Halal Bihalal Bukan Hal Wajib Dilaksanakan Pascalebaran

0
220

Dari Coffee Morning Pemuda Muhammadiyah

Narasumber Ustad Abdul Hanan (tengah) diapit Ketua Pemuda Muhammadiyah Fery ISA Abdullah dan Pakar Tarjih PWM Sulteng Ustad Muhammad Djaiz pada Kegiatan Coffee Morning di Masjid al-Muthahirin jalan Bukit Sofa, Talise Palu, Minggu (10/7/2016). (Foto:istimewa)
Narasumber Ustad Abdul Hanan (tengah) diapit Ketua Pemuda Muhammadiyah Fery ISA Abdullah dan Pakar Tarjih PWM Sulteng Ustad Muhammad Djaiz pada Kegiatan Coffee Morning di Masjid al-Muthahirin jalan Bukit Sofa, Talise Palu, Minggu (10/7/2016). (Foto:istimewa)

PALU, beritapalu.NET | Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Tengah, Minggu (10/7), menggelar kegiatan Coffee Morning pertama, pasca Ramadan yang dipusatkan di Masjid al-Muthahirin di jalan Bukit Sofa Kelurahan Talise Kecamatan Mantikulore, Palu.

Kegiatan tersebut mengangkat topik Halal Bihalal, dengan Narasumber Ustad Abdul Hanan. Hadir pula saat itu, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Sulteng, H Ahmad Dahlan MS, pengurus Muhammadiyah, Pengurus Aisyiyah, Pengurus Pemuda Muhammadiyah, Pengurus Nasyiyatul Aisyiyah, dan Warga, serta Jamaah Masjid al-Muthahirin.

Dalam paparannya, Abdul Hanan mengatakan, bahwa kegiatan Halal Bihalal adalah kegiatan positif yang membudaya di Indonesia. Namun harus dipahami bahwa kegiatan tersebut bukanlah bersumber dari Rasulullah SAW, karena kegiatan semacam Halal Bihalal itu tidak ada di masa Rasulullah Muhammad SAW, bahkan hanya ada di Indonesia.

Kegiatan Halal Bihalal tersebut menurut Abdul Hanan adalah kegiatan Nasional yang dipelopori oleh Presiden RI pertama Ir Soekarno dalam mempersatukan tokoh-tokoh bangsa melalui wadah silaturahim yang kemudian dikenal dengan sebutan Halal Bihalal. “Maka itulah umat Islam, jangan sampai salah memahami istilah Halal Bihalal ini,” jelas Hanan.

Dia menyebutkan, dalam kegiatan Halal Bihalal yang digagas oleh Presiden Soekarno pasca kemerdekaan itu, ditujukan untuk seluruh umat beragama, khususnya tokoh-tokoh bangsa tanpa melihat latar belakang agama, sehingga tidak ada kaitannya dengan Lebaran atau Ramadan. Maka itulah, Hanan mengingatkan umat Islam, khususnya kepada generasi muda, agar tidak salah dalam memahami istilah Halal Bihalal tersebut.

“Jangan sampai Halal Bihalal ini menjadi semacam kegiatan wajib pasca Ramadan, seolah-olah itu Sunnah, padahal ini hanya ajang untuk silaturahim guna mempersatukan tokoh-tokoh bangsa tanpa melihat latar belakang agamanya,” tandasnya.

Hal senada disampaikan Wakil Ketua Muhammadiyah Sulteng Ustad Muhammad Djaiz yang juga pakar Tarjih ini, bahwa kegiatan Halal Bihalal harus dipahami dengan baik, agar tidak menjadi semacam kegiatan wajib atau kegiatan bersifat ibadah, karena tidak ada tuntunannya dalam ajaran Islam.

Sementara Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah Sulawesi Tengah, Fery Isa Abdullah mengatakan, kegiatan Coffee Morning kali ini, sengaja mengangkat topik Halal Bihalal agar meluruskan pemahaman tentang istilah Halal Bihalal yang setiap tahun digelar dan menjadi budaya masyarakat Indonesia.

“Sesungguhnya kegiatan dan istilah Halal Bihalal itu hanyalah istilah berlaku di Indonesia, meskipun memang secara bahasa, Halal Bihalal adalah kata majemuk dalam bahasa Arab dan berarti halal dengan halal atau sama-sama halal. Akan tetapi istilah ini tidak dikenal dalam kamus-kamus bahasa Arab maupun pemakaian bahasa sehari-hari di masyarakat Arab,” jelasnya.(afd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here