes”. Di lembah Palu, Guru Tua pun tidak serta merta mendapatkan suasana yang selayaknya ia dambakan, semangat Kolonialisme dunia juga merembet sampai ke Nusantara bahkan kehilir lembah Palu.

Pendidikan merupakan senjata paling ampuh di gunakan Sayyed Idrus Bin Salim Aljufri (Guru Tua) dalam memerangi kolonialisme belanda dan jepang di lembah palu saat era sebelum kemerdekaan. Tak tanggung tanggung beliau sebagai tokoh mulia dan seorang intelektual Religius terus mendedikasikan dirinya bagi kemerdekaan Indonesia khususnya Lembah palu dari kekejaman kolonialisme. Tidak hanya sekali dua kali Guru Tua mendapatkan perlakuan yang semena mena dari kolonialisme belanda maupun Jepang, tak jarang beliau mendapat pelarangan dari kolonial belanda dan jepang untuk melakukan proses belajar mengajar terhadap anak bangsa di lembah Palu. Akan tetapi karena semangat anti Kolonialisme sudah menyatu dalam sanubarinya membuat ia (Guru Tua) tetap gigih memberikan pengajaran terhadap anak bangsa yang larut dengan kebodohan pendidikan ala kolonialisme, meskipun secara sadar Beliau akan mendapatkan distorsi dari para dedengkot colonial belanda maupun jepang. Cinta dan kasih sayang yang begitu tinggi pada bangsa Indonesia khususnya Lembah Palu memberikan Spirit tersendiri bagi perjuangan Guru Tua semenjak menginjakan kakinya di daratan Lembah Palu.

BelajarDari Guru Tua

Dari setiap pengalan penggalan cerita Guru Tua harusnya tidak hanya menjadi Romantisme Revolusioner semata, akan tetapi dari Beliaulah kita belajar bagaimana seharusnya menjadikan pendidikan itu sebagai alat perjuangan dalam memperjuangkan dan menentukan peradaban yang lebih baik,Mulia dan Manusiawi. Tidak hanya memaknai cerita sejarah Guru Tua sebagai hal yang relevan dengan sejarahnya sehingga kita lupa bahwa perjuangan sosok Al Mukarram Al Habib Idrus bin Salim Aljufri (Guru Tua) merupakan perjuangan yang harus di teruskan dan kembali di perjuangkan di bangsa ini untuk menuju masyarakat adil dan makmur.

Dari Guru Tua juga kita bisa belajar arti penting Nasionalisme dan Internasionalisme, tidak hanya sifat cinta tanah air (Nation) tetapi,beliau juga mencintai dan menyebar virus kedamaian kesegala penjuru Dunia. Beliau sangat tidak mencintai kelompok kelompok yang mengutamakan etnis dan agama tertentu.karena menurut beliau pendidikan berhak di nikamati saipa saja di bumi ini. Dan sampai sekarang Sayyed Idrus bin salim aljufri (Guru Tua) telah mendirikan sebuah lembaga pendidikan ALKHAIRAAT untuk membantu menuntaskan kebodahan sesuai dengan Amanat Negara Indonesia.

Tidak sampai disitu, dari beliau pula kita bisa memahai esensi beragama yang sebenarnya, bahwa agama (islam) anti dengan penjajahan,ketidak adilan,ketimpangan yang di ciptakan oleh sekelompok umat manusia lainnya, dari beliau pula kita memahami islam Rahmatan lil alamin

Tulisan ini merupakan sumbangsi pemikiran dan terima kasih saya terhadap Al Mukarram Habib Idrus Bin Salim Aljufri (Guru Tua) menjelang peringatan HAUL Guru Tua.

Penulis : Ketua Komite Pimpinan Kota Partai Rakyat Demokratik Palu (KPK PRD PALU) dan Mahasiswa Universitas Alkhairaat Pusat Palu (Unisa)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here